SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Jakarta Masuk Deretan Kota Digital

  • Reporter:
  • Selasa, 6 Februari 2018 | 18:51
  • Dibaca : 378 kali
Jakarta Masuk Deretan Kota Digital

JAKARTA – Delapan kota di Asia menempati peringkat 10 besar dalam kepercayaan bisnis lingkungan digital dalam laporan Connecting Commerce, Economist Intelligence Unit (EIU).

Dominasi kota-kota Asia di posisi pun cak pa da pemeringkatan tersebut mem buk ti – kan bahwa kemampuan negara-negara ber kembang dalam me n cip ta kan ling – kung an digital yang kondusif. De lapan kota itu ialah Bangalore di urut an per ta ma, Mum bai (3), New Delhi (4), Bei jing (5), Manila (6), Shanghai (7), dan Jakarta (8). Ada pun di urutan kedua ada lah San Fran – cis co, sedangkan Lon don dan Madrid berada di urutan sem bi lan dan sepuluh. Ini merupakan tahun keempat EIU me rilis laporan yang mengukur ke perca yaan bisnis lingkungan digital pada level kota.

Adapun riset sebelumnya meng ukur kepercayaan bisnis pada ting kat negara. Laporan EIU itu di tu gas – kan oleh organisasi telekomunikasi dan tek nologi Telstra yang berbasis di Aus – tralia. Telstra merupakan mitra dari PT Tel kom Indonesia yang bersama-sama mem b entuk Telkomtelstra. Peringkat tersebut disusun ber da sar – kan Barometer Kota Digital yang men da ta peringkat 45 kota ber da sar kan lima ka – tegori utama terkait kinerja bis nis, yakni ino vasi dan en trepre neur ship, lingkungan ke uangan, orang dan skill,pengembangan te k nologi baru, ser ta infrastruktur tek no – lo gi informasi dan komunikasi.

Laporan itu menilai kepercayaan 2.600 eksekutif bisnis di lingkungan kota dan kondusivitas kota itu dalam men dukung ambisi digital perusahaan. Pe ringkat itu juga menegaskan kaitan an tara dukungan perusahaan pada eko – no mi digital dan lingkungan kota tem – pat mereka berada. Laporan itu juga mem beri pemahaman unik pada kon di – si transformasi digital global, memb an – tu orang memahami bagaimana satu ko – ta dapat mendukung upaya trans for ma – si digital perusahaan. ”Meskipun kota-kota di negara maju di Asia memiliki rekor kepercayaan bisnis lebih rendah, bukan berarti kota-kota seper ti Hong Kong dan Tokyo tidak me nyedia kan lingkungan kondusif bagi transfor ma si digital,” ungkap laporan tersebut.

Menurut laporan itu, ting ginya tingkat kepercayaan di kotakota berkembang itu ka re na opti misme umum dan an tu siasme me n uju potensi per tum buhan di kota-kota negara ber kem – bang. Temuan utama da lam la – por an itu ialah ke sen jang an skill yang menjadi dua tan tangan ter – be sar bagi per usa haan untuk tra ns formasi di gital, selain ham batan keuangan. ”Ini menunjukkan bahwa lem baga pendidikan lokal ha – rus melakukan upaya lebih da – lam menyuplai talenta digital,” pa par laporan tersebut. Dua skill utama yang diperlukan un – tuk transformasi itu ialah terkait skill keamanan digital dan ana lisis data canggih.

Adapun skill seperti networking juga men jadi prioritas. Direktur Boston Co n sul – ting Group (BCG) India Alpesh Shah menyoroti tiga kota India yang menduduki peringkat em pat besar dalam daftar ter – se but. Menurutnya, tiga kota itu mendorong beragam je ja – ring formal dan informal, fo – rum dan komunitas tempat pa – ra entrepreneur. ”Forum ter se – but juga memungkinkan ma – na jer teknologi dan lainnya ber te mu setiap hari,” ucapnya. Menurut studi terbaru, di In – d ia inkubator dan ak se le ra tor bis nis berbasis digital be r jum – lah lebih dari 140 atau jum lah ter tinggi di dunia setelah Chi na dan Amerika Serikat (AS).

”40% da ri itu berpusat di Ba ngalore, Mum bai, dan New De l hi,” kata Shah dalam la por an tersebut. Shah secara khusus memuji an tusiasme lingkungan en tre – pre neurship digital di Ban ga – lore. ”Ini mirip Silicon Valley di Asia,” ujarnya. Dia menambahkan, di kotako ta yang masuk deretan ling – kung an digital tersebut se jum – lah perusahaan besar secara ak tif bermain di ekosistem l okal, mulai dari raksasa te k nologi Amazon, Google, Mi crosoft, SAP, Qualcomm, dan Cis co.

Di Banglore misalnya para rak sasa teknologi itu menspon sori akselerator termasuk per usahaan multinasional asal In dia seperti Tata Group dan Ma hindra & Mahindra. Kemunculan perusahaanper usahaan berbasis digital ju – g a menumbuhkan struktur dan keterlibatan perusahaan mul tinasional di kota itu, ter – masuk kehadiran perusahaan ven ture capital (VC) dan per – bank an investasi. Kondisi te r – se but membantu menjadikan Ba n galore sebagai magnet bagi ta lenta teknologi di India. Shah menyebut maraknya ling kungan digital di tiga kota In dia itu memicu en tre pre neu r – ship pada para pebisnis.

Meski de mikian, kondisi ini tidak di – alami pemerintah lokal. ”Tak ada yang dilakukan se – ca r a proaktif oleh pemerintah un tuk membantu trans for ma – si digital. Hal terbaik yang di la – ku kan pemerintah di sana ialah men jaga jarak,” papar Shah. Kebijakan dan inisiatif pe – me rintah kota memang me mi – liki pengaruh dalam ling kung – an untuk transformasi digital. Am sterdam Smart City (ASC) men jadi contoh model ke m i – tra an publik-privat untuk di gi – ta lisasi kota. Pendiri firma kon – sul tan bisnis kecil Start up – 4City, Daria Batukhtina, meng – aku yakin kesuksesan ASC ka – re na langkah pe me rin tah kota se bagai kepala fa si li t a tor me – nya tukan semua pi hak da lam trans formasi digital dan mem – buat mereka bekerja sama.

Direktur dan CEO Institute of Systems Science di National Uni versity of Singapore Chan Meng Khoong yakin peran ak – tif pemerintah dalam me n – spons ori dan mendanai inov a – si digital serta entrepreneurship me ningkatkan derajat ke per – ca yaan antara pemerintah dan sek tor swasta. Presiden Direktur Tel ko m – tel stra Erik Meijer me n je las – kan, laporan itu menunjukkan ting ginya kepercayaan ter ha – dap Jakarta yang masuk dalam pe ringkat 10 besar. Menurut Me i jer, agar transformasi di gi – tal sukses, dukungan eksternal yang kuat diperkuat.

”Sangat menjanjikan me lihat para pemimpin bisnis di Ja kar ta optimistis tentang ke – mam puan kota mereka mem – ban tu mem bu ka potensi di g i – tal or ganisasi me reka. Be be rapa op timisme ini tam pak nya mun cul dari per tum buh an eko sis tem digital Ja kar ta, serta pe me rin tahan na sio nal yang ra m ah bis nis ser ta se rius men do rong en trepreneur ship d i gi tal,” kata Me ijer, dikutip digitalnewsasia.com. Meijer menambahkan, se – la ma 10 tahun terakhir In done sia dan Jakarta khususnya me miliki perkembangan ba – gus dalam pembangunan sektor bisnis digital. Jika kota-kota besar lain s eper ti Tokyo, Hong Kong, dan Si ngapura memiliki indeks keper cayaan yang lebih rendah, itu karena kota-kota tersebut te lah mencapai kemajuan besar sehingga ekspektasi para pe mimpin bisnis menurun.

”Hasil laporan ini m e nun – juk kan posisi Jakarta sebagai pu sat ekosistem bisnis digital di Indonesia sehingga tidak da pat di remehkan dan kita perlu men dorong posisi ini lebih lan – jut untuk mencapai target men – ja di pusat ekonomi digital glo – bal pada 2020,” papar Meijer. Para eksekutif bisnis di Jakar – ta yakin dengan du kungan pe me – rin tah daerah yang akan me main – kan peran po sitif da lam menge m – bang kan eko sis tem digital dalam ti ga tahun mendatang.

Sementara itu, Direktur Ek – se kutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, ma – suk nya Jakarta sebagai kota di – gi tal dunia bukan sesuatu yang ba ru. Dia bahkan menilai Ja – kar ta harusnya bisa lebih baik di banding kota-kota lain di Asia karena dewasa ini per kem – bang an berbagai aplikasi di gital berbasis internet sangat pe sat. Kemunculan berbagai apl ikasi tersebut diikuti minat ting gi masyarakat dalam meng akses dan memanfaatkannya. ”Kita lihat sejak aplikasi trans portasi online merebak, be gitu bergantungnya kita de – ngan aplikasi seperti Go-Jek, Grab, maupun Uber. Tidak ha – nya dimanfaatkan sebagai apli – ka si transportasi, namun ber – kem bang menjadi sebuah ke bu – tuh an sehari-hari. Dari mem be – li pulsa, membayar ta gih an, dan se bagainya,” se but nya kepada KORAN SINDO tadi malam.

Di sisi lain, penggunaan me – dia sosial yang masih di ibu kota me mungkinkan lahirnya ecommerce yang menjamur. Se – lain itu, makin maraknya apli – kasi sektor keuangan yang ham – pir menyerupai lembaga ke – uang an nonbank juga ikut mem – ban tu masyarakat. Pada akhir – nya, ujar dia, semua itu akan meng ubah dan m e me nga ruhi pola konsumsi masyarakat. ”Kita bisa lihat, banyak pe – main besar sektor ritel yang ha – r us mengikuti tren perubahan kon sumsi masyarakat. Itu se – bab nya sektor ini akan terus ber tumbuh seiring dengan krea tivitas anak muda dan en – tre preneur menciptakan caracar a yang memudahkan dan menghasilkan,” ungkapnya.

Meski demikian, ujar dia, pe manfaatan sektor digital di ma syarakat yang begitu masif be lum mampu diikuti oleh pe – me rintah. Dia mencontohkan, Ja karta yang seharusnya mam pu menjadi pionir kota di – gital melalui konsep smart city be lum berjalan maksimal. ”Harusnya ini bisa misalnya dengan menciptakan smart city yang berkelanjutan. Sejauh ini belum ada yang maksimal atau masih berjalan sendiri-sendiri. Misalnya sektor transportasi Transjakarta harusnya bisa terintegrasi dengan sektor lain sehingga sifatnya real time. CCTV diberdayakan sehingga informasi yang dibutuhkan setiap saat tersedia dan bisa terpantau,” ucapnya.

Menurutnya, Jakarta bisa men jadi kota digital yang patut men jadi contoh dibanding negara-negara Asia lain de ngan meng integrasikan sis tem di gi – tal yang ada. Dengan pe ng in te – gra sian tersebut, akan banyak po tensi bisnis yang bisa digarap ka langan swasta. ”Saya kira akan banyak yang me nempel nantinya dari pihak swas ta dan itu membuat di gi tal yang dibangun pemerintah bi – sa lebih luas dan menjangkau se muanya. Misalnya, in for ma – si mengenai ihwal yang di bu – tuh kan warganya ketika be r ada di jalan, di mobil, atau di ru mah sekalipun ada aplikasi atau web yang bisa menjadi ru juk an ma – sya rakat,” pungkasnya.

Syarifudin/ ichsan amin

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com