SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Jalur Laut Favorit Bandar Narkoba

  • Reporter:
  • Kamis, 13 September 2018 | 10:39
  • Dibaca : 66 kali
Jalur Laut Favorit Bandar Narkoba
Kapal Bea Cukai patroli rutin di perairan Tanjungpiayu, belum lama ini. Jalur laut menjadi favorit bandar dan kurir menyelundupkan narkoba ke Batam. f agung dedi lazuardi
  • Tangkap Warga Malaysia, Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Narkoba ke-49

BATUAMPAR – Jalur laut masih menjadi favorit bandar menyelundupkan narkoba ke Batam. Shahdan (26), warga Malaysia ditangkap membawa sabu di Pelabuhan Harbour Bay, Batuampar, Senin (10/9/2018). Penangkapan kurir sabu internasional tersebut menjadi pengungkapan ke-49 oleh Bea Cukai Batam di tahun ini.

Informasi yang dihimpun SINDO BATAM, pria asal Johor Bahru ini diamankan petugas Bea Cukai sesaat turun dari kapal feri yang baru tiba dari Stulang Laut, Johor Bahru. Pengungkapan ini berawal dari gelagat Shahdan yang mencurigakan petugas saat melewati pemeriksaan di mesin pemindai. Saat diperiksa tas bawaannya, petugas tak menemukan barang yang dicurigai.

Petugas Bea Cukai lalu membawa Shahdan ke Kantor Bea Cukai di Pelabuhan Harbour Bay untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saat diinterogasi, ia mengaku menyelundupkan narkoba yang disimpan di anus. Shahdan lalu dibawa petugas ke salah satu rumah sakit untuk pemeriksaan dengan sinar rontgen. Hasilnya, ada enam paket paket sabu seberat 239 gram yang disimpan di anus. Modus penyelundupan sabu di anus biasa dilakukan kurir narkoba dari Malaysia.

“Dari tangan pelaku kami amankan 239 gram narkoba jenis sabu yang disimpan di dalam anusnya,” kata Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI) Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam, Raden Evy Suhartantyo.

Ia mengatakan, pelaku memilih jalur laut untuk menyelundupkan narkoba ke Batam karena dinilai lebih aman. Ia juga sudah berjanji dengan calon penerima barang haram tersebut untuk menyerahkan sabu saat tiba di Batam. “Jalur laut masih menjadi favorit bandar dan kurir menyelundupkan narkoba ke Batam,” ujarnya.

Evy menambahkan, penangkapan terhadap warga negeri jiran ini menjadi pengungkapan ke-49 yang dilakukan Bea Batam di tahun ini, dan hampir sebagian besar masuk lewat jalur laut, baik pelabuhan resmi maupun ilegal.

“Kami akan terus meningkatkan pemeriksaan penumpang untuk mencegah penyelundupan narkoba, serta penambah alat pelacak di pintu pelabuhan,” katanya.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, pelaku diserahkan Bea Cukau ke Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri. Ia akan dijerat pasal pasal 102 huruf e Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan dan pasal 113 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Perketat Pengawasan di Pintu Masuk

Upaya penyelundupan narkoba ke Batam terus meningkat tiap tahunnya. Kepala Kantor Bea Cukai Tipe B Batam, Susila Brata mengatakan tren pengungkapan yang dilakukan petugas Bea Cukai Batam pada awal tahun 2018 ini lebih ke penyelundupan narkoba ke luar Batam. Di mana pengungkapan dilakukan di Bandara Internasional Hang Nadim. Para pelaku ini menyelundupkan sabu ke sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Banjarmasin dan kota-kota lainnya.

“Modusnya juga bermacam-macam. Ada yang disimpan di sepatu dan di tempat penanak nasi (rice cooker). Tapi kebanyakan disimpan di sepatu,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Meski demikian, sambungnya, petugas Bea Cukai tetap melakukan pemeriksaan di setiap pintu masuk yang ada, baik pelabuhan dan bandara. Pemeriksaan dilakukan di pintu masuk barang maupun penumpang. Menurut dia, narkoba ini bisa masuk dari pintu mana saja. “Walaupun lolos di pintu masuk, kami tetap menjaga dan mencegah narkoba diselundupkan ke luar Batam,” kata Susila.

Dia mengakui intensitas penyelundupan narkoba juga semakin meningkat. Bahkan dalam sehari, ada lebih dari dua kasus penyegahan narkoba yang berhasil diungkap petugas. Maraknya kasus pengungkapan narkoba ini, tak lepas dari banyaknya pintu masuk di Batam, baik itu pelabuhan resmi maupun pelabuhan tak resmi. “Mungkin saja narkoba ini masuk dari pelabuhan tak resmi di Batam,” ujarnya.

Sebab di Batam tersebar sejumlah pelabuhan rakyat atau pintu masuk lainnya yang tersebar hingga ke Galang. Berdasarkan data yang dimiliki Bea Cukai Batam, saat ini ada sekitar 40 hingga 50 pelabuhan rakyat. Namun Bea Cukai Batam tak serta merta menyalahkan hal ini, sebab keberadaan Kota Batam yang berdekatan dengan negara tetangga dan potensi masuk narkoba juga menjadi besar. “Narkoba yang dibawa masuk ini kecil jumlahnya, tapi nominal harganya sangat besar,” kata Susila.

Selain itu, BP Cukai Batam juga memperkuat pengawasan petugas di lapangan. Petugas Bea Cukai ini dilengkapi alat canggih dalam mengawasi masuknya narkoba, seperti mesin pemindai (x-ray). Tak hanya itu, pencegahan juga dilakukan dengan profilling data penumpang yang masuk dari luar negeri. Baik itu yang tertera dari pemeriksaan paspor penumpang saat masuk ke Indonesia.

Menurut dia, instansi lain juga menerapkan profilling penumpang ini. Seperti sistem Passenger Analysis Unit, khusus penumpang kapal feri internasional yang masuk ke Batam. Disinggung tentang maraknya penyelundupan sabu dari Malaysia yang kerap masuk ke Batam, Susila menambahkan, masalah ini sepenuhnya kewenangan dari petugas Bea Cukai negara asal.

Sementara sepanjang tahun 2017 lalu, Bea Cukai Batam mengungkap 39 kasus penyelundupan narkoba. Barang bukti narkoba yang disita antara lain 16.172 gram sabu, 289 butir ekstasi, 20 butir Happy Five, 10 gram ganja dan 10 gram heroin. Dari puluhan kasus ini, diamankan 39 pelaku. Sedangkan narkoba yang disita ditaksir bernilai Rp38.909.400.000.

romi kurniawan/hendra zaimi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com