SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Jamin Penghuni Apartemen Tetap Bisa Bersosialisasi dengan Tetangga

  • Reporter:
  • Kamis, 20 April 2017 | 11:43
  • Dibaca : 681 kali
Jamin Penghuni Apartemen Tetap Bisa Bersosialisasi dengan Tetangga
Sulistyana, Pemilik Puri Khayangan Residence.

Lebih Dekat dengan Sulistyana, Pemilik Puri Khayangan Residence

Pernah gagal jadi Wakil Wali Kota Batam, penemu teknologi Flyslab ini melebarkan sayap mengembangkan perumahan. Dia memilih membangun apartemen bersubsidi yang dinamakan Puri Khayangan Residence.

Raut wajahnya serius memandangi dua lembar kertas di atas meja di lantai dua Kantor Pemasaran Puri Khayangan Residence di Ruko Trinusa Jaya, Batam Centre, Senin (17/4). Dengan teliti, pria yang mengenakan kemeja putih bertuliskan “Flyslab” di dada kiri itu menanyakan kepada dua orang yang berada di depannya tentang gambar di kertas itu.

“Ini row jalannya yang mana ya?,” katanya sambil melirik ke pria berkacamata di depannya itu.

Dia tertarik dengan salah satu lahan yang ditawarkan kedua orang itu untuk dibangun hunian vertikal di daerah Sagulung. “Nanti akan saya diskusikan dengan tim saya. Dua atau tiga hari ini akan saya hubungi,” ujarnya mengakhiri penawaran tersebut.

Dia adalah Sulistyana, Direktur Utama PT Kinarya Rekayasa, salah satu owner Puri Khayangan Residence. Sulistyana lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 7 September 1963. Pria yang menikah dengan Sri Sukarti dan memiliki dua orang anak yaitu Farah Divanti Sulistyono dan Farhan Daffa Sulistyono itu memulai pendidikan SD hingga sarjana di Semarang.

Sulis menyelesaikan tesis pascasarjana di tahun 2011 dengan judul tesis Pelat Beton Ringan Panel Selular.

Pria yang tinggal di Tiban BTN Sekupang itu juga seorang konsultan bangunan dan pengusaha. Sulis kemudian menjadi penemu beton pracetak atau precast berbobot ringan untuk pembangunan gedung bertingkat Flyslab dan teknologi Drywall untuk dinding bangunan.

Hasil karyanya ini telah mendapatkan hak kekayaan intelektual dari Kementerian Hukum dan HAM.

Beton Flyslab adalah beton produk pracetak dari plat beton panel selular yang merupakan plat beton ringan dengan memakai beton mutu tinggi K-400 dan besi tulangan U-39.

Reduksi massa beton Flyslab mencapai 50 persen dibandingkan plat beton masif atau konvensional, sehingga penggunaan Flyslab sangat menguntungkan pada bangunan bertingkat, baik dari struktur bangunan maupun manajemen konstruksi.

“Dalam pembangunan apartemen nanti menggunakan metode ini. Pastinya menghemat biaya dalam pembangunan nanti,” katanya.

Menurut Sulis, dasar pemikiran dari lahirnya flyslab dan drywall system adalah bahwa masyarakat membutuhkan teknologi yang siap menyongsong perubahan peradaban, di antaranya nilai atas waktu yaitu saat ini dan di masa mendatang.

“Kita semua menginginkan cepat dan tepat dalam segala hal, termasuk dalam pembangunan gedung, rumah, apartemen dan lain-lain. Ke depannya, nilai waktu adalah sangat high value,” ujarnya.

Banyak bangunan di Batam, terutama bangunan bertingkat yang menggunakan penemuan Sulistyana tersebut. Sukses di Batam, teknologi flyslab itu kemudian digunakan di banyak tempat di Indonesia. Seperti Medan, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Jakarta , Banjarmasin, dan Salatiga. Flyslab ini diaplikasikan pada beberapa jenis bangunan seperti rumah sederhana, real estate, pertokoan, kantor, rumah sakit, dan hotel.

“Pada umumnya massa struktur bangunan bertingkat lebih didominasi oleh massa dari elemen lantai dibanding elemen lainnya,” lanjut mantan calon wali kota Batam ini.

Oleh karena itu mereduksi massa elemen lantai sangat berpengaruh terhadap pengurangan massa bangunan, beban gravitasi yang diterima oleh struktur dan dapat memperkecil pengaruh gaya gempa. Karena itulah, struktur bangunan lebih efisien dengan menggunakan plat beton flyslab. Dari sisi manajemen konstruksi, teknologi flyslab dapat mengurangi sejumlah item pekerjaan, waktu pelaksanaan lebih cepat, tenaga kerja yang dibutuhkan sedikit, minim pengaruh cuaca dan sisa material tidak ada sehingga lokasi kerja bersih.

Flyslab ini dapat diproduksi di semua wilayah di Indonesia dengan biaya lebih pasti dan lebih murah. Harapan Sulistyana dengan produk karyanya ini, dapat membantu percepatan pembangunan serta mendukung masyarakat dan pemerintah menyediakan perumahan yang sehat, aman, dan lebih murah.

Sulistyana pun berkeliling Indonesia mengenalkan flyslab. Saat itulah, ia mendapat masukan untuk membuat inovasi lain di bidang manajemen industri bangunan tidak bertingkat. Pasalnya, flyslab hanya cocok untuk bangunan bertingkat.

Sulstyana mengiyakan. Ia pun meneliti bangunan nonbertingkat yang ada.

“Setelah dicermati untuk bangunan yang tidak bertingkat mayoritas kebutuhan utama adalah dinding,” kata pengoleksi benda-benda antik itu.

Ia membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk proses riset sampai pengurusan hak paten karya keduanya itu. Akhirnya 2014 akhir lalu, karyanya selesai dan dinamai teknik drywall.

“Dengan menggunakan drywall ini, pembangunan sebuah rumah bisa menghemat bujet mencapai 20 persen,” katanya.

Drywall ini sangat cocok untuk diaplikasikan pada rumah dengan bentuk bangunan yang sama dengan jumlah yang banyak misalnya perumahan. “Karya inovasi saya ini menjawab permasalahan pembangunan dengan metode lama yang kurang adanya kepastian mutu produk, ketepatan biaya dan waktu,” katanya.

Oleh karena itulah, Sulis mulai menjajaki bisnis di sektor properti dengan konsep hunian vertikal. Februari 2017 lalu, Apartemen Puri Khayangan itu diluncurkan.

Apartemen yang berlokasi di Batam Centre ini merupakan apartemen bersubsidi dari pemerintah, yang pembangunannya dikerjakan oleh PT Kinarya Rekayasa. Apartemen yang mengusung tagline “Apartemen Elegan Harga Menawan” ini terdiri dari 18 lantai dengan menawarkan dua tipe, yakni tipe 28 dan tipe 36.

“Apartemen bersubsidi ini merupakan yang pertama di Batam. Pembangunan apartemen untuk tipe ini seiring dengan upaya pemenuhan hunian satu juta rumah, sebagaimana nawacita Presiden Jokowi. Apalagi di Batam kebutuhan akan hunian, terutama pekerja, juga cukup tinggi,” katanya.

Magister Teknik Sipil lulusan Undip Semarang itu menjelaskan, rumah vertikal menjadi tren saat ini karena keberadaan lahan untuk rumah tapak di Batam juga semakin habis.

“Pembangunan huniah vertikal juga membantu dalam hal penataan wajah kota yang lebih elegan,” katanya.

Apartemen Puri Khayangan menempati lokasi strategis, yakni tepat di seberang Kapita Plaza, berdekatan dengan Pasar Botania 2, Universitas Batam, dan Rumah Sakit Elisabeth.

Menurut Sulis, apartemen ini akan melakukan groundbreaking pada awal Mei dengan menghadirkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.

Animo pemesanan cukup bagus. Sampai saat ini, dari sekitar 500-an unit yang ditawarkan, warga yang telah menyatakan berminat sudah mencapai 300-an orang.

Selain lokasinya yang strategis, apartemen ini juga dibangun dengan kualitas standar yang dilengkapi dengan fasilitas baku yang standar juga.

Untuk tipe 28, sambungnya, harga mulai Rp245 juta, dan tipe 36 harga mulai Rp 315 juta. Uang uang muka sebesar 20 persen yang bisa dicicil selama 30 kali. Dengan demikian angsuran per bulan mulai sekitar Rp 1,6 jutaan.

Menurut Sulistyana keberadaan hunian vertikal sangat cocok untuk masyarakat perkotaan, terutama kota industri seperti Batam, di mana warga lebih menginginkan lokasi tak jauh dari lokasi kerja, terjaminnya kenyamanan, serta fasilitas yang memadahi. Untuk segmen ini, apartemen bersubsidi menjadi opsi karena lebih terjangkau. Tren serupa terjadi di Jakarta, Surabaya dan lain-lainnya.

“Di saat yang sama, masyarakat pun bisa membandingkan atas booming-nya apartemen- apartemen nonsubsidi segemen menengah ke atas di Batam. Bagi apartemen kelas atas mungkin lebih pada investasi, sedangkan “apartemen kerakyatan” ini memang menjadi kebutuhan warga, termasuk kalangan pekerja,” kata Sulistyana.

Keberadaan rumah vertikal pun sudah merupakan keharusan dalam penataan kota yang memiliki pertumbuhan penduduk cukup tinggi. Sebab lahan untuk perumahan nyaris sudah habis.

Tinggal di apartemen sebenarnya tidak jauh dari kehidupan sosial di perumahan pada umumnya.

Di Puri Khayangan sendiri nantinya akan dikelola sedemikian rupa sehingga kehidupan bermasyarakat bagi warga pun sama seperti warga yang tinggal di perumahan. Jadwal atau agenda warga tetap dikelola, misalnya pengajian, senam, rapat dan lain-lain, semua ada. Tentu akan dikelola secara lebih modern.

“Cepat atau lambat pasti semua bangunan akan vertikal. Fase transisi itu pasti ada. Tinggal mengubah kebiasaan saja ketika tinggal di perumahan dan hunian vertikal,” katanya

1 Komentar

  1. Santoso Selasa, 13 Februari 2018

Theme Portal Berita TUX_URL.com