SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Jemaat Saksi Yehuwa bukan Anggota PGI

  • Reporter:
  • Minggu, 1 Desember 2019 | 21:27
  • Dibaca : 114 kali
Jemaat Saksi Yehuwa bukan Anggota PGI

BATAMKOTA – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) wilayah Kepri dan Kota Batam menegaskan, bahwa jemaat saksi Yehuwa (Jehovah Witnesses) bukan merupakan dari bagian PGI.

Ketua MPH PGIW Kepri dan PGIS Kota Batam, Pinda Hamonangan Harahap mengatakan, penyataan sikap tersebut sebagai respons atas dikeluarkannya dua siswa SMPN 21 Batam, akibat enggan hormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

“Menyatakan bahwa PGI tidak ada hubungannya dengan saksi-saksi Yehovah dan bukan anggota PGI, sebagaimana yang disebutkan Irma Riana Simanjuntak (humas PGI) termasuk di Kepri dan Kota Batam,” ujarnya di Sekretariat PGIW Kepri di Batam Centre, Sabtu (30/11).

Ia mengatakan, PGI juga tidak menyetujui dogma yang dianut dan diyakini oleh saksi Yehovah, di antaranya pemahaman mereka bahwa Yesus bukanlah tuhan, melainkan hanya ciptaan. Saksi-saksi Yehovah juga menolak ajaran Tritunggal karena itu bukan ajaran Alkitab dan sebagainya.

Pihaknya juga tidak menyetujui kelompok dan perseorangan yang tidak mengakui Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika, serta turunannya yang wajib dipatuhi seluruh warga Negara Indonesia. “Kami mengimbau semua pihak agar menanggapi permasalahan terhadap dua anak tersebut secara bijaksana,” ujar Hamonangan.

Hamonangan berharap agar permasalahan yang sedang hangat dibicarakan ini tidak dihadapi secara politis. “Oleh karena itu semua pihak mesti melihat itu secara teologis dan bukan secara politis,” ujarnya.

Ia meminta semua pihak berperan untuk membantu menumbuhkan nasionalisme kedua anak tersebut. “Semua pihak diharapkan berperan mengembalikan pemahaman mereka (kedua anak) kepada hukum dan aturan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,” ujarnya.

Pihaknya juga menyayangkan kedua siswa tersebut dikeluarkan dari sekolah karena pendidikan adalah hak setiap anak. Menurutnya, mengingat usia anak yang masih terbilang kecil, masih bisa dilakukan pembinaan terhadap kedua anak tersebut.

“Keduanya masih anak-anak di bawah umur, tentu masih ada kemungkinan mereka diarahkan kembali ke pemahaman dan hukum yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku di NKRI,” katanya. iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com