SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

KA Cepat Bandung-Solo Perlu Kajian Matang

  • Reporter:
  • Kamis, 8 Februari 2018 | 16:32
  • Dibaca : 179 kali
KA Cepat Bandung-Solo Perlu Kajian Matang

JAKARTA – Pemerintah menancapkan ambisi tinggi dalam proyek pembangunan kereta api (KA) cepat. Jika sebelumnya KA cepat hanya direncanakan dari Jakarta ke Bandung, kini pemerintah membuka opsi baru, KA cepat akan diteruskan dari Bandung hingga Yogyakarta dan Solo.

Opsi baru pembangunan KA cepat ini disampaikan Men teri Koor dinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Se lain itu, mun – cul pula opsi rute KA cepat Jakarta-Bandung ter hu bung dengan Bandara Kertajati, Ma jaleng ka, Jawa Barat. Namun, rencana megaproyek ini banyak menuai kritik. Ka langan pengamat meminta pemerintah mengkaji le bih da lam apakah proyek KA cepat tersebut relevan di wu jud kan, termasuk secara ekonomis. Pengamat menilai j a rak antara Bandung dan Solo terlalu dekat dan tidak akan meng untungkan secara ekonomi karena mobi litas masyarakat sudah ter – pe nuhi de ngan trans por ta si yang su dah ada. Mer eka juga menyarankan agar pem b a ngunan in fra struktur transportasi di alihkan ke luar Jawa karena ma sya ra kat di sa na sangat membutuhkan mo da transportasi yang layak. Ter lebih, dana pem ba ngun an KA cepat sangat besar.

”Bisa saja nanti (keYogyakarta dan Solo). Karena ratarata kereta api cepat itu ja raknya pada 300-an kilometer ba ru agak kencang. Jadi kami be lum tahu. Sekarang opsi kami bu ka,” kata Luhut di Kom pleks Is tana Negara, Ja kar ta, Senin (5/2). Luhut menandaskan bah – wa opsi KA cepat hingga Yog ya – karta-Solo masih akan dikaji ter lebih dulu seiring dengan ka jian evaluasi proyek kereta ce pat secara keseluruhan. Renca nanya, Luhut akan me li bat – kan PT Sarana Mandiri In frastruk tur untuk mengevaluasi pro yek kereta cepat secara kese luruhan sebab Presiden Joko Wi dodo menargetkan evaluasi se lesai akhir bulan ini. Menteri Perhubungan (Men hub) Budi Karya Sumadi mem benarkan ada opsi baru pro yek KA cepat.

Menurut dia, pem bangunan tersebut bisa saja tidak berhenti di Ban dung, ta pi akan di lan jut kan hingga Ban dara Kertajati, Ma ja leng ka, atau bahkan Yog ja karta-Solo. Menurut dia, ide untuk me – la ku kan perubahan mun cul sete lah mem per tim bang kan efek ti vitas dan asas ke manfaat an. Secara teoritis s e mak in jauh trayek perja lan an nya akan semakin bagus. Na mun, dia menggariskan bah wa renca n a ini masih dalam ta h ap peng kajian. Kajian di tar getkan b i sa tuntas akhir Fe b ruari ini. ”Ka lau pe num pang nya lebih jauh, lebih ba nyak, kan malah le bih fea sible,” ujarnya di Kantor Pre si den, Jakarta, kemarin. Budi mencontohkan, perubah an dari Jakarta-Bandung men jadi Jakarta-Bandung- Ban dara Kertajati bisa menaik – kan jumlah penumpang.

Dia bah kan memprediksi ke naik – an nya bisa mencapai tiga kali li – pat. Sedangkan penambahan pan jang rel hanya sekitar 80 ki – lo meter. ”Kan kalau bandara itu rutin, orang dari Karawang mau ke Kertajati buat ke luar ne geri disuruh bayar Rp300.000 kecil. Tapi, bukan ha rian, contoh,” paparnya. Sementara itu, Komisi IV DPRD Jabar yang membidangi in frastruktur tidak mem per – soal kan rencana tersebut. Namun, mereka meminta pe me – rin tah pusat mau menempuh pro s edur sesuai aturan yang be r laku seperti perizinan, tata ruang wilayah, dan analisis dam pak lingkungan. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Jabar Daddy Rohanadi me nandaskan, selama ini piha k nya selalu menekan swas – ta un tuk menaati prosedur. Un tuk itu, dia meminta pe me – rin tah pusat memberi contoh yang baik.

”Kebijakan ini buat ki ta sifatnya given, kebijakan pu sat yang tidak bisa ditolak dae rah. Yang bisa menolak hanya teman-teman di DPR RI. Ka mi berteriak-teriak tidak akan didengar,” ungkapnya. Selain prosedur yang harus di tempuh, Daddy juga mengingat kan pemerintah pusat agar menerapkan sistem ganti un tung dalam pembebasan la han proyek kereta cepat terse but sehingga masyarakat pe mi lik lahan tidak dirugikan oleh kehadiran moda trans – por tasi massal tersebut.”Jadi, be res kan dulu (prosedurnya) da n terpenting masyarakat jangan ganti rugi, harus ganti un tung,” tandasnya.

Luar Jawa Lebih Butuh

Peneliti Pusat Studi Transpor tasi dan Logistik (Pustral) Uni versitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Dwi Ardian ta Kurniawan menya rankan pro yek KA cepat yang akan di te ruskan dari Ban dung menu ju Yog yakarta dan So lo dikaji men d alam, baik dari aspek, fi nan sial, eko no mi, maupun ling kungan. Ka ji an s a – ngat pen ting karena pro yek ter sebut ten tu me mer lu kan da na yang be sar sehingga dam paknya ba gi pem ba ngunan, masyarakat, dan ling kungan harus dipertimbangkan.

Dari sisi ekonomi misalnya apa kah KA cepat bisa meng hadir kan pendapatan di ban ding ja lur reguler dan se be ra pa keun tungan yang di da pat kan ma syarakat dengan ada KA cepat tersebut, termasuk k a rena ter batasnya stasiun pem berhen tian. ”Dengan kon disi ini, je las dari aspek eko nomi bagi ma syarakat, khu susnya di se kitar rel, tidak akan berpengaruh ba nyak. Bah kan dapat di ka takan mi nim,” ungkapnya. Ter le pas dari berbagai per tim bang an, Ard ianta melihat inra struk tur untuk keb u tuh an di Pu lau Jawa sebenarnya su dah ti dak ada masalah dan mencukupi. Justru yang mes ti nya harus men dapatkan per ha tian yak ni infrastruktur di luar Jawa se bab di luar Jawa ma sih membutuhkan pen ing kat an in frastruk tur tersebut.

”Kami justru me n yarankan un tuk i n fra – struk tur dengan dana yang besar lebih baik untuk dikem bang – kan di luar Jawa,” tandasnya. Guru Besar Transportasi Ins titut Teknologi Bandung (ITB) Ofyar M Tamin melihat, ja rak Jakarta-Bandung ter – lalu de kat. Begitu juga Bandung-Yog yakarta. Karena kedekatan ja rak tersebut, ke beradaan ke re ta supercepat dengan kec e pat an rata-rata 390 kilometer per jam menjadi kurang efektif dan efisien. Selain itu, jarak pen dek juga me nyebabkan ke ce patan puncak kereta tak akan ter capai. ”Jadi, KA supercepat ideal nya mem – butuhkan jarak tem puh yang pan jang. Sem a kin panjang jarak semakin efek tif pe man – faatan ke ce pat an kereta yang mencapai 390 ki lometer per jam,” katanya.

Dalam pandangan Ofyar, KA cepat idealnya melayani jalur Jakarta-Surabaya karena ke duanya merupakan kota bisnis. Saat ini para pebisnis di Jakarta dan Surabaya mem butuh kan waktu lebih lama jika men g gunakan trans por tasi pe sa wat udara. Hitung-hi tungan, seseorang dari rumah di Jakarta ke bandara kurang lebih mem butuhkan waktu dua jam. Pesawat terbang butuh satu jam lebih. Sampai di bandara orang itu butuh angkutan lagi sam pai rumah satu sampai dua jam . Kurang-lebih, dari rumah di Jakarta sampai tujuan di S ura baya total membutuhkan wak tu lima jam. Jika meng guna kan kereta, lebih cepat, dari ru mah ke stasiun tidak butuh wak tu satu jam.

”Notabene lokasi stasiun KA umumnya berada di tengah kota, lebih dekat dengan ru mah atau lokasi yang dituju. Apa lagi jika ditunjang oleh mass rapid transit (MRT) dan mo d a angkutan massal ter pa – du. Selain itu, frekuensi p enerbang an pesawat kan tidak bisa le bih cepat. Sebaliknya, fre kuen si keberangkatan KA su per cepat bisa 15 menit seka li,” ujarnya. Direktur Institut Studi Trans portasi (Instran) Darmaning tyas secara tegas menya ta kan tidak sepakat dengan pe nam bahan jalur kereta cepat Ja karta-Bandung hing ga Yog yakarta dan Solo. Alas annya, Pu lau Jawa sudah ba nyak trans portasi dan tinggal mem perbaiki in fra struk – tur yang ada. Apalagi, anggaran nya sa ngat besar, yakni Rp50 triliun.

” Kal au memiliki anggaran, lebih baik anggaran di salurkan ke luar Jawa untuk per baikan in fra struktur. Apa – lagi pulau-pu lau kecil yang ham pir tidak tersentuh pembangunan yang perlu di per ha – ti kan,” ungkapnya. Dia menuturkan, saat ini jalur Yogyakarta-Bandung sudah ada kereta, bus, serta pe sawat. Yang dibutuhkan adalah pe r baikan infrastruktur rel yang ada. Kalau Belanda bisa mem bangun trase lanjutnya, se mestinya sekarang bisa lebih baik. ”Nah, sekarang harus diperbaiki, daerah labil di tanggul se hingga trase Yogya-Bandung bi sa meningkatkan kecepatan per jalanan kereta yang ada,” tan das penulis Buku Pulung Gan tung ini.

Senada, pengamat transpor tasi dari Universitas Ka tolik Soegijapranata Semarang, Djo ko Setijowarno juga menilai penambahan proyek KA ce – pat Jakarta- Bandung hingga So lo tidak tepat. Menurutnya, i n frastruktur ke Pulau Jawa su dah memiliki banyak alt ernatif me liputi jalur kereta ja – rak jauh, ja l an tol, hingga akses bandara. ”Sa ya pikir sudah ti dak perlu se bab alternatifnya sudah sangat ba nyak. Jangan semua berpusat di Pulau Ja wa. Sebaiknya yang di luar Ja wa perlu me n da pat kan prioritas,” ujarnya. Menurut Djoko, pem bangun an harus bisa merata ke Pu lau Sumatera, Sulawesi, Kali mantan, hingga Papua. Sumatera bahkan memiliki kes empat an untuk pengembangan ke re ta karena jalurnya sudah ter se dia. ”Persoalannya dibutuh kan kehendak pemerintah. Di Sumatera cocok untuk jalur ke reta, sebaliknya tidak cocok un t uk sebagian jalan tol.

Da ripada jalan tol, saya cenderung me milih pembangunan jalur ke reta,” ungkapnya. Dia menambahkan, daerah-daerah di luar Pulau Jawa membutuhkan in frastruk tur perkeretaapian agar ti d ak terlihat timpang. Apalagi, dana untuk pembangunan kereta cepat butuh dana sangat besar yang dibelanjakan lewat pinjaman dari luar. ”Ini butuh dana besar. Alangkah baiknya kalau dana besar ini dialihkan untuk infrastruktur di luar Pulau Jawa. Apalagi ini menggunakan pinjaman dari luar nege ri,” pungkasnya.

Bakti sarasa/ ichsan amin/ priyo setyawan/ agus warsudi / suharjono

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com