SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kain Banjar, Etnik dan Trendi

  • Reporter:
  • Selasa, 14 Maret 2017 | 15:48
  • Dibaca : 774 kali
Kain Banjar, Etnik dan Trendi
istimewa

Di tangan desainer Sonny Muchlison, kain sasirangan menjadi busana yang trendi. Ada 12 koleksi busana yang ia rancang dari kain khas Banjar saat pagelaran busana di Batam.
Basasirangan dalam bahasa Banjar berarti mengenakan kain sasirangan. Sonny mengambil tema basasirangan untuk koleksi busananya. Kain dari Kalimantan Selatan ini dipadukan dengan kain tenun Indonesia lainnya seperti endek Bali, batik ATBM, tenun Baduy, jumputan Palembang, hingga tenun ikat NTT.

Kali ini ia menciptakan busana dengan siluet yang dibuat serba praktis dan modern. Sentuhan warna tropisnya menyegarkan mata. “Busana ini nggak ribet. Tapi bisa dibawa ke mana-mana. Dari pakaian santai sampai gaun malam,” kata desainer asal Jakarta ini saat pagelaran busana di Batam, Minggu (11/3).
Desainer yang memiliki perhatian pada kain tradisional ini mengeluarkan busana-busana etnik yang ready to wear dan trendi. Di tangannya, kain sasirangan yang bersifat fleksibel dimodifikasi mengikuti tren yang berkembang.

Seperti yang dikenakan salah satu modelnya, Aulia Puteri Batam. Gaun panjang yang menjulur ke bawah sangat anggun karena dipadukan dengan lace berwarna keemasan di bagian atas dicampur corak berwarna silver.

Di sekitaran pinggul, diberi aksen batik tulis berwarna cokelat dengan motif bunga merah jambu. Paduan apik dari Sonny. Kain sasirangan yang dipilih untuk gaun ini berwarna dasar kuning telur dan hitam. “Ini gongnya saya di pagelaran ini. Dapat dipakai untuk pesta,” katanya.

Sonny juga mengeluarkan busana pria. Salah satunya jaket hitam dengan campuran kuning. Di bagian bawah jaket diberi sentuhan tenun emas dan warna merah. Gaya yang modern untuk sebuah kain khas daerah.

Selain untuk santai, jaket ini juga bisa dikenakan di acara formal seperti rapat. Tidak hanya untuk pria, Sonny juga membuat jaket wanita. Bedanya, bagian lehernya sedikit panjang hingga menutupi seluruhnya. Jaket dibuat dengan tenun dan sasirangan.

Ada pula busana dengan bahu terbuka semacam kemben. Dibuat dari tenun disandingkan dengan celana dengan cutting lebar di bagian atas kaki, sehingga terlihat seperti rok.

Koleksi jumputan juga dihadirkan. Dengan cutting persegi, di bagian pundak diberi jahitan sedikit meninggi sehingga terkesan lebar di pundak dan lebih tinggi. “Jumputan ini bisa digabungkan kain dari beberapa daerah. Kainnya dari Banjarmasin, batiknya Pekalongan. Namanya jumputan, jadi diikat satu-satu lalu digabungkan jadi motif bunga,” katanya.

Sonny tak pernah membuat rancangan yang sama untuk setiap koleksi busananya. Ia membuat model busana dalam jumlah yang sangat terbatas. Seperti yang ia hadirkan saat itu.

Tiga Unsur dalam Berpakaian
Nyaris semua aspek kehidupan memiliki tata cara, tidak terkecuali dalam urusan berpakaian. Meski hanya benda mati, pakaian merupakan cerminan dari pribadi seseorang.

Menurut pengamat mode dan gaya hidup, Sonny Muchlison, ada tiga unsur dalam berpakaian. Pertama, membaca diri atau harus bisa mengukur proporsi. “Strata proporsi itu apakah gemuk tinggi, gemuk pendek, atau pendek kurus, atau tinggi kurus,” ujarnya kepada Okezone di Bintaro, Tangerang Selatan, belum lama ini.

Unsur berikutnya adalah komposisi. Menurut Sonny, komposisi menjadi hal penting untuk mengetahui busana yang pas untuk dipakai. “Misalnya punya torso tinggi atau sebaliknya, torso yang pendek, maka kita tidak memilih terusan yang terlalu pendek atau panjang, atau dua potong,” terangnya.

Ketiga, imbuh Sonny, pakaian harus menjadi ilusi. Pengajar di Institut Kesenian Jakarta itu juga mencontohkan, jika punya pundak besar, ilusinya adalah dengan memakai pakaian berlengan tulip. Sehingga, pundak yang besar bisa disamarkan menjadi lebih ramping.

Ilusi yang dimaksud Sonny juga bisa dalam hal memadupadankan busana. Ilusi biasanya berkaitan dengan kreativitas seseorang, agar pakaian bisa lebih pas dipakai. “Baju lama disulap jadi baju baru, ditambahkan aksen atau aksesori, itu juga bisa dinamakan ilusi,” tuturnya.

Sonny menambahkan bahwa memilih pakaian pun tidak boleh berdasarkan dari sensasinya. Menurutnya, justru pakaian yang menarik itu, bisa saja dari yang sederhana.

“Fashion itu less is more. Effort-nya itu dari orang yang melihat. Orang lain bisa mengagumi, itu berarti cara berpakaiannya berhasil. Jadi jangan mengukur dari diri sendiri, tapi pakaian itu juga harus dinikmati orang lain,” tutupnya.

okezone

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com