SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kakek Lahir di Perahu, Cucu Harus Sarjana

  • Reporter:
  • Senin, 3 April 2017 | 14:27
  • Dibaca : 431 kali
Kakek Lahir di Perahu, Cucu Harus Sarjana
Anak suku laut. Foto Abdul Hamid.

Pendidikan di Keluarga Suku Laut, dari Generasi ke Generasi

Sebuah keluarga suku laut di Kampung Tua Tiangwangkang Tembesi, Batam, bertekad mengubah hidup mereka dengan menyekolahkan cucu mereka tinggi-tinggi. Kakek boleh lahir di perahu dan anak tak sekolah, tapi cucu mereka harus sarjana.

Mendung menggantung saat perahu bermesin tempel mendekat ke pelantar, Rabu (29/3) siang. Puluhan siswa berdiri, bersiap melompat ke atas jembatan kayu. Desi Amara (10) berdiri paling depan. Dengan sigap tangannya memegang tiang kayu, lalu kakinya melompat lincah tanpa membuat perahu goyang.

Jarak rumahnya dengan tambatan perahu hanya 10 meter. Begitu sampai rumah, ia melepas sepatu dan meletakkan tas berisi buku di dalam kamar. Setelah itu, ia mendatangi rumah teman-temannya yang rata-rata hanyalah rumah papan yang berdiri di atas tiang-tiang kayu.

Keluarga Desi tinggal di kampung tua Tiangwangkang, kampung berpenduduk kurang lebih 60 kepala keluarga. Tak ada sekolah di kampung itu. Sekolah terdekat adalah SDN 003 Pulau Akar, Bulang, pulau yang ada di seberang laut. Ke sanalah Desi dan puluhan teman-temannya berangkat setiap pagi.

Jarak Kampung Tiangwangkang ke Pulau Akar sekitar 10 menit naik perahu bermesin. Namun jika laut bergelombang, perjalanan bisa lebih lama lagi. Jika lulus SD, Desi harus sekolah SMP ke Pulau Panjang, Bulang, karena di Pulau Akar, satu-satunya sekolah hanyalah SD.

Bagi Desi, sekolah menyeberangi pulau tak pernah jadi persoalan. Meski setiap hari harus bangun lebih pagi, ia bertekad untuk jadi anak pintar. “Saya ingin jadi koki,” katanya.

Kenapa ingin jadi koki? Ia tak bisa menjawab. Bisa jadi keinginannya itu muncul karena di kampung dia, ada dua restoran sea food yang berdiri di atas laut. Setiap hari, banyak pengunjung bermobil mendatangi restoran tersebut. Sebuah kondisi yang kontras dengan keadaan keluarganya yang tinggal di rumah papan beralas kayu.

Desi merupakan bungsu dari lima bersaudara anak pasangan Amos (43) dan Sariana (35). Kakak-kakaknya semua sekolah. Ada yang SMP, ada yang SMK, dan yang tertua sedang kuliah di Universitas Putera Batam di pusat kota.

Di Batam, banyak keluarga miskin yang gigih sekolah untuk mengubah nasib seperti keluarga Amos. Namun, Amos istimewa karena latar belakang keluarganya adalah suku laut. Suku yang sampai tahun 1980-an sebagian besar masih hidup di laut. Mereka tinggal di perahu. Mulai dari bekerja, makan-minum, sampai melahirkan anak pun di atas perahu.

Anton (76), ayah Amos, termasuk generasi pertama suku laut yang menetap di daratan. Anton bersama satu saudaranya lahir di atas perahu. Lima saudaranya yang lain, sudah lahir di darat.

Keluarga suku laut yang lain, baru banyak yang hidup di darat di tahun 1980-an. Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (KKKS) Batam misalnya, pernah mendaratkan suku laut di Pulau Bertam dan Pulau Gara di Kecamatan Belakangpadang, Batam, di tahun 1988.

Ada 40 kepala keluarga (KK) di tahun itu yang diberi tempat tinggal di Pulau Bertam. Sedangkan di Pulau Gara, sekitar 49 rumah. Mereka tinggal di rumah-rumah berdinding papan yang ditunjang tiang-tiang kayu, berdiri di bibir laut.

Ditemui di rumahnya Rabu siang itu, Anton masih terlihat gagah. Meski tubuhnya kurus, caranya berjalan tak menampakkan usianya yang sudah renta. Bahkan di kampung itu, sejak puluhan tahun ia didapuk sebagai ketua RT.

“Di sini ini, satu kampung ya keluarga semua. Dulunya suku laut,” kata Anton.

Anton ingat, bapak-ibunya pertama kali diajak ke darat oleh ketua kampung. Saat itu, zaman pendudukan Jepang. Sering kapal-kapal Jepang mendarat, mengambil apa saja yang dimiliki penduduk. “Ayam-ayam di kandang sering mereka ambil,” katanya.

Anton tak benar-benar menetap di satu kampung. Ia sering pindah-pindah. Mulai dari Sembulang, ke kawasan Dapur 6, hingga akhirnya di tahun 1962, menetap di Tiangwangkang. “Dulu ditawari pekerjaan bikin arang, jadi sampai sekarang tinggal di sini,” ujarnya.

Tak adanya pekerjaan tetap itulah, menurut Anton, yang membuat suku laut di pulau lain tak betah menetap. Seperti di Pulau Bertam dan Gara, katanya, perlu waktu lama hingga akhir tahun 1980-an, agar mereka mau menetap. “Karena biasanya sekali melaut bisa sampai dua hari. Suku laut biasanya sekalian bawa keluarga,” katanya.

Di Tiangwangkang, Anton bekerja bikin arang dan melaut. Sampai awal tahun 1960-an, katanya, ia sering naik perahu bawa arang dan hasil laut ke Singapura tanpa pemeriksaan Imigrasi. Pulangnya, dia membawa beras dan kebutuhan rumah tangga lainnya. “Tahun 1963, tak boleh lagi masuk Singapura pakai perahu,” ujarnya.

Karena menetap itulah, Anton mulai bersosialisasi dengan penduduk sekitarnya. Anak-anaknya, mulai ia sekolahkah, meski tak semuanya bisa lulus SD. Amos, anak kedua Anton, termasuk yang sempat mencicipi bangku sekolah sampai lulus SD. Amos sekolah di Pulau Akar, sekolah yang sama, tempat anak-anaknya belajar.

“Saya hanya lulus SD. Tapi saya bertekad anak-anak saya harus lulus kuliah. Hanya dengan pendidikan, nasib kami bisa berubah,” kata Amos yang Rabu siang itu mendampingi ayahnya.

Cita-cita besar itulah yang membuat Amos berusaha keras menyekolahkan anak-anaknya. Apalagi, kini mereka sudah bisa menikmati listrik 24 jam. Tiap pagi, ia membangunkan mereka agar bersiap sekolah. Dinas Pendidikan Kota Batam juga menggratiskan biaya di sekolah negeri dan menyediakan dana untuk biaya transportasi laut siswa-siswa pesisir seperti untuk anak-anak suku laut. Satu anak, dapat bantuan transportasi Rp3 ribu per hari.

Amos berharap, bantuan tak hanya soal transportasi, tapi juga perahunya. “Kalau dapat bantuan perahu yang lebih bagus lagi kondisinya, kan lebih bagus lagi,” katanya.

Keinginan Amos menyekolahkan anak-anaknya tinggi-tinggi, bukan tanpa halangan. Bukan hanya soal biaya, tapi juga soal bagaimana meyakinkan anak-anaknya agar mau terus sekolah.

Anak sulungnya, kata Amos, pernah tak mau sekolah saat duduk di bangku SMA di kota. Gara-garanya, anaknya yang tak pernah lihat komputer diledek oleh kawan-kawannya. Belum lagi, kulit anak suku laut yang hitam, sering jadi bahan candaan.

“Saya yakinkan anak saya, agar hinaan itu dibalas dengan belajar rajin. Akhirnya dia mau sekolah lagi. Sekarang, kawan-kawannyalah yang belajar ke dia,” kata Amos.

Di sekitar Kampung Tiangwangkang, banyak berdiri restoran masakan laut dan akan berdiri hotel. Saat ini, kata Amos, anak-anak kampung Tiangwangkang sebagian direkrut bekerja di sana. Inilah, kata Amos, kesempatan meyakinkan anak-anaknya agar mau kuliah.

“Kalau cuma lulusan SMA, mungkin cuma jadi staf biasa. Kalau mau jadi manajer, kan harus lulus sarjana. Makanya, anak saya harus lulus sarjana,” tuturnya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com