SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kantor Kemenag Batam Buka Pendaftaran Label Halal

  • Reporter:
  • Jumat, 21 Februari 2020 | 16:02
  • Dibaca : 63 kali
Kantor Kemenag Batam Buka Pendaftaran Label Halal
ilustrasi

SEKUPANG – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Batam membuka pendaftaran label halal mulai tahun ini. Kemenag telah menerbitkan Keputusan Menteri Agama (KMA) No 982 tentang Layanan Sertifikasi Halal. Dalam keputusan ini diatur bahwa besar tarif sertifikasi halal mengacu pada tarif sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia melalui Lembaga Pengakajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM).

Kepala Kemenag Batam Zulkarnain Umar mengatakan, masyarakat yang akan mengurus surat tersebut bisa langsung menemui petugas pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) Kemenag Batam.

“Langsung saja bawa persyaratan. Nanti akan diverifikasi petugas. Jika syarat lengkap akan diproses. Jika tidak akan dikembalikan untuk dilengkapi,” katanya di Batam Centre, Kamis (20/2).

Ia mengatakan penerbitan sertifikat halal akan dikeluarkan Kantor Kemenag Wilayah Kepri. Pihaknya hanya membantu pendaftaran berkas milik warga. Selanjutnya berkas yang diterima akan diteruskan ke provinsi untuk diproses.

“Jadi soal sertifikatnya itu kewenangan provinsi. Nanti mereka yang keluarkan. Hanya saja pendaftaran melalui kami. Mungkin karena jarak, jadi pendaftaran tetap di daerah masing-masing pemohon,” katanya.

Zulkarnain menambahkan, penerbitan sertifikat halal ini memakan waktu 14 hari kerja. Hal ini sesuai dengan target pelayanan publik lainnya. Namun jika tidak ada kendala, bisa jadi penerbitan bisa dipercepat demi pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Berkas kami terima dan langsung diteruskan. Sekarang sistem sudah online semua. PTSP kami juga sudah online jadi pastinya ini memudahkan pengurusan,” ungkapnya.

Ia berharap dengan adanya layanan ini, pelaku usaha semakin mudah mengurus sertifikat halal produk mereka. Label halal menjadi faktor penting sebelum produk diedarkan.

Tim yang terdiri dari tenaga ahli nanti akan turun untuk mengecek produk. Selain itu hasil produksi juga akan diuji dan beberapa tahapan lainnya. Jika tidak ada kendala, penerbitan sertifkat halal dapat segera dilakukan.

“Semakin banyak yang mengantongi sertifikat halal tentu akan baik. Karena itu jaminan bagi konsumen,” katanya.

Seperti diketahui, Kemenag menerbitkan Keputusan Menteri Agama (KMA) No 982 tentang Layanan Sertifikasi Halal. Dalam keputusan ini diatur bahwa besar tarif sertifikasi halal mengacu pada tarif sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia melalui Lembaga Pengakajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM).

Aturan ini diterbitkan karena belum ada ketentuan peraturan perundang-undangan terkait jaminan produk halal berlaku.

“Tarif layanan sertifikat halal yang seharusnya dikeluarkan melalui Peraturan Kementerian Keuangan belum ditetapkan,” ujar Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Sukoso.

Namun Sukoso menggarisbawahi, KMA ini bukan berarti mengembalikan penyelenggaraan layanan sertifikasi halal kepada MUI. Menurutnya, ketentuan dalam salah satu KMA tersebut hanya mengatur tentang diskresi besaran tarif layanan sertifikasi halal, sembari menunggu terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

“KMA hanya mengatur, selama belum ada PMK tentang tarif layanan, maka biaya sertifikasi halal mengacu pada standar yang selama ini diberlakukan LPPOM,” lanjutnya.

Adapun proses dan tahapan sertifikasi halal lainnya, kata dia, berjalan sebagaimana yang diatur dalam UU No 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan PMA No 26 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal.

Sukoso menegaskan bahwa ada tiga pihak utama yang berperan dalam layanan sertifikasi halal, yakni Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), MUI dan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).

LPPOM MUI, kata dia, hanyalah salah satu dari LPH. Layanan sertifikasi itu sendiri mencakup pengajuan permohonan sertifikasi halal, pemeriksaan dan atau pengujian kehalalan produk, pengkajian ilmiah terhadap hasil pemeriksaan dan atau pengujian kehalalan produk, pelaksanaan sidang fatwa halal, dan penerbittan sertifikasi halal.

Sukoso menjelaskan, peran ketiga pihak dalam layanan sertifikasi halal secara jelas sudah diatur dalam KMA 982. BPJPH, jelas dia, berwenang dalam pengajuan permohonan dan penerbitan sertifikasi halal. MUI, sambungnya, berwenang dalam pengkajian ilmiah dan pelaksanaan sidang fatwa halal. Sedang LPH berwenang dalam pemeriksaan dan atau pengujian kehalalan produk.

“Karena bersifat Diskresi, KMA ini hanya berlaku sampai diundangkannya peraturan terkait tarif layanan sertifikasi halal. Aturan itu yang akan dijadikan rujukan bersama seluruh LPH, tidak hanya LPPOM MUI, dalam melaksanakan fungsi pemeriksaan dan atau pengujian kehalalan produk,” jelasnya.

Sukoso menambahkan, seluruh proses layanan sertifikasi halal harus masuk ke BPJPH sesuai kewenangan yang diatur dalam pasal 6 UU 33 tahun 2014. BPJPH juga terus mengembangkan Sistem Informasi dan Manajemen Halal dan mensinergikannya dengan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kemenag.

“BPJPH juga mendorong berdirinya LPH-LPH baru sesuai amanat UU 33 tahun 2014. BPJPH saat ini sudah mendidik 226 calon Auditor Halal. Jika tiap LPH minimal 3 auditor, diharapkan ke depan akan bisa berdiri 79 LPH,” katanya. iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com