SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kasus Korupsi Pasar Modern Natuna, 8 Terdakwa Divonis 10 Tahun Penjara

  • Reporter:
  • Rabu, 24 April 2019 | 10:10
  • Dibaca : 79 kali
Kasus Korupsi Pasar Modern Natuna, 8 Terdakwa Divonis 10 Tahun Penjara
Delapan terdakwa perkara tindak pidana korupsi menjalani sidang pembacaan tuntutan di PN Tipikor Tanjungpinang, Selasa (23/4). f Muhammad Bunga Ashab

PINANG – Majelis Hakim memvonis delapan terdakwa perkara tindak pidana korupsi Pasar Modern Natuna mulai dari 4-10 tahun penjara di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungpinang, Selasa (23/4). Mereka adalah Minwardi, Lukman Hadi, Duwi Satrio Prasetyo, Z Harry, Dimas Adi Prasetyo, Muhammad Assegaf, Mohammad Basyir Idris dan Nur Syamsi Tridiatmo.

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Santonius Tambunan didampingi Hakim Anggota Iriaty Khairul Ummah dan Yon Efri menyatakan empat terdakwa Minwardi, Lukman Hadi, Duwi Satrio Prasetyo dan Z Harry bersalah secara sah dan menyakinkan. Santonius mengatakan, perbuatan keempat terdakwa sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 2 jo pasal 18 ayat (1) huruf b UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU No. 20/2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31/1999 Jo. pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. “Menyatakan perbuatan terdakwa terbukti bersalah,” kata Santonius.

Santonius membacakan vonis untuk terdakwa Minwardi dijatuhkan hukuman pidana penjara selama 10 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 3 bulan penjara, terdakwa Lukman divonis 4 tahun dan denda Rp200 juta subsider 3 bulan penjara. Kemudian, untuk terdakwa Duwi divonisi selama 8 tahun dan denda Rp200 juta subsider 3 bulan penjara, sedangkan terdakwa Harry divonis 6 tahun 6 bulan dan denda Rp200 juta subsider 3 bulan penjara, serta membayar uang pengganti sebanyak Rp616 juta dan subsider uang pengganti 3 tahun 3 bulan penjara. “Masa tahan yang telah dijalani dikurangkan seluruhnya dengan putusan itu dan terdakwa tetap berada di dalam tahanan,” katanya.

Sementara untuk terdakwa Dimas, Assegaf, Basyir dan Syamsi sidang pembcaan putusan dipimpin Hakim Ketua Iriaty Khairul Ummah, didampingi Hakim Ketua Santonius Tambunan dan Weinanda. Iriaty juga menyatakan keempat terdakwa terbukti bersalah secara sah dan menyakinkan bersalah dalam pasal yang sama. “Terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama,” ujar Iriaty.

Iriaty menjatuhkan vonis kepada Dimas selama 6 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 3 bulan, Assegaf divonis selama 10 tahun penjara dan denda Rp20p juta subsider 3 bulan penjara, serta membayar uang pengganti Rp2 miliar subsider 5 tahun. Selanjutnya, terdakwa Basyir selama 4 tahun 6 bulan dan denda Rp200 juta, serta uang pengganti Rp70 juta subsider 2 tahun 3 bulan. Terakhir, terdakwa Syamsi divonis selama 6 tahun dan denda Rp200 juta subsider 3 bulan penjara. “Untuk uang pengganti apabila tak ada uang untuk membayarnya, maka harta bendanya akan disita untuk negara, apabila harta bendanya tidak ada maka diganti dengan kurungan penjara,” ujarnya.

Setelah membacakan putusan itu, majelis hakim memberikan kesempatan kepada para terdakwa dan jaksa penuntut umum Sukamto dan IG Punia untuk menanggapinya apakah menerima, pikir-pikir atau tidak terima (banding). Baik terdakwa maupun jaksa penuntut umum langsung menyatakan sikap pikir-pikir.

Assegaf mengaku merasa tidak adil dengan putusan yang diberikan majelis hakim. Menurut dia, hukumannya sudah tinggi ditambah harus membayar uang pengganti sebesar Rp2 miliar. “Putusannya tidak adil, saya tidak ada makan uangnya tapi hukumannya berat,” kata Assegaf dengan singkat.

Sebelumnya, jaksa menuntut terdakwa Minwardi selama 10 tahun penjara dan denda Rp250 juta subsider 3 bulan penjara, terdakwa Lukman Hadi dituntut sselama 4 tahun penjara dan denda Rp250 juta subsider 3 bulan, sebelumnya Lukman telah mengembalikan uang ke negara sebesar Rp916 juta. Terdakwa Duwi Satrio Prasetyo dituntut selama 8 tahun dan denda Rp250 juta subsider 3 bulan. Terdakwa Nur Syamsi dituntut selama 6 tahun dan denda Rp250 juta subsider 3 bulan.

Selanjutnya, terdakwa Dimas Adi Prasetyo dituntut selama 6 tahun penjara dan denda Rp250 juta subsider 3 bulan. Terdakwa Muhammad Assegaf dituntut selama 10 tahun penjara dan Rp250 juta subsider 3 bulan. Terdakwa Assegaf dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp2,045 miliar. Terakhir terdakwa Mohammad Basyir Idris dituntut selama 4 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp250 juta subsider 3 bulan, terdakwa juga dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp70 juta, dengan ketentuan harta bendanya dapat disita jaksa kalau tidak dibayarkan atau diganti hukuman penjara selama 2 tahun 3 bulan penjara.

Seperti diketahui, Kasus ini tercium Ditreskrimsus Polda Kepri karena ada dugaan kerugian negara pada proyek Pasar Modern Natuna sebesar Rp4,8 miliar. Proyek Pasar Modern di Natuna yang dilaksanakan 2014 diketahui tak tuntas karena sarat korupsi. Hasil penyidikan Polda Kepri, proyek itu jadi bancakan sejak awal lewat temuan uang muka 15 persen atau setara Rp4,8 miliar pada pencairan awal dibagi-bagi untuk sembilan orang, termasuk mantan Kepala Dinas PU Natuna Minwardi.

Pasar yang berlokasi di Jalan Mohammad Benteng, Kecamatan Bunguran Timur itu, dianggarkan lewat skema pembiayaan tahun jamak atau multiyears 2014 dan 2015. Total anggarannya sebesar Rp36 miliar yang dibagi dalam dua termin, Rp10 miliar pada 2014 dan Rp26 miliar pada 2015. Mangkraknya pembangunan pasar modern tersebut ditelusuri oleh jajaran Ditreskrimsus Polda Kepri hingga akhirnya menetepka sembilan orang tersangka.

muhammad bunga ashab

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com