SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kaya Benda Kuno, Warga Jemaja Jadi Pemburu Harta Karun

  • Reporter:
  • Rabu, 11 April 2018 | 11:03
  • Dibaca : 1744 kali
Kaya Benda Kuno, Warga Jemaja Jadi Pemburu Harta Karun
Kepala Desa Batu Berapit Umar bersama warga menunjukkan temuan belasan benda kuno. /jhon munthe

Selama puluhan tahun warga Pulau Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, punya kebiasaan menjadi pemburu harta karun. Bentuknya bisa berupa barang antik yang terbuat dari emas, piring sampai keris. Tak ada museum, barangnya terpaksa mereka rawat sendiri sampai ada yang beli.

JHON MUNTHE, Anambas

Tidak ada yang tahu kapan ide mencari harta karun ini muncul pertama kali. Tapi menurut warga, fenomena mencari harta karun muncul sejak era 1980-an.

“Tahun 1984 pertama kali saya mencari barang antik,” ujar Sapri (65), warga Desa Batu Berapit, Jemaja, Senin (9/4/2018).

Jemaja 34 tahun setelah fenomena itu tetap sama. Minggu (8/4/2018) lalu, 50 warga mencari barang antik di Kampung Tukik, Desa Mampok, Kecamatan Jemaja. Dari 50 pemburu harta karun, hanya satu yang berhasil menemukan tumpukan benda antik berupa 15 piring dan mangkok. Sembilan di antaranya masih utuh, sisanya pecah. Seluruh temuan itu disimpan di rumah warga yang berhasil menemukan, namanya Sopian.

Benda yang diyakini benda kuno itu terpaksa dirawat warga. Tidak ada museum di Anambas. Alhasil, tak jarang penemu benda itu menawarkan temuannya kepada kolektor barang antik. “Alangkah baiknya pemerintah yang membeli barang-barang antik ini,” ungkap Kepala Desa Batu Berapit Umar.

Umar juga punya hobi mencari harta karun. Ketika selesai bertugas di kantor desa setiap hari dia pergi mencari barang antik. Umar pernah menemukan mangkok warna biru yang tidak tahu umur pembuatan mangkok itu. Dia memperkirakan barang yang ditemukan warga dan dirinya sekitar ratusan tahun silam. “Mangkoknya masih tersimpan di rumah dengan baik,”sebut Umar.

Temuan benda antik di Jemaja tersebut bukan yang pertama. Setiap tahun ada saja temuan. Di salah satu rumah warga, ada koleksi benda antik. Saking banyaknya, disiapkan meja khusus. Bentuknya macam-macam, piring anti basi, peti harta karun, keris pusaka sampai seterika arang. Ada pula dokumen yang diyakini ijazah dan paspor pada zaman kolonial Belanda.

Benda-benda ini sempat dipamerkan ketika perhelatan seleksi MTW 2017 di Lapangan Sulaiman Abdullah, Tarempa. Ketika itu, ada kolektor asal Malaysia yang menawar piring anti basi dengan harga Rp150 juta tapi ditolak penemunya.

Melihat banyaknya benda kuno, tak aneh bila setiap hari libur banyak warga Jemaja yang menjadi pemburu harta karun. Ada yang menjadikannya hobi, ada juga yang menjadi pekerjaan. Warga setempat menyebut aktivitas itu dengan “Mengantik”. “Kalau sudah sekali mencoba “mengantik” maka akan ketagihan,” sebut Sapri.

Sapri ingat betul salah satu temuan yang bikin heboh Jemaja. Kejadiannya ketika Indonesia dilanda krisis moneter sekitar tahun 1999. Waktu itu masyarakat dikejutkan penemuan emas ketika kontraktor melakukan buka akses jalan Desa Mampok Kecamatan Jemaja. Wargapun beramai mencari harta karun itu, tapi hasil dari pencarian tersebut tergantung nasib juga.

Setelah itu warga dikejutkan lagi penemuan barang antik seperti mangkok, piring bahkan ada yang mendapatkan senjata tajam berbentuk keris yang bertuliskan asal dari kerajaan Majapahit. Mereka heran asal muasal barang antik itu bisa tiba di wilayah Jemaja ini apa penyebabnya.

“Kami tidak mengerti secara pasti, asal muasal barang tersebut bisa ada di wilayah Jemaja ini. Besar kemungkinan tempat persinggahan bagi warga negara asing yang menggunakan perahu layar ketika itu,” katanya.

Analisa Sabri bisa saja benar. Anambas tidak seberapa jauh dari daratan Indocina dan jadi jalur perdagangan internasional. Mengacu sejarah, pemerintah Belanda pun membangun sebuah mercusuar pada abad ke-18 di kepulauan ini untuk menjaga arus lalu lintas kapal-kapal dagang dari berbagai negara.

Jika barang antik dari mangkok, piring dan barang pecah belah lainnya di setiap barang yang ditemukan tersebut bertuliskan bahasa asal negara Tiongkok. Barang antik yang ditemukan sudah banyak juga yang terjual, persoalan harga yang dijual tergantung negosiasi antar pembeli dan penjual.

“Aneh tapi itu ada di pulau Jemaja barang antik dan harta karun. Kalau ingin mencoba ikut mengantik ayo ikut kami nanti sore,” ajak Sabri.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com