SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kebocoran Facebook Meluas

  • Reporter:
  • Rabu, 11 April 2018 | 12:34
  • Dibaca : 103 kali
Kebocoran Facebook Meluas

MENLO PARK – Kebocoran data Facebook kian meluas. Hal ini terindikasi dari ber tambah nya firma analisis yang dituding menyalahgunakan data akun media sosial terbesar tersebut untuk kepentingan tertentu.

Selain Facebook, kebocoran data juga berpotensi terjadi pada aplikasi lain yang berbasis internet. Ter utama aplikasi yang ketika melaku kan log in harus memasukkan data pribadi sepertinomorteleponmau pun email. Facebook Inc melaporkan telah menangguhkan firma analisis data CubeYou dan AggregateIQ (AIQ). Keduanya dituduh mengumpulkan informasi profil pengguna melalui aplikasi kuis untuk kepentingan kelompok tertentu, sama se perti Cambridge Analytica. Hanya, CubeYou dan AIQ memiliki metode dan motif berbeda. CubeYou yang meng klaim kuis nya sebagai riset aka demik nir laba dituding membagikan informasi para pengguna kepada vendor.

“Kami suspend CubeYou dari Facebook sem bari melakukan penyelidikan,” ujar Wakil Presiden Kemitraan Pro duk Face book Ime Archibong seperti dikutip cnbc.com. Jika mereka menolak atau gagal dalam audit yang dilaku – kan internal Facebook, aplikasi keduanya akan dilarang di – pasang di Facebook. “Kami juga akan bekerja sama dengan oto – ritasterkait,” tambahArchibong. Meluasnya penyalahgunaan data yang bersumber dari Facebook mendorong Kongres Amerika Serikat (AS) memanggil pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Facebook Mark Zuckerberg pada Selasa (10/4) dan Rabu (11/4) waktu setempat. Para pembuat kebijakan AS akan mempertanyakan kemampuan Facebook dalam melin dungi privasi pengguna dan upaya perusahaan itu men cegah menyebarnya berita bohong dan iklan-iklan politik. “Kami dapat melalui cara lembut atau keras,” ujar Senator John Kennedy.

“Saya tidak ingin mengekang Face book dengan aturan setengah mati. Tapi kami menghadapi dua masalah besar, yakni isu privasi dan isu pro paganda. Kekhawatiran terbesar saya ialah Zuckerberg sendiri tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.” Pekan lalu Facebook me – nyatakan 87 juta data peng guna disalahgunakan Cam bridge Analytica untuk pemasaran politik. Angka tersebut me – ningkat dibanding sepekan sebe lumnya yang hanya 50 juta data pengguna. Namun, Cambridge Analytica menepis angka tersebut. Mereka me nya takan hanya menerima sekitar 30 juta data pengguna dari Global Science Research.

Adapun CubeYou disinyalir menggunakan skenarionya mirip dengan Global Science Research yang diciptakan Aleksandr Kogan. Dia berhasil membobol informasi profil pengguna melalui aplikasi thisisyourdigitallife dan men – jual nya kepada konsultan politik. Dua hari sebelumnya Face – book Inc juga menangguhkan AIQ, perusahaan konsultan politik asal Kanada. AIQ diduga memiliki hubungan dekat dengan SCL, induk perusahaan Cambridge Analytica. Infor – masi kedekatan hubungan ter – sebut sudah dibocorkan man – tan direktur riset Cambridge Analytica Christopher Wylie kepada The Guardian pada akhir bulan lalu.

Sama seperti Cambridge Analytica, AIQ disebut menyalahgunakan akses terhadap data pribadi para pengguna Facebook. Saat ini Facebook Inc berada di bawah tekanan setelah data dari puluhan juta penggunanya dibobol pe ngembang aplikasi pihak ketiga, Aleksandr Kogan, yang menjual nya kepada Cam bridge Analytica. “Dalam laporan terbaru bahwa AIQ mungkin memiliki afiliasi dengan SCL dan memperoleh data pengguna Facebook. Kami akan memasukkan mereka ke dalam daftar sus – pended saat kami melakukan penyelidikan. Kami akan selalu bersikap kooperatif dengan otoritas berwenang,” ungkap Facebook Inc, dikutip Reuters .

CubeYou, pihak yang di – tangguhkan Facebook, menyatakan data sensus dari beragam situs web dan aplikasi sosial seperti Facebook dan Twitter untuk memperoleh informasi pribadi. CubeYou menekan kontrak dengan agen per iklanan yang ingin me nyasar tipe pengguna Face book tertentu. Mereka mem punyai segudang nama, email, nomor ponsel, alamat internet protocol, dll. Dalam laman resminya cubeyou.com, CubeYou mengaku mengetahui rincian informasi target seperti usia, gender, lokasi pekerjaan dan pendidikan, keluarga, dan hubungan sosial. Selain itu, mereka memiliki data like, follow, share, post, like to post, comment to post , check-in , dan mention merek atau selebritas favorit.

CubeYou diyakini memiliki 10 juta data pengguna, meski berdasarkan riwayat sebelum – nya mencapai lebih dari 45 juta data pengguna secara global. Sebagian besar dipanen dari Facebook dengan membuat kuis You Are What You Like, hasil kerja sama dengan Uni versitas Cambridge. Kuis itu dapat memprediksi kepriba di an pengguna. Sampai Minggu (8/4) pagi, dua versi aplikasi CubeYou masih aktif di Facebook. Aplikasi terbarunya bernama Apply Magic Sauce. CEO CubeYou Federico Treu mengatakan, perusahaannya memang terlibat dalam pengembangan aplikasi itu. Namun, mereka hanya bekerja sama dengan Universitas Cambridge selama kurun waktu 2013-2015.

Sementara itu, Aleksandr Kogan mengaku dijadikan kam bing hitam. Dosen pada Fakultas Psikologi, Universitas Cambridge, itu mengaku memanen 30 juta data peng – guna Facebook lewat aplikasi kepribadian yang dia kembang kan sendiri. Dia menye – rah kan data itu kepada Cam – bridge Analytica yang berhasil meyakinkannya bahwa tin – dak an itu legal. Namun, Kogan menyesal karena tidak bertanya lebih jauh. Maklum, berdasarkan per nyataan Cambridge Analytica, ada sekitar ratusan bahkan ribuan aplikasi yang melakukan hal serupa sehing – ga aktivitas itu sangat normal.

“Mereka meyakinkan saya bah wa semua ini legal dan sesuai aturan,” katanya, dikutip theguardian.com. Kogan mengaku tidak mengetahui bagaimana infor masi tersebut digunakan. Tapi, dia merasa sangat kecewa jika data itu memengaruhi demokrasi seperti referendum Brexit dan Pilpres AS 2016. Bagi Kogan, data itu tidak 100% akurat, bahkan secara praktik lemah, tapi Cambridge Analytica mampu menjualnya kepada para klien.

Blokir Facebook Bukan Solusi

Dari dalam negeri, wacana pemblokiran situs media sosial Facebook akibat kebocoran data penggunanya dinilai bukan solusi yang tepat. Pasalnya, situs pertemanan terbesar di dunia itu dinilai telah turut memberikan manfaat kepada masyarakat. “Blokir tidak akan bisa me nyelesaikan akar masalah yang sesungguhnya. Dampak yang ditimbulkan justru semakin buruk,” kata Ketua DPR Bambang Soesatyo di Jakarta kemarin. Dia meminta pemerintah memberikan solusi terbaik mengatasi pencurian data tersebut. Facebook sudah memberi banyak manfaat untuk masyarakat seperti kalangan usaha kecil dan menengah (UKM) yang menjadikan media sosial tersebut sebagai sarana promosi.

“Di saat negara belum bisa memberikannya, Facebook sejak awal sudah mampu me – nyediakan ‘marketplace’ sederhana untuk rakyat mengem – bangkan usaha. Masa semua – nya harus gulung tikar karena persoalan kebocoran data?,“ gugatnya. Namun, mantan Ketua Komisi III DPR ini mengakui bahwa persoalan kebocoran data pengguna adalah masalah serius dan Facebook selama ini tak pernah transparan. Baru setelah data pengguna bocor dan dimanfaatkan oleh Cambridge Analytica, praktik tak terpuji Facebook selama ini terbongkar.

Di bagian lain, pengamat marketing Yuswohady berpendapat, kasus penyalah – guna an data pribadi oleh Cambridge Analytica dan firma analisis data lain ditengarai bisa lebih banyak. Untuk itu, dia mengimbau agar pem beri an data pribadi dilaku kan secara hati-hati. “Ini baru ujung dari gunung es, saya yakin data yang me rugikan konsumen banyak sekali, misal – nya Google, Amazon, dan Apple. Ini mem buka sebuah cakrawala baru bahwa pemberian data pribadi bisa merugikan kita,” jawabYuswohadysaatdi hubungi KORAN SINDO di Jakarta kemarin. Di dalam dunia pemasaran, menurut Yuswohadi, pemanfaatan data pribadi telah umum digunakan produsen untuk mengarahkan konsumen dalam memilih sejumlah produk tertentu.

Namun, apa yang dilakukan Facebook bisa merugikan penggunanya. Alas annya, data dari para peng – guna Facebook dimanfaatkan untuk hal yang tidak mereka inginkan. “Dari kejadian di luar negeri terkait politik di AS dan Inggris, tanpa kita sadar data pengguna dimanfaatkan untuk hal tidak diinginkan. Ini berbeda pada saat pro dusen mengarahkan kon sumen dalam memilih pro duk, karena dalam persaing an bisnis itu sudah biasa,” urainya.

Yuswohady memastikan perlunya ketegasan regulasi dan payung hukum dari pemerintah seperti dilakukan di Eropa yang telah memiliki undang-undang yang mengatur tentang data pribadi. “Eropa telah mengeluarkan undang-undang. Ketika mereka menjual atau meman faatkan data pribadi ke pihak lain tanpa persetujuan bisa dikenakan tuntutan. Jadi, ini tugas regulator, kita tidak bisa apaapa karena semua terpusat di big data, tinggal orang yang berkepentingan yang meman – faatkannya,” katanya.

Heru febrianto/ kiswondari/muh shamil

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com