SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kejari: Penangkapan Tiga Mobil Eks Singapura Terburu-buru

  • Reporter:
  • Rabu, 26 Juni 2019 | 15:19
  • Dibaca : 223 kali
Kejari: Penangkapan Tiga Mobil Eks Singapura Terburu-buru
ilustrasi Foto Teguh Prihatna.

BATAM KOTA – Kasus penangkapan tiga unit mobil bekas asal Singapura oleh Lantamal IV Tanjungpinang dan Bais pada Januari lalu masih meninggalkan tanda tanya. Kepala Kejaksaan Negeri Batam, Dedie Tri Hariyadi menganggap, penangkapan terhadap ketiga mobil tersebut sangat terburu-buru sehingga menyulitkan proses penyelidikan.

Dedie mengatakan, proses penyelidikan terhadap tiga mobil yang masih berada di gudang PT Batam Trans masih berlangsung. “Ranahnya masih penyelidikan sehingga belum bisa dipublikasikan. Kami harus sesuaikan dengan aturan pidana. Kalau sudah ada pemberitahuan penyidikan ke kami, baru teregister. Di situ kami melakukan pengawasan. Tapi sampai sekarang belum ada. Masih kewenangan sana (bea cukai),” ujarnya, kemarin.

Ia menganggap penangkapan tersebut terburu-buru dikarenakan Batam yang memiliki status Free Trade Zone (FTZ). “Batam ini FTZ kan? Kalau FTZ, di mana letak perbuatan melawan hukumnya? Kapan ada kerugian negaranya? Kerugian negara timbul kalau barang itu keluar dari Batam. Jadi pendapat kami, penangkapan itu terburu-buru. Harusnya tunggulah barang itu keluar dari Batam. Di situlah kerugian negaranya,” kata Dedie.

Menurut Dedie, bila informasi yang ada menyebutkan tiga mobil mewah tersebut akan diangkut ke Jakarta melalui Batam, maka penangkapan bisa saja dilakukan di Jakarta bila memang diketahui tidak adanya pembayaran PPN. “Jadi kalau memahami hukum, jangan setengah-setengah. Jangan menimbulkan opini publik seolah-olah itu terbukti,” kata Dedie.

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Lantamal IV Tanjungpinang, Mayor Marinir Saul Jamllaay mengaku kaget dengan keterangan yang disampaikan oleh Dedie. Menurutnya, Dedie terkesan kurang memahami permasalahan yang ada.

“Mobil itu masuk ke Batam kan tidak dilengkapi dokumen, artinya bodong. Mobil bodong boleh nggak masuk ke Batam? Ya nggak boleh. Lalu kenapa dia ngomong seperti itu. Itu sama saja dia menunjukkan, mohon maaf nih, gimana deh. Saya mau bilang itu, nggak enak nanti,” katanya.

Saul menjelaskan, status Batam sebagai kota FTZ tak lantas memperbolehkan mobil seken masuk ke Batam. “Jangankan mobil. Baju bekas saja tidak boleh masuk. Ballpres saja ditangkap-tangkapin. Jadi kok lucu ya statementnya seperti ini?,” ujarnya.

Menurut Saul, TNI Angkatan Laut tidak akan berbuat konyol dengan melakukan penangkapan terhadap barang yang dilengkapi dengan dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB). “Logika saja, apakah Angkatan Laut mau nangkap barang ada PIB dari Singapura? Nggak mungkinlah kami tangkap. Apalagi informasinya dua unit yang dikirim pakai kontainer sudah sampai Jakarta. Artinya kecolongan dong kita. Jadi dasar hukumnya kami melakukan penangkapan karena mobil itu mobil bodong, tidak ada dokumen,” kata Saul.

Saat ini, lanjut Saul, kewenangan terhadap 3 mobil tersebut telah beralih ke Bea Cukai setelah pihaknya melakukan pelimpahan. “Itu sudah kami limpahkan, berkas dan juga mobilnya. Karena kami juga tidak punya gudang untuk menyimpan mobil itu. Jadi untuk proses selanjutnya, silahkan tanya saja ke bea cukai,” katanya.

Sebelumnya diketahui, jajaran Lantamal IV Tanjungpinang dan Bais mengungkap kasus penyelundupan tiga mobil mewah eks Singapura yang disimpan di Gudang PT Batam Trans. Ketiga mobil tersebut yakni Nissan Skyline GTR33 warna putih tahun 2000, Nissan Skyline GTR 34 tahun 2000 dan sedan Pantera warna merah tahun 1972. Dari hasil pengembangan diketahui bahwa mobil ini berjumlah lima unit dari negara asal dan dua di antaranya yakni mobil Ferrari dan Porsche telah sampai di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok. aini lestari

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com