SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Keluarga Korban Laporkan Kasus Persekusi ke Polresta Barelang

  • Reporter:
  • Jumat, 21 September 2018 | 10:39
  • Dibaca : 106 kali
Keluarga Korban Laporkan Kasus Persekusi ke Polresta Barelang
Perwakilan LPSK bertemu Propam Polresta Barelang untuk koordinasi kasus persekusi yang dialami RS, siswa SMK SPN Dirgantara, kemarin. f dok lpsk

BATAM KOTA – Keluarga RS, siswa SMK SPN Dirgantara akhirnya melaporkan kasus persekusi yang dialami anaknya ke Polresta Barelang. Korban yang masih trauma kini juga mendapat perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), karena khawatir akan ancaman dari pelaku.

Wakil Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo mengatakan, pihaknya memberikan perhatian serius pada kasus penganiayaan yang dialami RS. Kedatangan perwakilan LPSK ke Batam untuk berkoordinasi dengan penegak hukum dan mengecek kondisi fisik dan psikologi korban, serta memastikan korban mendapatkan haknya untuk mendapatkan perlindungan.

“Kami berkoordinasi dengan Propam Polresta Barelang untuk mendapatkan informasi mengenai sudah sejauh mana penanganan kasus penganiayaan siswa SMK SPN Dirgantara ini, karena pelakunya diduga oknum anggota Polri,” ujarnya di Mapolresta Barelang, Kamis (20/9).

Menurut dia, LPSK akan memberikan perlindungan kepada korban dan keluarga korban dalam proses hukum yang saat ini sedang berjalan setelah melaporkan kasus persekusi ke Polresta Barelang. “Laporan tindak pidana ini sudah masuk Selasa (18/9) lalu. Karena keluarga korban menganggap perdamaian dengan pihak sekolah dilakukan dalam keadaan terpaksa,” kata Hasto.

Sesuai ruang lingkup kerja berdasarkan undang-undang, LPSK akan memberikan perlindungan kepada korban dan keluarga. Apalagi, hasil penelusuran LPSK, pihak keluarga khawatir akan potensi ancaman dari pelaku.

Selain masih dilanda ketakutan, dari hasil pertemuan dengan korban, diketahui setelah mengalami penganiayaan, RS menderita luka fisik yang kini masih dirasakan setiap pagi, khususnya di bagian perut akibat dipukul. “Untuk mengetahui kondisi psikologi korban, kami melakukan asesmen awal untuk mengetahui trauma pada diri korban akibat perlakuan yang diterima,” katanya.

Hasto mengatakan, tindakan oknum guru pembina SMK SPN Dirgantara tidak sesuai dengan pendidikan sekolah, karena adanya tindak kekerasan. Tak semestinya oknum kepolisian yang menjadi pembina melakukan pemborgolan dan menahan siswa di ruangan yang seperti sel.

“SMK ini masih sekolah walaupun swasta, dan para siswa dilindungi pemerintah. Jangan pernah melakukan tindak kekerasan maupun persekusi yang membuat mental siswa turun,” katanya.

Ia menambahkan, LPSK juga akan mengawal kasus ini bersama instansi lain yang konsen terhadap masalah anak, mulai dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di tingkat pusat hingga Komisi Pengawas dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri, serta Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kepri.

Ketua KPPAD Kepri, Erry Syahrial mengaku sebelumnya mengharapkan keluarga korban membuat laporan pidana kasus persekusi tersebut. Namun, ia tidak mengetahui apakah keluarga korban dalam keadaan terpaksa dalam proses mediasi sebelumnya.

“Kalau sekarang pihak keluarga korban membuat laporan pidana, itu hak korban,” kata Erry.

Dengan dibuatnya laporan pidana, KPPAD akan mengawasi proses hukum yang sedang berjalan, dan diharapkan proses hukum berjalan sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku di Indonesia. “Hukum harus tetap berjalan, walaupun itu anggota kepolisian sekaligus yang melakukan tindak pidana,” ujarnya.

Kasat Reskrim Polresta Barelang, AKP Andri Kurniawan mengatakan, belum bisa berbicara banyak terkait kasus ini. Ia mengaku kasus ini sudah selesai dari hasil mediasi beberapa hari yang lalu. “Ya, saya belum mendapatkan kabar juga ya, karena tadi pihak LPSK ke Kanit PPA,” kata Andri. romi kurniawan

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com