SINDOBatam

Terbaru Spirit+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kerupuk Ikan, Citra Ekonomi Perempuan Tambelan

  • Reporter:
  • Selasa, 2 Mei 2017 | 10:33
  • Dibaca : 1148 kali
Kerupuk Ikan, Citra Ekonomi Perempuan Tambelan
Seorang ibu rumah tangga di Tambelan menjemur kerupuk ikan yang baru diproduksinya, Minggu (30/4). M ROFIK

BINTAN – Meski berada sekitar 250 mil dari Ibu Kota Kabupaten Bintan, terjauh dibanding kecamatan lain, namun untuk urusan membantu suami mencari tambahan uang, para perempuan di Kecamatan Tambelan tak kalah dari perempuan di perkotaan. Mereka selalu dipenuhi ide untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Di antara banyak jenis usaha yang digeluti kaum perempuan di kecamatan ini, pembuatan kerupuk ikan menjadi paling favorit. Jika datang ke Tambelan, di sepanjang jalan utama akan langsung terlihat ibu-ibu rumah tangga menjajakan kerupuk ikan.

Kerupuk-kerupuk itu ada yang sudah digoreng, ada yang belum. Modelnya, dari yang potongan bulat, kotak, bulat memanjang, hingga jenis kerupuk atom. Warnanya juga macam-macam, ada merah, hijau, kuning dan tak berwarna. Yang jelas, semua kerupuk itu berbahan dasar sama, ikan.

Harganya bervariasi, tergantung perbandingan banyak atau sedikitnya ikan yang dicampurkan ke tepung untuk bahan kerupuk. Serta jenis dan kualitas ikan, juga harga ikan pada saat pembuatan. Harga terendah Rp30 ribu per kilogram (kg), dengan bahan dasar ikan tamban, mata besar, dan sejenisnya. Untuk yang berbahan dasar ikan tenggiri, harganya bisa mencapai Rp50 ribu/kg.

“Kalau bahannya ikan tenggiri mentah, lebih mahal lagi, bisa Rp100 ribu/kg,” kata Mak Lung Tina (46), seorang pembuat kerupuk ikan khas Tambelan, Minggu (30/4).

Mak Lung mengatakan, produksi kerupuk ikan dimulai dari proses penangkapan ikan oleh nelayan. Kemudian, para istri nelayan akan mengolahnya menjadi kerupuk. Kerupuk yang sudah jadi, akan dijual dengan cara dititipkan ke warung-warung, dikirim ke luar Tambelan seperti Bintan dan Tanjungpinang hingga Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat.

“Hampir setiap rumah di sini membuat kerupuk ikan. Sudah jadi oleh-oleh khas Tambelan,” katanya.

Untuk membuat 1 kg kerupuk ikan tenggiri, kata Mak Lung, caranya adalah 1/2 kg ikan tenggiri dicampur 1/2 kg tepung, lalu ditambah garam. Semua bahan kemudian diaduk atau diuleni. Untuk menarik konsumen, sebagian diberi pewarna makanan.

Adonan itu kemudian digulung memanjang. Berikutnya, dipotong-potong atau diiris tipis. Setelah itu, irisan kerupuk basah dijemur di halaman rumah selama 3-4 hari. Setelah kering, kerupuk-kerupuk itu dibungkus dan dipasarkan di warung-warung hingga dikirim ke luar Tambelan.

Setiap hari, Mak Lung memproduksi kerupuk ikan 3 kg sampai 6 kg. Ia dibantu ketiga anaknya sepulang sekolah.

“Hasilnya lumayan, bisa membantu suami mencari nafkah,” katanya.

Menurut Mak Lung, permintaan kerupuk tinggi saat musim orang menikahkan anaknya, dan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. “Kalau ada pesta, biasanya pesan 10 kg kerupuk kering,” katanya.

Ibu rumah tangga produsen kerupuk ikan lainnya, Fahira juga mengaku senang bisa membantu suami mencari nafkah.

“Punya uang hasil keringat sendiri, sangat senang. Kalau kami tidak buat kerupuk ikan begini, mana punya uang sendiri. Ini pun bagus bisa meringankan beban suami,” kata ibu tiga anak ini.

Kepala Dinas Perikanan Bintan Fachrimsyah mengatakan, produksi kerupuk ikan Tambelan memang sudah cukup dikenal di Bintan. Gerakan ekonomi kerakyatan itu sangat positif dan layak dibantu pemerintah untuk pengembangannya.

“Kerupuk ikan Tambelan itu sudah menjadi citra, oleh-oleh khas daerah sana. Kerupuk ikan itu menjadi bukti kuatnya ekonomi perempuan Tambelan,” katanya.

Ia mengajak para ibu ruma tangga pembuat kerupuk ikan begabung dalam kelompok usaha bersama atau koperasi, agar mendapatkan bantuan modal, peralatan maupun manajerial, agar usahanya terus tumbuh dan berkembang.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com