SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Ketika Pulau-pulau Indah Jadi Markas Gangster

Ketika Pulau-pulau Indah Jadi Markas Gangster

:: Penayangan Perdana Film Gangster Kampung Man

Perhimpunan perfilman Anambas (Panglima) meluncurkan karya perdana mereka Gangster Kampung Man. Karya anak daerah ini mengangkat bagaimana narkoba mengubah kehidupan sosial di kabupaten paling utara Indonesia.

Man baru selangkah turun dari kapal, seorang pria lari sambil membawa tas. Di dekatnya ada penumpang teriak dicopet. Man sejurus kemudian mengejar pencopet pelabuhan itu. Pencopet itu tak sendiri, dia punya komplotan. Man berhasil membuat komplotan itu takluk lewat perkelahian.

Man baru kembali lagi ke Anambas setelah 15 tahun merantau ke Jakarta. Dia meninggalkan adik kandungnya, Ayu, untuk diasuh sang bibik. Dua bersaudara ini hancur hatinya 15 tahun lalu. Berbulan-bulan sang Ayah tak pulang demi mencari nafkah dengan menangkap ikan.

Tak ada yang membawa kabar kalau ayahnya tenggelam di laut atau hilang ditelan bumi. Anambas 15 tahun kemudian sudah dikuasai narkoba dan gangster. Pulau-pulau kecil yang dulunya indah kini jadi markas jaringan narkoba. Ayu, telah menikah, dengan gembong narkoba. Man berniat membawa adiknya ke Jakarta tapi harus berjuang menembus markas-markas gangster.

Adegan ini mengawali bagian pertama film Gangster Kampung Man yang baru dirilis, Selasa (23/5) malam di Hotel GGI, Batam. Sutradaranya adalah Sarman Galang dan film kedua dia. Film berdurasi 90 menit. Film berlatar belakang keindahan alam Anambas.

Karya Sarman ini mengangkat kehidupan di Anambas yang dikreasikan dengan imajinasinya. Film berbudjet Rp100 jutaan dan masa produksi selama satu tahun. “Pesan utamanya, dampak buruk peredaran narkoba di Anambas,” ungkap Sarman.

Lokasi syuting diambil di beberapa tempat yang indah seperti air terjun dan pantai di Anambas. Film juga diharapkan jadi media promosi untuk menunjukkan keindahan alam kabupaten ini. Gangster Man masih ditayangkan terbatas. Sarman masih melengkapi persyaratan agar bisa tayang di layar lebar lewat bioskop dan seluruh daerah di Kepri.

Karya anak perbatasan ini cukup memukau ratusan penonton yang hadir. Tampak saat penayangan perdana, Ketua Dewan Kesenian Kepri Husnizar Hood, Sekda Anambas Sahtiar, Kadis Pariwisata Kepri Buralimar, Wakil Ketua DPRD Anambas, Ketua DPRD Kota Batam Nuryanto dan Kepala BNN Kepri Brigjen Nixon Manurung.

Husnizar Hood, mengapresiasi karya dari anak daerah. Apalagi film dibuat di kabupaten perbatasan dengan genre yang cukup berani. “Luar biasa. Sulit daerah lain meniru film ini karena lokasi dan genrenya,” ujar dia.

Tapi Gangster Man bukan tanpa kritik. Di mata Husnizar, adegan koreograsi perkelahian masih perlu diasah. Kualitas audio juga perlu diperhatikan. Tema film yang mendapat nilai lebih. Pesan moral masalah narkoba di Kepri memang nyata-nyata terjadi. Dia juga menilai bila film ini bisa menembus layar lebar, tentu berdampak besar bagi Anambas. Terutama untuk media promosi pariwisata.

“Anambas bukan daerah biasa. Ada penyair besar, sejak dulu telad ada karya seni dari sana,” sebut dia.

Sementara bagi Pemkab Anambas, karya film Gangster Kampung Man menjadi kebanggaan karena diproduksi putra dan putri daerah. Sekda Anambas Sahtiar sempat ragu film bisa diselesaikan. “Awalnya saya tidak percaya film ini bisa diluncurkan. Pesan saya jangan lupa kampung halaman kalau sudah sukses,” ungkap dia.

Mohammad Delta, salah satu anggota Panglima, ingin karya mereka menembus pasar nasional. “Ini mimpi kami semua. Anambas dikenal, dan keindahan alamnya bisa dilihat,” ujar dia.

Panglima sadar karya mereka masih butuh masukan tapi setidaknya mereka telah berani berkarya meski jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang sibuk dengan masalahnya masing-masing.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com