SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kisah Andrei Simanjuntak Mengenal PKS

  • Reporter:
  • Kamis, 16 Agustus 2018 | 18:37
  • Dibaca : 847 kali
Kisah Andrei Simanjuntak Mengenal PKS

Laki-laki berperawakan tinggi besar masuk ke ruangan. Tiba-tiba keheningan hadir. Mungkin sebagai apresiasi terhadap tamu yang diundangnya. Apalagi tamu yang datang kali ini beda, bahkan sangat beda dengan yang biasa.

Karena ternyata dalam sesi perkenalan dan diskusi yang terjadi di tengah-tengah acara, terbuka sesuatu hal yang menarik dari si tamu tersebut. Ketika salah satu peserta diskusi bertanya, : “Saya penasaran dan akhirnya melakukan searching di Google, sebab hanya sedikit tokoh Batak yang bermarga Simanjuntak. Bahkan di Batam ini belum ada. Jika di level Nasional kami mengenal Marsillam Simanjuntak, tokoh angkatan ’66, tokoh Reformasi, dan bagian dari Kabinet Gus Dur dengan jabatan terakhir Jaksa Agung.”

Pertanyaan ini di jawab oleh si tamu : ”Marsillam Simanjuntak kebetulan adalah ayah saya.”

Cinta Pertama
“Kepri, terlebih Batam memiliki sejarah yang menarik buat dirinya,” itulah kalimat pembukanya, tentu setelah bertahmid kepada Allah dan bershalawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Wajah-wajah serius peserta pun menunggu kisah menarik apa yang akan disampaikan oleh laki-laki berkepala plontos bernama Andrei itu tentang kota mereka.

“Saya mulai jatuh cinta dengan PKS saat berkunjung ke Batam pada tahun 2003,” begitu ceritanya. Ia ke Batam waktu itu dalam rangka menjadi narasumber untuk sebuah seminar. Disitulah ia bertemu dengan Zulkieflimansyah, pengurus pusat PK (Partai Keadilan), cikal bakal PKS, yang juga menjadi narasumber di seminar yang sama.

Zulkieflimansyah sudah mengenal keluarga Andrei sejak lama karena ia pernah menjadi mahasiswa Ibunya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Diskusi dengan Zulkieflimansyah berujung kepada ketertarikan untuk bergabung dengan PK.

“Ada satu kalimat dari Zul yang menjadi hook alias kail yang mengait saya sehingga menjadi tertarik”, kenang Andrei. “PK is a learning community”. PK adalah komunitas bagi para pembelajar. “Nah, saya adalah seseorang yang sangat suka belajar, terutama mengenai the Human Condition, kondisi kemanusiaan.

Jawaban Zul itu yang membuat saya terjun dan melibatkan diri dengan PK sampai sekarang setelah bermetamorfosis menjadi PKS”. Fast Forward ke 2018 sekarang, Zulkieflimansyah adalah Gubernur terpilih di NTB dari PKS dan Andrei adalah pengurus pusat di DPP PKS di Badan Hubungan Luar Negeri.

Perjalanan Spiritual
Andrei lahir dari pasangan Orang Tua yang melek ilmu. Kedua Orang Tuanya adalah Alma Mater Universitas Indonesia. Sejak remaja ia sudah di Amerika, ketika itu sekeluarga mengikuti ayahnya yang sedang melakukan Extended Research di UC Berkeley, California selama dua tahun. Ia sendiri juga menyelesaikan studi S1 dan S2-nya di negeri Paman Sam.

Andrei muda seperti kebanyakan anak muda seumurannya, pernah coba-coba “menyerempet” hal-hal negatif, yang merupakan ekses dari pergaulan yang salah. Namun ia cepat sadar dan mengembalikan roda kehidupannya di rel yang benar. Dan ia mengakui bahwa kembalinya ke jalan yang benar menjadi mungkin karena tertolong oleh proses spiritual yang memberinya kekuatan untuk itu.

Awal perjalanan spiritualnya ia lalui bersama Jamaah Tabligh. Ia berkenalan dengan mereka ketika bekerja di Malaysia di tahun 1999. Bersama jamaah yang aktif berdakwah ini ia mulai mengasah berbagai ilmu dan sikap keislaman, berkeliling ke berbagai daerah di Malaysia seperti Perlis, Penang, Langkawi dan persekitaran KL. Di Indonesia, daerah terjauh yang pernah didatanginya adalah Timika, Papua.

Puncak dari pengalaman berdakwah ini adalah ketika ia berkesempatan untuk bergerak di IPB (India, Pakistan dan Bangladesh) pada tahun 2001. Meskipun Andrei mengakui, bahwa ia sudah mulai berkurang aktifitasnya di Jamaah ini setelah ia menunaikan ibadah Haji di tahun 2007, dikarenakan kesibukan antara lain di PKS dan pekerjaan sehari harinya, ia juga mengatakan bahwa pengalamannya di Jamaah inilah yang memberikan fondasi spiritual yang tak tergoyahkan sampai sekarang. “Disitulah saya mulai mengerti “Ruh” dari agama”, ujarnya.

“Spiritualitas” Jamaah Tabligh yang menekankan kepada “Ruh” ia kombinasikan dengan gaya dakwah struktural dan sistematis PKS, didukung oleh kedisiplinan dan etika profesionalisme yang ia pelajari di Amerika. Sehingga tersajilah sosok yang ramah dan berilmu.

Kini ia diberi amanah untuk berlaga sebagai Caleg DPR RI DapilKepri. Bersama tiga orang rekannya sesama caleg dari PKS ia bertekad mengembalikan kursi PKS yang hilang pada Pemilu 2014.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com