SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Konsumen Offline Pentingkan Brand, Online Lebih Rasional

  • Reporter:
  • Senin, 19 Februari 2018 | 17:43
  • Dibaca : 700 kali
Konsumen Offline Pentingkan Brand, Online Lebih Rasional
ilustrasi

JAKARTA – Pola konsumsi ma syarakat memang berubah seiring perkembangan teknologi informasi. Tidak dipungkiri, belanja online telah menjadi bagian kehidup an masyarakat dalam berbelanja.

Namun, masih ada masyarakat yang menginginkan belanja offline. Masyarakat yang meng guna kan emosi dan mementingkan brand akanmemilihbelanja offline. Sedangkan masyarakat yang rasional memang lebih memilih be lanja online. Ketua Indonesia Marketing Association (IMA)De Yong Adrian mengungkapkan, konsumen offline cenderung masih mementingkan brand karena mereka melaku kan tatap langsung dengan barang yangdiinginkandanadaprestisedida lamnya.

Konsumen yang tergiur dis kon di mal cenderung lebih me miliki uang tunai yang memudahkan pembayaran. Sementara pembeli online lebih rasional dan lebih memiliki kesadar an akan ke butuh an yang benar-benar dibutuhkannya. Dalam dunia marketing komunikasi untuk memikat para kelompok pembeli online dibutuhkan pengala man dari peng guna produk ter sebut.

“Kelompok rasional membutuh kanbuktinyata, makajika dalamper dagangan online, tidak cukup hanya brand ambassador. Sedangkan di online menginginkan benchmark, apa ada orang yangsudahmenggunakansu dah dalam tahap puas atau tidak,” jelasnya.

Adrian mengungkapkan, ma sya rakat yang berbelanja offline untuk mengisi waktu bah kan untuk menyenangkan hati sehingga masyarakat kelom pok offline sering melihat diskon di pusat per belanjaan dan ber ujung membeli hal yang sebe tul nya tidak dibutuhkan. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengungkap kan, mal saat ini harus bisa menyenangkan pengunjungnya.

Pusatperbelanjaanjangan ada lagi yang melarang pengunjungnya untuk berfotofoto. Justru seharus nya mal bisa mem percantik diri agar men jadi background yang bagus untuk pengunjung berfoto. Menurutnya, fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini ialah mereka ingin menunjukkan dirinya apakah sudah naik kelas atau belum, melalui tempat-tempat yang dikunjunginya.

Yang di tunjukkan bukan hanya tempat wisata, namun pusat perbelanjaan pun dapat menunjukkan diri mereka me lalui pengalaman yang dilaluinya. “Ke mal juga kita melihat seka rang ini kalau membeli ma kanan atau minuman sebelum dimakan pasti difoto dulu, mengantre ses uatu juga foto untuk diceritakan di media so sialnya. Nah, kita bisa me lihat dari situ, pengunjung secara tidak langsung juga mempro mo si kan mal tersebut.

Karena itu, mal harus memberikan pe ngalaman dan kesan yang ber beda kepada pen gunjungnya,” jelasnya. Menyoal kegemaran masya ra kat yang berbelanja online, Stefanus menganggap lumrah dan masih ba nyak juga yang berbelanja mementingkan brand ternama. “Jangan lupa berfoto di outlet sebuah brand terkenal juga membawa kebanggaan,” tambahnya.

Hal lain yang patut dicer mati tentang pola konsumsi masyarakat adalah tren kon sumsi produk lokal. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengatakan, pe merintah saat ini terus mengampanyekan produk-produk lokal. Produk lokal bukan sekadar difokuskan untuk perdagangan offline, melainkan juga ya ng dipasarkan secara online.

“Kemendag akan meng atur penyelenggara perdagangan elek tronik menjual 80% produk lokal pada marketplace. Hal ini dilakukan untuk mencegah tersainginya produk impor pada e-commerce yang beroperasi di Indonesia,” tandasnya. Menyoroti segala tren konsumsi masyarakat saat ini, Tjahya menyebut produk yang masih memiliki permintaan tinggi di pasaran selain barang kon sumen yang bergerak cepat adalah kebutuhan bera gam ba rang elektronik.

Sesuai ke ma ju an teknologi tentu gene rasi masa kini pun berlomba untuk terus mengikuti tren. Dengan demikian, jangan heran setiap bulan seLalu ada ponsel keluaran terbaru dan tak sedikit masya rakat yang ingin terus mengikuti perubahan gaya hidup. Menyambut baik aturan yang akan dibuat Kemendag terkait produk lokal, pakar komunikasi dan periklanan Indira Abidun menyebut memang brand lokal tengah menarik perhatian masyarakat.

Menurutnya, produsen Indonesia makin pintar memanjakan konsumen dengan gaya yangtidakbisaditandingi brand luar. “Brand lokal bisa tahu duluan apa yang orang lokal inginkan. Jadi brand lokal lebih kenaataumenjualdanakhir nya jadi lebih disukai orang Indonesia,” jelasnya.

Menurut Indira, bukan hanya produk lokal yang saat ini semakin berinovasi, melainkan tempat wisata pun memiliki perkembangan yang sa ngat signifikan. Dia mencontohkan Kota Malang yang kini memiliki kebun binatang ber kelas dunia serta beragam pusat hiburan seperti Museum Angkut dan Jatim Park 1-3 yang berkelas.

“Semua pesan yang di sampaikan dalam dunia hiburan di Malang menggunakan bahasa lokal yang orang Indonesia paham dan akhirnya menjadi sangat menarik. Oleh-olehnya pun sudah mirip dengan pineapple cake ala Taiwan, Jepang, dan soal rasa tidak kalah lezatnya ter ma suk kemasannya yang isti mewa,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, menu rut Indira, semua tren konsumsi masyarakat men dorong perekonomian Indonesia sehingga tahan banting terhadap krisis. Tetapi, hal itu tetap harus selaras dengan peningkatan produktivitas agar margin terbesar tetap masuk ke Indonesia dan bukan kenegara lain.

Indira mengungkapkan, membangun brand merupa kan hal yang sangat penting agar produsen Indonesia juga semakin sejahtera, termasuk dalam meningkatkan investasi. Dengan pembangunan brand yang baik, konsumen tentu mau bayar mahal dan mencegah persaingan potong leher melalui harga.

ananda nararya

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com