SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kontroversi si Buntal

  • Reporter:
  • Senin, 18 Februari 2019 | 17:50
  • Dibaca : 334 kali
Kontroversi si Buntal

Oleh: Meyliana Anastasya Rumapea, Mahasiswi UMRAH

MERUPAKAN  bagian dari famili tertaodontidae, ikan buntal atau yang dalam Bahasa Inggris disebut puffer fish merupakan salah satu ikan beracun yang paling mematikan di dunia. Salah satu situs mengatakan bahwa, ikan ini adalah vertebrata beracun kedua yang paling mematikan, dimana posisi pertama ditempati oleh katak racun emas. Apa sebenarnya yang menyebabkan ikan ini menjadi sangat berbahaya?

Ikan buntal ternyata mengandung racun tetrodotoxin. Racun ini lebih berbahaya dibandingkan dengan  sianida. Racun ini bekerja dengan cara mencegah sistem saraf untuk menghantarkan aliran listrik. Hal ini dapat menyebabkan otot tidak dapat bekerja atau kelumpuhan. Jika racun ini mencapai jantung dan saluran pernafasan, maka akan meyebabkan kematian.

Tetrodotoxin ternyata digunakan ikan buntal sebagai alat pertahanan dari serangan pemangsa. Predator yang berhasil memangsa ikan buntal akan mengalami kematian dikarenakan racun ini. Di Pantai Congot, Yogyakarta, dalam kasus kematian seekor penyu yang dugaan awal kematiannya adalah karena memakan plastik, setelah dilakukan penelitian, yang ditemukan adalah kulit ikan buntal. Penemuan ini tentu saja sangat memprihatinkan.

Tak kalah memprihatinkan, ikan buntal juga telah memakan korban manusia. Ada banyak kasus kematian yang tercatat pernah terjadi di Indonesia. Di daerah Jawa Timur, dua orang meninggal dunia karena mengkonsumsi ikan buntal. Tak hanya itu, di daerah Tiban, satu orang meninggal dan satu lainnya kritis setelah menyantap ikan buntal.

Banyaknya kasus kematian diakibatkan ikan buntal membuat penilaian yang buruk tentang ikan buntal. Banyak yang beranggapan bahwa ikan buntal hanya membawa dampak buruk. Akan tetapi, para peneliti telah mematahkan asumsi akan hal ini.

Manfaat bisa didapatkan dari ikan buntal ini, yaitu dari racun tetrodotoxin yang dikandungnya. Ternyata, racun ini telah digunakan untuk kepentingan di bidang farmasi. Tetrodotoxin ternyata dapat digunakan sebagai anastesi. Obat berbahan utama tetrodotoxin yang pertama kali dipasarkan adalah tectin, yang dalam dosis kecil dapat mengurangi rasa sakit yang dialami pasien kanker.

Di Jepang, ikan buntal menjadi salah satu santapan lezat yang bernilai tinggi. Makanan yang dikenal dengan sebutan fugu disajikan oleh koki-koki bersertifikasi yang telah dilatih khusus untuk menangani ikan ini. Mereka harus mampu menghilangkan bagian beracun agar tidak mengkontaminasi daging ikan buntal yang akan disajikan.

Penyajian sendiri ikan buntal sangat tidak dianjurkan mengingat besarnya risiko kematian diakibatkan ikan ini. Indonesia sendiri belum memiliki koki bersertifikat yang mampu menyajikan ikan buntal tanpa racun. Hal ini tentu saja dikarenakan pelatihan yang memakan waktu yang sagat panjang.

Minimnya pengetehuan masyarakat umum akan risiko tetrodotoxin pada ikan buntal apabila dikonsumsi tentu saja sangat fatal. Kematian menjadi dampak terburuk dari kurangnya pengetahuan akan bahaya tetrodotoxin. Pengetahuan sejak dini perlu menjadi prioritas untuk mencegah pertambahan korban akibat tetrodotoxin pada ikan buntal.

Dukungan juga perlu diberikan kepada para peneliti untuk yang terus mengembangkan tetrodotoxin menjadi sangat bermanfaat. Dengan ditemukannya obat dari tetrodotoxin diharapkan mampu meningkatkan kesehatan masyarakat. Hal ini juga diharapkan mampu menghilangkan pikiran negatif tentang si buntal.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com