SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

KORAN SINDO BATAM Open, Ajang Perpisahan Ayip Rizal

  • Reporter:
  • Senin, 22 Mei 2017 | 12:54
  • Dibaca : 1116 kali
KORAN SINDO BATAM Open, Ajang Perpisahan Ayip Rizal
Ayip Rizal

BATAM – Penggemar bola voli Indonesia bakal kehilangan sosok idola. Pemegang dua medali emas SEA Games dan kapten Bhayangkara Samator, Ayip Rizal, telah memutuskan gantung sepatu usai KORAN SINDO BATAM Open 2017.

Artinya laga terakhir Ayip adalah set ketiga ketika dia bermain untuk Polda Kepri Samator melawan Bank BJB di perebutan tempat ketiga, kemarin sore. Keputusan pensiun juga sudah diungkap usai laga semifinal lawan PBV AD yang berujung kekalahan bagi Samator. Selama di Sporthall Temenggung Abdul Jamal sepekan terakhir, Ayip memimpin tim yunior Samator.

“Prestasi saya selama ini telah saya persembahkan untuk Indonesia. Sekarang waktu yang tepat untuk pensiun usai KORAN SINDO BATAM Open,” ujar atlet dijuluki ganter.

Kapten timnas sejak 2008 hingga 2015 ini memutuskan meninggalkan panggung voli tanah air karena ingin fokus menggapai karir sebagai polisi. Saat ini Ayip bertugas di Ditlantas Polda Jawa Timur.

Profesi yang ia emban sejak bergabung dalam Korps Bhayangkara sejak 2010. Tahun lalu sebenarnya Ayip telah benar-benar absen dari Proliga karena memilih fokus menjabat Kepala Samsat Tuban. Tapi dia kembali ke Samator pada tahun ini dan ikut mengarungi Proliga 2017 meski pada akhirnya timnya gagal melaju ke final.

Dua Emas dari Pemain Terbaik
Ayip sudah mempersembahkan banyak prestasi selama kariernya di lapangan voli dalam 10 tahun terakhir. Di masanya pula, voli Indonesia begitu berjaya di Asean maupun Asia.

Dia memimpin timnas voli dan mengantar Indonesia meraih dua emas di SEA Games 2007 dan 2009. Untuk Samator, klub yang membesarkan namanya seperti sekarang, pemain bertinggi 193 centimeter ini merasakan dua kali podium Proliga. Punya tinggi badan 193 centimeter, Ayip berposisi allround.

Dia juga pemegang titel pevoli terbaik Asia Tenggara tiga kali beruntun, 2008, 2009 dan 2010. Puncaknya, dia masuk lima pemain terbaik di Asia, setelah pemain dari Iran, China, Korea Selatan dan Jepang.

Kariernya di lapangan voli terbilang meroket dan terang benderang. Dari pemain yang tidak diperhitungkan di tim SMA di Banjarmasin dia menjadi idola voli Tanah Air. Samator membawa Ayip ke Surabaya pada 2004 lalu ketika dia tampil mengganti pemain inti yang cedera. Setahun kemudian Ayip sudah masuk pelatnas. Butuh tiga tahun untuk Ayip dipanggil timnas dan mengemban kapten tiga tahun.

Mau tidak mau setiap era akan usai dan berganti. Si genter Ayip sudah bisa disejajarkan dengan legenda voli Indonesia. Tosser legendaris Loudry Maspaitela dan spiker Joni Sugiyanto.

Ayip sudah menyerahkan estafet ke pemain era saat ini. Regenerasi pemain yang juga menjadi alasan di balik Ayip gantung sepatu. Dia sudah yakin timnas berada di tangan yang tepat. “Banyak atlet muda berbakat yang bisa meraih prestasi jauh di atas saya,” ujar Ayip.

Tentu beban berat ada di pundak timnas sekarang. Ayip cs adalah skuat timnas terakhir yang meraih medali emas pada 2009. Pada 2011 dan 2013, Indonesia hanya puas di posisi runner up. SEA Games 2015, Indonesia terhenti di semifinal setelah kalah dari musuh bebuyutan, Thailand. Tahun ini adalah ajang pembuktian. Timnas voli untuk SEA Games 2017 sudah diumumkan untuk membangun kejayaan Indonesia lagi.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com