SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kualitas Udara di Batam Mulai Tak Sehat, Sekolah Rencana Akan Diliburkan

  • Reporter:
  • Kamis, 19 September 2019 | 10:43
  • Dibaca : 127 kali
Kualitas Udara di Batam Mulai Tak Sehat, Sekolah Rencana Akan Diliburkan
Siswa di salah satu SD Negeri kawasan Baloi bermain di halaman sekolah, beberapa waktu lalu. Plt Gubernur Kepri Isdianto berencana meliburkan sekolah akibat kabut asap yang kian menebal di Batam. f dok sindo batam

BATAMKOTA – Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Kepri Isdianto berencana meliburkan aktivitas belajar mengajar di sekolah. Langkah ini diambil karena dampak kabut asap kian menebal. Kemarin, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berada di atas 100 atau kategori tidak sehat.

Kabut asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera menyelimuti seluruh wilayah Kepri, termasuk Kota Batam. Selain itu, juga terdapat titik api atau hotspot di sejumlah daerah di Kepri.

“Kita lihat besok. Apakah meliburkan sekolah atau mempercepat proses belajar. Ada kewenangan gubernur, wali kota jika memang harus kita lakukan,” ujarnya didampingi Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Erlangga dan stakeholder lainnya di Graha Kepri Batam Centre, Rabu (18/9).

Ia mengatakan, pihaknya akan meliburkan aktivitas sekolah jika ISPU berada 230 ke atas. Menurutnya, angka tersebut sudah masuk kategori mengkhawatirkan bagi kondisi kesehatan anak-anak. “Apalagi setelah dapat informasi terbaru kondisi ISPU yang sebelumnya berada di angka 170 sudah mulai turun di angka 114,” katanya.

Pemprov Kepri, katanya, menyediakan sekitar 100 ribu masker yang dibagikan ke masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga akan mengirimkan sekitar 500 ribu masker tambahan untuk Provinsi Kepri.

“Bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama pada sekolah, pasar dan tempat-tempat umum lainnya yang banyak beraktivitas di luar ruang atau gedung, menyediakan masker secara gratis,” katanya.

Pihaknya terus melakukan langkah-langkah dalam menyikapi persoalan tersebut. Langkah tersebut sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yang disampaikan kepada pemerintah daerah, Kapolda dan Danrem beberapa waktu lalu terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Disampaikan Presiden sanksi hukum tidak ditolerir, untuk yang membakar hutan. Makanya, pak Kapolda langsung action dengan rapat dan melakukan langkah, mengantisipasi supaya tidak terjadi kebakaran,” tegasnya.

Ia juga mengaku terus berkoordinasi dengan pihak terkait dalam memantau kondisi udara di Kepri. Di mana, pengukuran ISPU terus dilakukan hingga kondisi kualitas udara dinyatakan kembali pada kategori baik, oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Batam dan Kementerian Lingkungan Hidup RI.

“Kami mengimbau agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah atau gedung. Jika terpaksa pergi keluar rumah, sebaiknya menggunakan masker,” ujarnya.

Selanjutnya, jika dirasakan ada gangguan pernafasan segera mendatangi fasilitas kesehatan, setempat seperti rumah sakit, puskesmas dan lainnya. “Kami juga mengimbau kepada fasilitas kesehatan untuk pro aktif segera memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.

Sementara untuk pemerintah kabupaten/kota diharapkan juga dapat melakukan pengadaan masker sesuai kebutuhan. Demikian dengan sektor swasta untuk dapat berpartisipasi aktif dengan menyediakan masker secara mandiri.

“Dengan memberikan masker langsung ke lapangan atau melalui pemerintah daerah,” katanya.

Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Erlangga mengatakan, telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Karhutla yang terdiri dari stakeholder. Di antaranya, Tagana, BMKG, Basarnas, Polisi kehutanan dan Ditpam serta lainnya.

“Saat rapat pertama titik rawan atau hotspot sebanyak 117 titik. Dan sampai hari ini tersisa 10 titik. Daerah rawan berada di Bintan dan Natuna,” katanya.

Selama 2019, katanya, pihaknya sudah menangkap 15 orang terkait Karhutla di Kepri. “Hingga Agustus paling banyak ditangani di Polres Bintan,” ujarnya.

Kepala Kantor BMKG Hang Nadim Batam Suratman mengatakan, melihat kondisi hotspot hingga Rabu (18/9) belum juga berkurang, pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Mencegah jangan sampai terjadi peristiwa karhutla baik dalam skala kecil maupun besar antara lain dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang sampah sembarangan,” katanya.

Ditambahkan Suratman, segera padamkan api sebelum menjadi besar, tidak membuka lahan dengan cara membakar. Mengingat kondisi saat ini jarak pandang mendatar (visibility) di wilayah Kepri cukup rendah berkisar antara 2.000 sampai 4.000 meter.

“Dimohon masyarakat lebih berhati-hati dan waspada dalam perjalanan terutama tranportasi laut,” katanya.

Jarak Pandang Hang Hadim 4.000 Meter

Meski kabur asap yang menyelimuti beberapa kawasan di Kepri, termasuk Batam, namun Bandara Internasional Hang Nadim Batam masih aman untuk tranportasi penerbangan.

“Hang Nadim mulai berkabut pagi ini, jarak pandang 4.000 meter namun masih aman untuk penerbangan,” kata Direktur Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim, Suwarso

Dijelaskannya, pada pagi Rabu (18/9) tersebut ada 3 penerbangan yang baru mendarat yakni Lion, Citilink dan Garuda. Ini membuktikan Hang Nadim masih aman untuk tranportasi udara.

“Masih normal, 4.000 meter kalau di Hang Nadim masih aman,” ujarnya.

Meski begitu, dikatakaannya ada juga penerbangan yang dibatalkan. Namun bukan karena kendala dari Hang Nadim namun kendalanya dari bandara tujuan.

“Ada batal Susi Air ke Padang batal, dan ada juga yang delay seperti Wings Air ke Natuna dengan nomor penerbangan IW 1270 dan Lion Air dari Padang dengan nomor penerbangan JT 129,” kata Suwarso.

Terkait kabut asap yang juga sampai ke negara tetangga Singapura, Suwarso mengatakan hingga saat ini belum ada permintaan pengalihan dari Bandara Changi Singapura ke Hang Nadim Batam maupun sebaliknya.

“Changi ke sini dan sebaliknya belum ada permintaan pengalihan penerbangan,” katanya.

Hal ini kemungkinan lantaran fasilitas kedua bandara yang cukup memadai. Karena menurutnya jarak pandang tergantung fasilitas dan saat ini belum ada pengalihan penerbangan Singapura dan Batam.

“Tergantung fasilitas bandara juga, contoh Hang Nadim 1.000 meter saja masih aman karena dilengkapi ILS, DVOR serta landasan 4.000 meter dan Changi juga lebih baik,” ujarnya.

Dijelaskannya, masing masing bandara memiliki fasilitas yang berbeda. Jadi meskipun alat yang canggih namun tidak didukung oleh landasan pacu yang yang kurang memadai juga membuat keterbatasan tersendiri.

“Keputusan pelaksanaan akan mendarat atau landing itu diputuskan Pilot In Command (PIC) salah satunya jarak pandang dan fasilitasnya,” tutupnya.

iwan sahputra/dicky sigit rakasiwi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com