SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Lahan Pertanian Warga Mengering

  • Reporter:
  • Rabu, 21 Agustus 2019 | 09:41
  • Dibaca : 96 kali
Lahan Pertanian Warga Mengering
ilustrasi

LINGGA – Debit air di Lingga menipis, pasokan air ke warga mulai terkendala. Pemerintah diminta turun tangan untuk memenuhi kebutuhan air di daerah ini. Hal yang sama juga dialami warga Anambas.

Kabag Hublang PDAM Kabupaten Lingga Khaidir meminta agar masyarakat Kabupaten Lingga untuk lebih berhemat dalam mengunakan air bersih. Pasalnya kemarau panjang mengakibatkan pasokan air bersih mengalami kekurangan.

“Banyak sumber air mulai mengering terutama di waduk milik PDAM, hal ini tidak dapat kita hindari,” ujar Khaidir, Selasa (20/8). Meski demikian pihaknya akan semaksimal mungkin untuk dapat menyalurkan air bersih ke sejumlah pelanggan khususnya yang ada di Dabo Singkep.

Sementara di Anambas, akibat kemarau yang panjang membuat para petani yang ada di Pulau Jemaja terpaksa beralih profesi menjadi nelayan. Sebab kebun milik mereka tidak bisa ditanami karena kering.

“Sebagian ada warga yang sempat melanjutkan bercocok tanam, tetapi harus bekerja ekstra. Kalau tidak, akan berdampak pada gagal panen,” kata Ketua KNPI Kecamatan Jemaja, Mudahir, Selasa (20/8).

Hal yang sama juga disampaikan warga Kecamatan Jemaja Timur, Edi mengakui aktivitas bercocok tanam menurun, akibat kemarau yang berkepanjangan. Selain itu irigasi juga tidak beroperasi.

“Penanam padi, jagung dan cabai di Jemaja Timur turun drastis akibat lahan kering. Kemudian irigasi yang sebelumnya diharapkan warga sebagai pengairan lahan bercocok tanam tidak beroperasi,” ujarnya.

Edi mengamati, kalau sejumlah petani banyak yang beralih profesi. Hal tersebut diakui sebagai jalan pintas untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. “Ada sebagian warga bekerja di kebun durian, dan tak jarang juga petani pergi melaut,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Kepulauan Anambas, Effi Sjuhairi mengakui kalau aktivitas petani menurun di Pulau Jemaja akibat kemarau berkepanjangan. “Sebelumnya ada sejumlah kelompok tani yang kita bina untuk menanam padi dan cabai. Untuk itu sudah panen, namun sebagian malah jadi nelayan,” ujarnya.

Mengenai irigasi, lanjut Effi, memang mengalami kerusakan dan debit air juga terbatas. Sehingga tidak bisa mengairi lahan petani. Disana ada empat titik mesin irigasi yang rusak, saat ini sudah berupaya diperbaiki. “Kondisi ini membutuhkan waktu untuk memperbaiki mesin irigasi. Agar disaat musim kemarau, petani tetap bercocok tanam,” jelasnya.

jamariken tambunan/jhon munthe

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com