SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Lahan Tidur Bertambah, BP Sulit Datangkan Investor

  • Reporter:
  • Senin, 17 April 2017 | 13:14
  • Dibaca : 499 kali
Lahan Tidur Bertambah, BP Sulit Datangkan Investor
Kepala BP Batam Hatanto Reksodipoetro. / Dok KORAN SINDO BATAM

BATAM KOTA – Keterbatasan lahan menjadi salah satu kendala utama BP Batam mendatangkan investor. Banyaknya lahan tidur yang dikuasasi sejumlah perusahaan juga menjadi penyebab sulitnya mencari lahan bagi investor baru yang akan berinvestasi.

Kepala BP Batam Hatanto Reksodipoetro mengatakan, pihaknya mencatat ada sekitar 7.700 hektar lahan yang telah dialokasikan kepada 2.600 perusahaan, namun tak kunjung ada pembangunan sampai saat ini. Jumlah lahan tidur bertambah sekitar 500 hektare dari yang sebelumnya tercatat di BP Batam sebanyak 7.200 hektare.

“Menyelesaikan ini benar-benar tidak mudah. Kami sedang berusaha bagaimana lahan-lahan tidur itu bisa segera dimanfaatkan oleh perusaha-perusahan yang sudah mendapatkan alokasi lahan,” ujarnya, Minggu (16/4).

Hatanto mengaku sudah memanggil sejumlah perusahaan yang telah diberikan alokasi lahan tersebut, dan beberapa di antaranya komitmen untuk segera meneruskan pembangunan. Hanya saja pihaknya tidak mengetahui jumlah pasti perusahaan yang sudah menyatakan siap untuk kembali melakukan pembangunan di atas lahan tidur tersebut.

Pihaknya mengaku saat ini sangat berhati-hati dalam mengundang investor, sebab masalah lahan sangat penting dan dibutuhkan untuk pengembangan industri di Batam. Dia berharap seluruh elemen masyarakat bisa mendukung BP Batam untuk menciptakan suasana lebih harmonis dan lebih tenang. “Supaya investor tertarik mau berinvetasi di Batam. Namanya juga mengundang tentu harus memberikan pelayanan yang baik,” katanya.

Persoalan lahan yang dinilai sangat rumit juga membuat pihaknya tidak bisa memberikan target berapa lama bisa menyelesaikan persoalan di BP Batam tersebut. Pasalnya tidak hanya persoalan lahan saja yang harus diselesaikan pimpinan BP Batam, melainkan banyak persolan lainnya yang harus diselesaikan untuk membuat ekonomi lebih baik lagi.

Selain lahan tidur, sertifikat hak guna bangunan (HGB) yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebanyak 230 ribu juga tidak sinkron. Dimana data yang ada di BP Batam tercatat hanya 40 ribu HGB, karena itu ini juga menjadi persoalan baru. Saat ini masih ada sekitar 190 ribu HGB lagi yang datanya tidak jelas dan masih diteliti oleh BP Batam. “Saya tidak berani membuat target, jadi kami lihat perkembangannya nanti bagaimana. Yang jelas kami sedang bekerja sekarang ini,” kata Hatanto.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com