SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Laporan Bosar ke Polisi Berlebihan, Saparudin Bantah Tampar Anggota Bawaslu

  • Reporter:
  • Selasa, 21 Mei 2019 | 21:30
  • Dibaca : 225 kali
Laporan Bosar ke Polisi Berlebihan, Saparudin Bantah Tampar Anggota Bawaslu
Tokoh dan Pendiri Persatuan Pemuda Tempatan (Perpat), Saparuddin Muda

BATAMKOTA – Tokoh dan Pendiri Persatuan Pemuda Tempatan (Perpat), Saparuddin Muda membantah telah menampar anggota Bawaslu Batam, Bosar Hasibuan. Ia menilai tuduhan berujung laporan polisi itu sangat berlebihan.

“Berita di beberapa media menurut saya tidak sesuai lah kejadian di Bawaslu saat itu. Yang benar saya mengelus pipinya, tapi dia (Bosar) bilang saya nempeleng dia,” ujarnya di Batam Centre, Selasa (21/5).

Menurut Saparudin, tindakan yang dilakukannya karena terbawa emosi dengan sikap Bosar yang dinilainya lancang, dan terlalu sombong memvonis laporan dugaan pidana pemilu yang dilayangkan oleh Saparudin tidak jelas.

“Secara spontan karena bahasanya itu tidak sesuai dan menganggap kasus yang dia bawa tidak jelas, saya secara spontan pegang pipinya,” kata Saparuddin.

Kejadian tersebut dimulai ketika Bosar bertemu dengan anggota Saparudin dan membahas terkait kasus pelanggaran pemilu yang ditangani Bawaslu terkesan tebang pilih.

Saat itu, Saparuddin dan anggota Perpat mendatangi Kantor Bawaslu Batam untuk melakukan audiensi, tapi ternyata audiensi terpaksa diundur karena Bawaslu sedang melaksanakan rapat dan waktu terlanjur sore.

Begitu memutuskan untuk melanjutkan audiensi besok bersama Ketua Bawaslu Batam, di teras Kantor Bawaslu, Saparuddin beserta anggotanya bertemu dengan Bosar.

“Begitu saya mau masuk datang lah satu anak muda terkait masalah ini, kebetulan Iswandi anggota saya kenal sama beliau. Dan bilang itu kasus yang ada jangan tebang pilih lah lalu terjadilah debat panjang di antara mereka,” ujarnya .

Mendengar perdebatan tersebut, Saparudin kembali ke luar dari mobilnya dan langsung mendekati pada Bosar. Hal itu dilakukan Saparuddin karena menilai pernyataan yang diberikan Bosar terlalu lancang, dan melangkahi Ketua Bawaslu.

“Pak Reza (Ketua Bawaslu Batam) aja gak bikin statement, kok dia laju kali bikin statement, makanya saya tempel dia,” kata suami dari anggota DPRD Kepri, Asnah dan Ririn Warsiti ini.

Ia lalu berkata kepada Bosar untuk tidak tebang pilih terhadap kasus yang masuk ke Bawaslu. “Yang jelas dijelaskan saja jangan yang jelas dikaburkan dan yang kabur dijelaskan,” katanya.

Pernyataan tersebut justru dibalas oleh Bosar jika kasus yang ditangani Bawaslu dari kasus yang masuk hanya kasus yang jelas dan dinilai sudah matang saja.

Hal itulah membuat dirinya semakin emosi dan melakukan kontak fisik dengan Bosar. “Saya elus pipinya kau masih muda ngomong jangan sembarangan hormati orang tua, kau jangan kurang ajar,” ungkapnya.

Sapar mengaku, saat itu memang berbicara dengan nada tinggi di depan Kantor Bawaslu Batam karena terpancing pernyataan Bosar yang dinilai meremehkan laporan dugaan pelanggaran Pemilu 2019 yang dia laporkan.

“Nada saya tinggi karena terpancing bahasanya yang menganggap kasus yang kami bawa (laporkan) masih mentah,” ujarnya.

Karena tidak mampu menahan emosi, dirinya terpaksa menuntut Bawaslu untuk menyelesaikan kasus laporannya yaitu politik uang yang diduga dilakukan Calon Anggota DPRD Provinsi Kepri, Nyanyang Haris Patimura.

“Saat itu saya katakan kalian kalau menyelesaikan kasus ini hingga habis Lebaran tidak selesai, kami akan datang dengan massa yang besar. Nanti kalian baru tahu,” kata Saparuddin.

Padahal kasus tersebut sudah ditutup oleh Gakkumdu karena jangka waktunya sudah habis, dan saksi kunci tidak kunjung ditemukan. Oleh karena itu pihaknya tidak terima, dan meminta kasus ini diperjelas.

Namun walaupun begitu, ia menegaskan tidak pernah mengucapkan kalimat akan meratakan Kantor Bawaslu. “Tidak ada kata-kata saya yang mengatakan saya meratakan kantor Bawaslu, kalau ada saya berani tanggung jawab,” katanya.

Bahkan ketika Bosar dikejar oleh anggota Saparuddin, dirinya yang menyuruh anggotanya turun dan mundur. Saparudin berteriak sebelum anggota polisi menarik senjata api yang dibawanya.

“Saya tak segila itu mau meratakan kantor pemerintah, lebih baik saya bunuh diri daripada mengorbankan orang banyak untuk kepentingan pribadi. Kata-kata akan meratakan Kantor Bawaslu setelah lebaran, saya bukan orang gila dan saya juga bukan orang yang tidak tahu hukum,” kata Saparuddin.

Sebelumnya, Anggota Bawaslu Batam Bosar Hasibuan melaporkan Saparuddin Muda ke Polresta Barelang atas kasus penganiayaan. Ia mengaku ditampar Saparuddin perihal kasus yang ditangani Bawaslu yang dinilai tebang pilih dan tidak netral.

Bosar membuat laporan ke Polresta Barelang bersama Anggota Bawaslu Batam Divisi Hukum, Mangihut Rajaguguk. Bosar mengaku, kejadian berawal dari masa ormas Perpat melakukan demonstrasi di Kantor Bawaslu Batam terkait beberapa kasus yang lepas dari penanganan Bawaslu.

“Ormas ini meminta Bawaslu kasus video yang viral seperti kasus caleg Gerindra Nyanyang, dan kasus money politik di Bengkong tidak ditindak lanjuti,” ujarnya saat membuat laporan polisi di Mapolresta Barelang, Senin (20/5) malam.

Lanjut Bosar, sekitar pukul 16.00, setelah shalat Asar, ia menyambut Saparudin di lantai bawah Kantor Bawaslu dan menanyakan perihal aksi demo dilakukan Perpat.

“Saparudin mengatakan kenapa kasus Muhammad Yunus yang merupakan temuan bisa langsung jadi tersangka. Hanya ngomong-ngomong aja jadi tersangka,” ujar Bosar menirukan perkataan Saparudin.

Ia menjelaskan, Saparudin juga menuturkan bahwa kasus money politik yang videonya sempat viral tidak ada tersangka yang diamankan Bawaslu Batam, sedangkan kasus temuan langsung jadi tersangka. “Saya jelaskan bahwa Bawaslu tidak bekerja sendirian, dan untuk kasus Muhammad Yunus ada bukti lengkap,” ungkap Bosar.

Mendengar perkataan Bosar, Saparudin lalu mengancam pihak Bawaslu, di mana habis lebaran akan menghabisi Bawaslu. “Saya langsung tanya, kok gitu. Terus Saparudin mengatakan, tak senang kau ya? Saparudin langsung menampar saya di pipi sebelah kanan,” katanya.

Melihat kejadian tersebut, lanjut Bosar, anggota Perpat berkumpul dan mengejarnya. Ia pun lari ke lantai dua gedung Bawaslu, dan anggota kepolisian yang berjaga langsung mengeluarkan senjata untuk membubarkan masa yang ingin naik ke atas.

“Melihat polisi sudah mengeluarkan senjata api, masa ormas Perpat langsung melarikan turun dan bubar,” ujar Bosar. hendra zaimi/romi kurniawan

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com