SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Lara Sang Rambo

  • Reporter:
  • Jumat, 9 Maret 2018 | 17:38
  • Dibaca : 134 kali
Lara Sang Rambo

Milenial Dibandingkan versi Angelina Jolie yang seksi, Lara Croft ala Alicia Vikander terasa lebih naif, tapi cerdas. Namun, itu tak cukup untuk membuat film ini terasa berbeda.

Tomb Raider menjadi film reboot pertama, setelah film dari video game ini dibuat pada 2001 dan sekuelnya pada 2003. Saat itu Angelina Jolie dinilai berhasil membawa imajinasi sosok Lara yang seksi dan tangkas ke layar lebar.

Pada tahun ini sutradara Norwegia, Roar Uthaug, mencoba menampilkan Lara dalam bentuk yang berbeda, yaitu saat dia masih sangat muda, naif, idealis, juga keras kepala. Sosok aktris Swedia, Alicia Vikander, yang berwajah imut pun jadi terasa pas mengisi posisi ini. Meski sesungguhnya Jolie berusia lebih muda saat pertama kali menjadi Lara.

Diceritakan, meski ayahnya, Lord Richard Croft (Dominic West), sudah menghilang tujuh tahun lalu, Lara tetap menolak menandatangani akta kematian ayahnya. Padahal, jika dilakukan, dia berhak mendapatkan seluruh harta warisan keluarga yang melimpah.

Sebaliknya, Lara lebih memilih hidup luntang-lantung dan bekerja sebagai kurir makanan dibandingkan mengakui bahwa ayahnya sudah wafat. Kenangan manisnya bersama sang ayah terlalu indah sehingga membuat Lara terus menyangkal kenyataan.

Saat kondisi keuangannya makin darurat, dan karyawan ayahnya, Ana Miller (Kristin Scott Thomas), memaksanya untuk menandatangani akta tersebut, Lara akhirnya menyerah. Namun, sedetik sebelum dia menan – datangani akta, Lara menemukan fakta bahwa ayahnya ternyata memberikannya sebuah teka-teki untuk dipecahkan.

Sebuah teka-teki yang langsung membawanya pergi ke Hong Kong. Dimulai dari sini, pergerakan cerita Tomb Raider lantas jadi mirip film-film laga jadul yang menyajikan adegan laga repetitif. Lara menghadapi situasi kritis, nyaris mati, tapi akhirnya selalu bisa selamat sampai akhir.

Dari mulai diterjang mahabadai, terjebak di bangkai pesawat, hingga lolos dari reruntuhan mahadahsyat. Lara bagai Rambo yang selalu lolos dari maut, tak peduli jika caranya sangat tak masuk akal atau nyaris mustahil. Pada era milenial ini, memakai resep Rambo tentu sudah terasa usang, lagi membosankan.

Tapi itulah yang terjadi. Resep ala Indiana Jones , yaitu Lara yang berpetualang untuk memecahkan misteri yang dirintis ayahnya, pun kurang berhasil diterapkan karena tertutupi dengan banyak sekali adegan laga yang mudah ditebak. Karakter Lara yang sebenarnya kuat dan cerdas, jadi ikut tertutupi.

Termasuk juga kerapuhan Lara akibat ditinggal ayahnya saat baru saja beranjak remaja, dan kerinduannya yang besar akan sosok ayah yang pengasih. Jadi, jika hanya berharap menonton adegan aksi tanpa akhir, Tomb Raider mungkin masih menyenangkan. Namun, jika berharap lebih dari itu, lupakan saja.

Bahkan, pesona Vikander masih kalah dibandingkan Jolie, setidaknya untuk di film pertama ini. Meski begitu, akhir cerita memberikan sedikit harapan. Bahwa sekuelnya mungkin akan jauh lebih menarik dan penuh intrik dibandingkan film pertamanya. Lara versi Vikander juga tampaknya akan lebih matang. Kita tunggu saja.

herita endriana

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com