SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Legit Menggigit Kue Lapis Palembang

  • Reporter:
  • Senin, 5 Maret 2018 | 17:16
  • Dibaca : 2903 kali
Legit Menggigit Kue Lapis Palembang

Belum banyak orang tahu ada penganan khas Palembang selain pempek. Tiga macam kue lapis yang rasanya begitu legit: maksuba, kojo, dan engkak ketan. Apriyani memperkenalkan kue-kue ini di rumahnya.

Maksuba, kojo, dan engkak ketan punya nilai tersendiri bagi wong kito galo, sebutan untuk warga Palembang. Terlebih yang merantau ke daerah lain termasuk Batam. Seperti Apriyani dan suaminya, Indra Kusuma. Kue-kue ini tak mudah ditemukan. Karena memang hanya dibuat di momen tertentu seperti Lebaran dan pernikahan.

“Di Palembang, kue lapis ini untuk hidangan Lebaran. Jadi hantaran dan barang lelang di pesta pernikahan. Zaman dulu malah jadi makanan kerajaan. Sekarang siapa saja boleh makan,” kata Apri, sapaan ibu empat anak ini di rumahnya di Buana Bukit Permata, Tembesi, Batam, Minggu (4/3/2018).

Di rumahnya itu, setiap kali Hari Raya, Apri selalu menyajikan maksuba, kojo, dan engkak ketan, selain pempek dan tekwan, untuk tamu-tamunya. “Kalau tak buat, mereka pasti menanyakan makanan Palembang,” katanya tertawa.

Tiga macam kue lapis ini hampir mirip dengan lapis legit yang sudah dikenal di Indonesia. Teksturnya sama, berlapis-lapis. Karena dibuat dengan cara dipanggang selapis demi selapis. Rasanya juga sama-sama manis. Sebab menggunakan banyak gula, telur, dan margarin. Bedanya, kue lapis Palembang tak memakai bumbu rempah (spekuk) seperti pada lapis legit. Telurnya pun digunakan utuh. Sementara lapis legit hanya bagian kuning telur.

Maksuba, kojo, dan engkak ketan, meski sama-sama berjenis kue lapis, memiliki sedikit perbedaan pada bahan dan cara pembuatannya. Kojo dibikin dari santan kental, tepung terigu, telur 10-15 butir, gula pasir, susu kental manis, margarin, serta air perasan daun suji dan pandan.

“Maksuba nggak pakai santan. Terigu sedikit, hanya 10 gram. Telurnya lebih banyak. Kojo menggunakan santan kental yang dimasak sampai keluar minyak. Tak pakai terigu tapi tepung ketan. Memanggangnya juga ½ jam lebih lama,” kata Apri.
Memanggang ketiga kue lapis ini mirip dengan memanggang lapis legit. Pada lapisan pertama, oven disetel dengan api atas dan bawah. Dipanggang selama 3-5 menit hingga kecokelatan. “Lapisan seterusnya cukup pakai api bawah. Lama manggang sesuai ketebalan setiap lapisan. Tebal seluruhnya bisa sampai 30-40 lapis. Tergantung selera pembuatnya,” kata Apri.

Menurut Apri, alat pemanggang dulu tak seperti sekarang yang sudah canggih dan praktis. “Nenek saya dulu manggangnya pakai kekep. Seperti tutup panci dari tanah liat yang dibakar di atas api. Lalu diletakkan di atas loyang yang sudah diisi adonan. Prosesnya lama sekali karena dilakukan per lapis,” katanya. Cara tradisional itu, kata Apri, masih dipraktikkan di kampung-kampung, terutama oleh para orang tua.

Baik maksuba, kojo, maupun engkak ketan, lebih enak bila dinikmati dua hari setelah dibuat. “Lembut dan legitnya lebih terasa,” kata Apri. Meski begitu, kue ini dapat bertahan hingga satu minggu. Bahkan bisa mencapai satu bulan bila disimpan di dalam kulkas dalam kondisi dibungkus plastik (plastic wrap).

Dulu Lihat Nenek, Kini Buka Kursus
Setiap anggota keluarga Apri, terutama yang wanita, wajib menguasai cara membuat kue kojo, engkak ketan, dan maksuba. Dari generasi sang nenek, ibu, sampai Apri dan seorang saudarinya bisa membuat kue-kue ini. Meski begitu, Apri justru belajar membuat kue lapis ini dari mengikuti kursus di Palembang. Bukan dari sang nenek.

“Saya suka melihat nenek bikin kue. Tapi dulu nenek bikinnya ribet dan lama. Karena masih pakai cara tradisional. Pakai kekep yang dipanaskan, lalu ditaruh di atas loyang. Begitu terus selapis demi selapis. Bikinnya juga banyak,” kata Apri.

Di tempat kursus, mentornya mengajari dengan memakai peralatan yang lebih modern, oven. Ilmu dari kursus tersebut kemudian ia praktikkan di Batam. Namun Apri tak mengikuti resep seperti yang diajarkan secara murni. Sebab kata dia, kue yang dihasilkan akan terasa sangat legit. Karena memang begitulah kue lapis asli Palembang. “Resep saya modifikasi. Kalau sama persis, tidak akan seperti ini. Ini saja rasanya sudah manis sekali,” katanya.

Apri lalu mengunggah kue bikinannya ke akun media sosialnya di Facebook atau Instagram. “Dari situ, ada yang tanya-tanya dan minta dibuatkan,” katanya. Kebanyakan pemesan adalah orang Palembang yang tinggal di Batam seperti dirinya. Namun tak jarang dari suku lain yang penasaran dan ingin mencoba mencicipi.

“Di sini sepertinya belum ada yang jual. Biasanya mereka pesan untuk Lebaran, kawinan, atau arisan,” katanya. Ketiadaan penjual kue lapis Palembang di Batam mendorong Apri untuk mengajari ibu-ibu yang ingin mahir membuat kue ini. Kegiatan latihan bersama ia gelar di rumahnya. Peserta dibatasi maksimum delapan orang. “Kalau hanya satu atau dua orang, dihitung kelas privat,” katanya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com