SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Mendamba Pendidikan Merata di Pinggiran Batam

  • Reporter:
  • Selasa, 19 Maret 2019 | 22:48
  • Dibaca : 216 kali
Mendamba Pendidikan Merata di Pinggiran Batam
Anak-anak terlihat antusias belajar besama LPI di ruang terbuka, duduk lesehan di tikar dan diteduhi rindangnya pepohonan di Kampung Nanas, Batubesar, Nongsa. /SINDOBATAM/ASRUL RAHMAWATI

SEYOGIANYA pendidikan wajib bagi setiap anak. Itu sebabnya sekolah pun digratiskan. Namun bagaimana jika orang tua memaknai pendidikan dengan keterbatasan? Sehingga sekolah bukan urusan nomor wahid. Anak- anak pun belajar ala kadarnya. Mereka ketinggalan pelajaran bahkan putus sekolah.

ASRUL RAHMAWATI, Batam

Arsen, Putra, Haikal dan Eril merubung buku ensiklopedia tentang dunia dalam laut. Anak- anak yang saat ini duduk di kelas 2 SD 010 Nongsa ini duduk lesehan begitu saja di tikar. Sandal mereka ditinggalkan di luar tikar. Mereka belajar di ruang terbuka. Pokok- pokok rambutan, mangga dan jambu menaungi sehingga terhindar dari panas matahari.

“Hari ini kami belajar matematika, tapi karena sudah selesai mengerjakan soal, boleh baca-baca,” ujar Arsen, anak kecil berambut kriwil dengan kulit legam khas daerah Timur.

Setiap Minggu sore, halaman belakang salah satu warga di Kampung Nanas, RT 02, RW 09 Kelurahan Batubesar, Nongsa itu ramai, seperti ada yang piknik. Tikar digelar. Air mineral kemasan gelas disediakan.

Pukul 14.00 anak- anak mulai berdatangan, jumlahnya mencapai 50 an. Ada yang mendekap buku tulis di dada sambil mengantongi pena atau pensil. Ada yang menyandang tas ransel. Mereka mengenakan pakaian bebas.

Anak- anak tersebut tak hanya berasal dari Kampung Nanas, tapi juga dari Kampung Jabi, Kampung Melayu, Kampung Tower dan kampung- kampung lain di sekitar Kampung Nanas. Perkampungan yang ada di Kecamatan Nongsa tersebut sebagian besar masuk dalam kawasan rumah liar.

Sore itu, Minggu (10/3) kelas terbuka di bawah pepohonan itu dibagi menjadi lima grup. Selain membentangkan tikar sebagai alas, pengajar yang dipanggil miss dan mister menggunakan alat bantu papan tulis kecil dan spidol. Ada yang usia 4-5 tahun, mereka sedang belajar baca tulis, berhitung, menggambar dan mewarnai. Grup yang ini paling banyak alat- alatnya. Ada meja lipat untuk masing- masing siswa, alat peraga dan lain- lain.

Kemudian ada bentangan tikar yang isinya anak-anak yang sudah sekolah dan duduk di kelas 1 dan 2 SD. Grup inilah yang berisi Arsen dan teman- temannya. Total di grup mereka ada 15 anak. Sementara itu grup yang paling besar jumlah anaknya adalah grup yang berisi para siswa kelas 3 dan 4 SD. Seperti halnya grup kelas 1 dan 2, grup ini juga belajar matematika.

Kemudian juga ada grup untuk siswa kelas 6, mereka sedang belajar Bahasa Inggris. Selain itu juga ada grup untuk siswa SMP dan SMA. Mereka lebih banyak bermain scrable dan diskusi.

Kelas terbuka itu menjadi jawaban atas permasalahan ketertinggalan pendidikan yang terjadi di kampung- kampung di pinggiranBatam tersebut. Penduduk kampung rata- rata berprofesi sebagai nelayan dan pekerja serabutan. Bagi mereka sekadar bisa baca tulis sudah cukup. Anak- anaknya ada yang putus sekolah, atau sudah kelas 4 SD tapi belum lancar membaca, bahkan ada yang sudah kelas 1 SMP tapi hitung- hitungan dasar belum lancar.

Belajar di ruang terbuka itu merupakan sebuah gerakan mengajar Sabtu- Minggu yang diadakan oleh Lingkar Pendidik Indonesia (LPI). Sebuah komunitas sosial yang eksis berangkat dari rasa trenyuh atas kondisi ketertinggalan anak- anak di kampung- kampung pinggiran Nongsa tersebut.

“Saya menemukan anak- anak yang seharusnya di usia mereka sudah bisa membaca tapi mereka belum bisa membaca,” kata Justria Arum, Founder LPI.

Arum melakukan pendekatan dengan anak- anak tersebut dengan cara mendatanginya sambil membawa buku anak- anak dengan sampul menarik. Mereka tertarik. Bahkan semakin antusias ketika akan diajari membaca.

“Saya kemudian datangi RT dan RW setempat untuk minta izin mengajar anak-anak. Tenyata saya disambut baik,” kata wanita yang sehari- hari bekerja di perusahaan oil and gas ini.

Awalnya Arum sendirian, kemudian teman sekantornya tertarik untuk ikut. Buntutnya Arum membuat akun media sosial yang mencari relawan untuk mengajar dengan gratis. Ternyata peminatnya ada.

Hingga kini kegiatan mengajar dengan gratis itu sudah berjalan selama empat tahun. Setiap Sabtu dan Minggu komunitas yang berisi anak- anak muda dari berbagai latar belakang ini mengajar di dua tempat, yaitu Kampung Nanas dan Kampung Terih.

“Di Kampung Terih kami diberi tempat mengajar di musala dan lahan seluas 20×20 meter di kawasan musala tersebut,” ungkap Arum.

Tak hanya di kampung yang penduduknya nelayan, LPI juga sempat mengajar anak- anak yang tinggal di lokalisasi Teluk Bakau. Mereka menyebutnya dengan kampung ketiga. Di kawasan ini pendidikan seperti terabaikan. Banyak yang putus sekolah bahkan ada yang tak sekolah.

“Ada yang sudah berusia 12 tahun tapi tak bisa membaca sama sekali,” tutur Jona, relawan yang juga Co Founder LPI.

Bagaimana tidak, di kampung ketiga ini warganya kebanyakan wanita. Sepanjang pagi hingga siang mereka mengurung diri di dalam rumah untuk beristirahat, sore hingga dini hari mereka baru keluar untuk menjajakan diri. Tak ada yang mengurusi pendidikan anak- anaknya.

Jika di kampung lainnya LPI berurusan dengan RT setempat, di Teluk Bakau LPI harus  berurusan dengan “sang mami”. Di kampung ini LPI sempat membuat pojok buku bagi anak- anak setempat.

“Sayangnya keberadaan kami di sana tak memunginkan, relawan yang mau ikut ke sana minim. Kadang tak ada,” kata dia.

Oleh karena itu, sudah setahun ini LPI tak bergiat di sana lagi. Beberapa anak yang masih mau belajar kemudian menyusul ke Kampung Nanas.

Untuk tingkat pendidikan yang lebih maju, baca, tulis dan berhitung saja tak cukup. Kecakapan bahasa juga perlu, Untuk itu anak-anak juga diajari Bahasa Inggris. Justria Arum menyebut Bahasa Inggris juga sebuah kebutuhan. Sulit kalau hanya mengandalkan dari sekolah formal. Anak- anak malah menilai bahasa Inggris itu susah. Selain bahasa Inggris, anak- anak juga diajar bahasa Mandarin.

“Bahasa Mandarin juga jadi kebutuhan di Batam. Kami bekerja sama dengan LQ Mandarin centre di Batam Centre. Setiap Minggu pagi kami antar 28 anak belajar di sana dengan gratis,” kata Arum.

Selain itu LPI juga tak lupa mengajak anak- anak untuk merawat kebudayaan. Boleh mahir bahasa asing tapi tak boleh melupakan akar kebudayaan sendiri. LPI bekerja sama dengan Perguruan Silat Walet Putih mengajarkan pencak silat yang menjadi bela diri khas Indonesia.

“Beberapa waktu lalu anak- anak yang ikut latihan pencak silat ada yang ikut kejuaraan sampai tingkat provinsi,” tutur Arum bangga.

Para relawan yang bergabung di LPI berasal dari berbagai suku dan agama. Sehingga komunitas ini tak mengajarkan agama tertentu dalam sesi belajarnya.

“Kami murni mengajarkan akademik dan nilai-nilai kebaikan,” kata Arum.

Kehadiran LPI diakui Titin Alimah (40), ibu dari Trahbuna Erial Muhammad atau akrab disapa Eril sangat berdampak bagi keluarganya. Nilai-nilai anaknya di sekolah meningkat setelah ikut belajar bersama LPI.

“Sudah hampir setahun ikut. Dulu sama abangnya juga, tapi kemudian abangnya meninggal,” kata Titin.

Meninggalnya sang abang menyisakan kekosongan bagi Eril, sebab kemana-mana biasanya mereka berdua. Siswa kelas 2 SD itu berhasil mengurangi rasa kehilangan itu setelah semakin sering ikut belajar berasama LPI.

“Kan di tempat belajar banyak anak-anak seusianya, jadi dia bisa bergaul dengan tumbuh kembang yang normal. Saya lihat Eril wawasannya juga semakin terbuka, lebih ngerti keberagaman beragama, di sana diajarkan saling menghormati,” tutur Titin.

Perkenalan Titin dengan LPI cukup unik. Ketika itu Titin membantu suaminya yang berjualan buku keliling. Titin melihat di Kampung Nanas ramai, banyak anak-anak.

“Saya lalu tanya ada apa ini, mereka jawab ada les gratis Bu, kalau ada anaknya yang mau ikut boleh, kenang Titin.

Wanita yang tinggal di Kampung Jabi tersebut sehari-hari adalah ibu rumah tangga kadang juga membantu suaminya yang sekarang bekerja menjual sayur.

“Saya sangat bersyukur bertemu dengan orang-orang baik. Anak saya tak hanya bisa baca tulis dan hitung tapi juga belajar bahasa Inggris, Mandarin dan silat, dan semuanya gratis,” ujarnya. Ada rasa haru dalam tekanan suaranya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com