SINDOBatam

Terbaru Spirit+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Mengenal Tarmizi, Wajah Baru Legislator Bintan yang Ingin Memperjuangkan Kesejahteraan Nelayan

  • Reporter:
  • Kamis, 29 Agustus 2019 | 21:09
  • Dibaca : 402 kali
Mengenal Tarmizi, Wajah Baru Legislator Bintan yang Ingin Memperjuangkan Kesejahteraan Nelayan
Anggota DPRD Bintan terpilih periode 2019-2024 Tarmizi.

BINTAN – Sebanyak 25 Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bintan yang terpilih dalam Pileg 2019 akan dilantik pada, Senin (2/9) mendatang.

Dari 25 anggota dewan Kabupaten Bintan yang terpilih untuk masa periode 2019-2024 yang akan duduk untuk menyuarakan dan mewakili aspirasi masyarakat Bintan dari 4 Daerah Pemilihan (Dapil), ada 11 orang yang merupakan wajah baru.

Munculnya wajah baru yang duduk  sebagai anggota DPRD Bintan periode 2019-2024 dengan jumlah yang tidak sedikit, yang hampir mengusur setengah dari jumlah wakil rakyat di periode sebelumnya akan membawa suasana dan baru dalam menentukan kebijakan publik di wilayah Bintan. Wajah-wajah baru ini juga menjadi harapan baru bagi masyarakat Bintan, dalam menitipkan aspirasinya agar hak-hak dasar dan kepentingan yang dimiliki oleh masyarakat Bintan bisa terus diperjuangkan, khusunya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik dan sejahtera.

Seperti yang diidamkan oleh Tarmizi, satu di antara anggota DPRD Bintan yang merupakan wajah baru, yang ikut dilantik pada Senin mendatang yang berhasil meraup suara terbanyak kedua untuk dapil 3,  wilayah Bintan Timur dengan perolehan suara 1.085 yang nantinya terlibat secara langsung dalam menentukan kebijakan-kebijakan publik, berharap dirinya bisa memberikan warna baru untuk masyarakat Bintan, khsusnya masyarakat yang ada di wilayah dapilnya yang mayoritas adalah warga nelayan tradisional.

Memiliki usaha produksi dan pengelolaan es batangan yang khusus diperuntukkan bagi nelayan sebagai kebutuhan untuk melaut, agar tangkapan ikan para nelayan tetap segar saat tiba didarat, menjadikan Tarmizi memiliki kedekatan emosional dengan para nelayan.

Ia mengaku berbagai keluh-kesah para nelayan, khususnya nelayan kecil dan tradisional yang tinggal dan mencari penghidupan di sekitar pesisir wilayah Bintan Timur menjadi teman ‘curhatan’ yang hampir setiap hari ia dengar saat para nelayan datang ke lokasi usahanya.

Secara tidak sadar, ia pun terpanggil untuk bisa memberikan solusi yang dihadapi para nelayan kecil tradisional yang kerap mendatanginya dengan memilih terjun ke dunia politik, salah satu cara untuk memperjuangkan nasib nelayan kecil dengan langsung terlibat dalam menetukan kebijakan publik yang mampu melindungi para nelayan kecil untuk mendapatkan hak-haknya.

Usai dilantik nanti, ia sudah menyiapkan satu agenda khusus yang akan dibawanya, untuk menjadi pembahasan bersama dengan para wakil rakyat lainnya, terkait kepentingan dan hak nelayan kecil yang ada di Bintan, sebagaimana yang selama ini menjadi keluh kesah para nelayan kecil tradisional yang ada di Bintan Timur.

Menurutnya, salah satu permasalahan yang selalu dialami para nelayan kecil di wilayah Bintan Timur, yakni sulitnya para nelayan kecil khsuusnya nelayan dengan kapal berukuran 3 grosstone (GT) ke bawah untuk mendapatkan bahan bakar minyak solar bersubsidi khusus nelayan, yang seharusnya minyak subsidi solar untuk nelayan itu sudah ada berdasarkan kuota dan jumlah nelayan dari kartu nelayan yang dimiliki oleh para nelayan kecil tersebut.

“Di sini banyak nelayan kecil tradisional kehilangan haknya, mereka kesulitan untuk membeli bbm solar subsidi yang dikhusunya untuk mereka, pengaduan yang saya terima justru kapal-kapl besar atau tokke-tokke besar yang menikmati. Keluhan para nelayan ini menjadi yang paling awal saya bawa untuk kami bahas bersama dengan wakil rakyat lainnya,” ujar Tarmizi.

Pria yang pernah mengabdi di instansi Polri ini, yang memilih untuk berwirausaha ini juga tidak menapik adanya dugaan bahwa permasalahan yang terjadi di wilayahnya di Bintan Timur terkait sulitnya para nelayan kecil untuk mendapatkan bahan bakar sollar subsidi memiliki kemiripan dengan yang terjadi di wilayah Batam, pasca OTT (Operasi Tangkap Tangan) Pungli yang diungkap oleh pihak Kepolisian baru-baru ini terkait, solar subsidi untuk nelayan.

“Iya bisa jadi seperti itu, karena nelayan kecil untuk mendapatkan kartu nelayan penerima solar subsidi juga sulit, sementara pemilik kapal besar justru mudah,” ujarnya saat menjawab pertanyaan Koran Sindo Batam. (Novel M Sinaga)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com