SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Mengintip Ruang Dewan Negeri Johor di Kota Iskandar, Tempat Pendukung dan Pembangkang Kerajaan Bahas Perkara

  • Reporter:
  • Sabtu, 6 Oktober 2018 | 06:04
  • Dibaca : 129 kali
Mengintip Ruang Dewan Negeri Johor di Kota Iskandar, Tempat Pendukung dan Pembangkang Kerajaan Bahas Perkara

Memasuki Kota Iskandar, banyak suguhan jejak sejarah tentang Johor Bahru. Dan ada satu tempat yang dianggap sakral bagi warga Malaysia, yakni Ruang Sidang Dewan Negeri Johor. Tidak semua orang bisa masuk ke tempat ini saat sidang berlangsung.

FADHIL, JOHOR

Bangunan berbentuk memanjang itu langsung mencuri pandangan saat memasuki Kota Iskandar, pusat administrasi Negeri Johor. Di kawasan ini tersimpan banyak sejarah penting, bagi warga Johor khususnya.

Dari semua bangunan yang ada, rombongan Famtrip Media asal Indonesia ke Johor, Malaysia, langsung disuguhkan Bangunan Sultan Ismail. Bangunan ini terbuka bagi para pelancong.

Saat menginjakkan kaki di depan bangunan itu, pelancong langsung disambut empat meriam, suatu pajangan di bagian kiri dan kanan gedung bercat coklat itu. Meriam itu merupakan hadiah dari Queen Victoria, tahun 1880an, bukti persaudaraan antara Inggris dan Negeri Johor.

Di lantai pertama, tidak banyak yang bisa dilihat, hanya beberapa taman air, dan ornamen gedung megah bernuansa Timur Tengah. Namun, di lantai ini ada dua tangga melingkar. Naik ke atas, ada museum sejarah Kesultanan Negeri Johor, yang menyimpan bukti masa silam, mulai dari berdirinya kerajaan hingga beberapa sisa peninggalan sejarah, termasuk pakaian sang Sultan.

Tempat itu menerangkan bagaimana terbentuknya negeri yang identik dengan Negara Islam tersebut. Perlu dicatat, semua itu terbuka, boleh dikunjungi oleh pelancong.

Menaiki lantai ketiga, ada satu ruangan, terpajang di depan ruang itu logo Negeri Johor, tempat yang dianggap penting bagi warga setempat saat ada kegiatan di dalamnya. Inilah Ruang Sidang Dewan Negeri Johor.

Saat SINDO BATAM mengunjungi tempat ini, sedang tidak berlangsung sidang sehingga bisa masuk dan menjelajahnya. Tentu saja itu kesempatan yang tak boleh disiakan, karena tidak semua orang bisa masuk ke sini.

Memang, saat ruangan ini kosong, bisa menjadi destinasi wisata baru di Johor. Dari semua ruang sidang, hanya di situ yang bisa didatangi pelancong, namun tidak gratis.

Saat melangkahkan kaki masuk ke ruang itu, mata tertuju ke permata-permata yang menghiasi dinding dan plafon bangunan itu. Tempelan permata beragam warna yang tidak terhitung jumlahnya itu, menggambarkan Negeri Johor yang dijuluki Permata Berharga.

Di bagian tiang dalam ruangan itu juga diberi simbol lada. Dulu, rempah ini menjadi andalan Negeri Johor. Dan di bagian atap dibuat simbol nanas, yang dinilai juga menjadi buah andalan di sini.

Memasuki ruang sidang lebih jauh, hal yang menarik adalah ruangan ini menjadi tempat menentukan pembangunan dan kesejahteraan warga Negeri Johor. Semua ruangan dikelilingi kursi, dan di bagian tengah merupakan tempat duduk orang-orang penting di Negeri Johor.

Dari semua kursi itu, ada satu kursi yang berbeda dari semua kursi yang ada. Itulah kursi Sang Sultan, dipilih warna kebesaran kerajaan, Royal Blue, dengan sandaran tinggi dihiasi logo kerajaan. Tepat di dinding belakang kursi yang hanya diduduki sang raja itu, disematkan Alquran yang dibuka bagian tengah, banyak makna disampaikan, salah satunya keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Tepat di depan kursi raja, terdapat 114 kursi, menggambarkan 114 surat dalam Alquran. Di kursi bagian kanan raja merupakan tempat duduk orang-orang pendukung kerajaan, dan di sebelah kiri raja merupakan tempat duduk para pembangkang, di Indonesia disebut partai oposisi.

“Ini satu-satunya ruang sidang yang boleh dikunjungi di semua kerajaan,” kata Pemandu Wisata Kawasan Kota Iskandar, Abdul Rashid Mammod.

Ia menceritakan, jika sidang berlangsung, pembahasannya berbagai perkara di kerajaan. Adapun tidak semua perkara yang dihadiri Sultan. Hanya berbagai momen saja, yakni pada Juni hanya satu hari, pada September dan November selama tujuh hari, kemudian Maret satu hari.

“Tuanku Sultan hanya hadir bila menyampaikan titah diraja, tugas dan fungsi apa yang harus diperbaiki. Dalam sidang dibincangkan,” ujarnya.

Banyak lagi yang dibahas temasuk masalah keuangan, perbelanjaan, atau perkara lain di kerajaan. “Selama sidang, dijaga ketat oleh tentara khusus Negeri Johor,” ujarnya.

Ia menyampaikan selama pembahasan itu, terdapat 56 ahli dewan, yang mana 39 akan membela kerajaan dan 17 orang yang membangkang. “Tiga orang dari 39 pendukung merupakan mantan pembangkang, jadi didudukkan di tengah,” kata pria 48 tahun itu.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com