SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Menguatkan Marwah Pers Kita

  • Reporter:
  • Kamis, 8 Februari 2018 | 16:59
  • Dibaca : 89 kali
Menguatkan Marwah Pers Kita

Era teknologi informasi digital yang berkembang sangat cepat saat ini mem buat tantangan media massa semakin dinamis. Begitu dinamisnya hingga menimbulkan kesan bahwa media sudah kehilangan roh jurnalismenya.

Peran vitalnya sebagai pengontrol dan kesetiaan pertamanya pada publik (first loyalty is to the citizens) sebagaimana di bahasa kan Bill Kovach-Tom Rosenstiel menjadi tergerus di tengah era banjir informasi yang sulit di bendung. Yang terjadi, media baik itu elek tro nik maupun cetak mulai con dong pada ranah bisnis demi bisa bertahan di tengah ke sulitan ketimbang mengangkat isu-isu yang sebenarnya sangat dibutuh kan khalayak. Independensi media pun akhirnya menjadi samar. Dalam era digital, media kenyataannya memang diha dapk an pada pilihan tak mudah. Opsinya kadang terbatas dan pelik, mau dan mampu mengikuti ritme era digital atau siapsiap terlibas. Beberapa per usaha an media yang gagap terhadap perubahan ini nyatanya juga harus belepotan untuk bertahan.

Bahkan dalam kurun dua tahun terakhir, tercatat sudah lebih dari 30 media cetak, baik itu koran, majalah maupun tabloid Indonesia, harus tutup. Teknologi digital yang mun – cul secara cepat dan melahirkan multi-platform memang membuat tantangan menjadi tak enteng untuk dihadapi. Meskibegitu, seiring dengan seleksi alam, masih banyak media yang berhasil melewati tantangan ini. Beberapa media yang sa dar akan perubahan ini ter bukti dengan sigap melakukan trans for masi dan inovasi-inovasi brilian. Di sisi lain, era digital ini pun belum berhenti. Hal ini membuat pengelola media massa dituntut terus dan terus berpikir keras menyiasatinya. Yang menarik, di tengah era disrupsi informasi ini, muncul banyak sindikasi media digital.

Pengusaha mulai menyadari di era multiplatform, mereka juga dituntut untuk memiliki banyak saluran media untuk meluaskan jangkauan bisnisnya seperti halnya sebaran iklan. Fenomena ini tak hanya muncul di negara-negara maju, tapi juga sudah menjalar ke Indonesia. Munculnya fenomena ini disebabkan besarnya kekuatan para pemodal untuk memperkuat lini-lini bisnisnya. Ada be – berapa konglomerat Indo nesia yang membidik pasar digital sebagai basis pendapatan perusahaannya. Mereka membangun perusahaan ventura yang menyuntik modalnya di sejumlah lini startup. Ini seperti dilakukan Djarum Group, Lippo Group, dan Kelompok Emtek.

Fenomena disrupsi ini belum ditambah dengan munculnya perusahaan agregator-agregator media. Banyaknya pengusaha yang menguasai beragam platform media digital ini di satu sisi sebuah keniscayaan bisnis. Namun di sisi lain ruang gerak redaksi disadari atau tidak pasti terpengaruh. Isu sentralisasi pemodal besar ini pun akhirakhir ini terus mengemuka, term asuk pada workshop internasional soal perkembangan teknologi informasi di Ixelles, Brussels, Belgia, pekan lalu. Media juga menghadapi tantangan ber u p a sikapnya yang terbelah. Namun Pilpres 2014 Effect ini trennya tampak makin luntur meski keber pihak an terhadap salah satu pihak itu belum sepe nuhnya lepas.

Tantangan media massa Indonesia yang ter akhir adalah marak nya konten palsu (hoax), ujaran kebencian maupun hasut an di media sosial (med sos). Kehadiran medsos seperti Facebook, Twitter , WhatsApp , YouTube, dan BBM ini nyatanya tak bisa dibendung. Bah kan ada kecen – derung an, publik lebih percaya terhadap platform ini ketimbang isi dari media-media mainstream. Ini diperparah dengan maraknya kemunculan media online abal-abal yang di antaranya akibat terdistorsinya kepercayaan publik terhadap media mainstream. Tantangan makin tak ringan lantaran traffic informasi di platform ini juga sangat tinggi. Yang patut diwas padai, konten di platform baru ini juga sulit untuk disortir.

Bahkan Menko Polhukam Wiranto belum lama ini mengungkapkan bah wa se tidaknya dalam sehari ada se kitar 2 juta serangan siber yang terjadi di Indo nesia lewat med sos. Jum lah ini sangat besar dan berpotens i mem beng kak pa da masa pilkada serentak 2018 ini. Serangan siber ini jika tak diantisipasi dengan baik akan membahaya kan ke utuhan bangsa. Demikian juga Presiden Joko Widodo (Jokowi) begitu khawatir dengan perkembangan medsos akhirakhir ini. Di ajang World Press Freedom Day di Jakarta medio tahun lalu, Jokowi menilai hoax dan ujaran kebencian adalah tantangan besar bagi dunia informasi Indonesia saat ini.

Menyelamatkan Jurnalisme Kita

Pers Tanah Air saatnya harus mengevaluasi diri sudah sejauh mana berdiri di tengah pembelaan terhadap publik dan memberi kemanfaatan bagi bangsa. Dengan evaluasi ini, pers tidak larut pada jebakan digital (digital trap), tetapi tetap berada rel prinsip dan kaidahkaidah dasar jurnalisme. Pada era digital saat ini, para pengelola media Tanah Air juga dituntut bisa menyelaraskan tugas, antara wilayah k eredaksi an dengan bisnis.

Pada pola selaras ini, yang terjadi adalah saling menguatkan, bukan mengalahkan terhadap salah satu pihak. Ruang redaksi hakikat – nya adalah ruang idealisme. Namun disadari, ruang redaksi tak akan bisa sendiri dan mandiri tanpa ditopang oleh kekuatan lain seperti bisnis. Adanya pemahaman bersama akan citacita besar sebuah perusahaan media ini bisa menjadi kunci mencapai keberhasilan. Di tengah ekses-ekses negatif dari era informasi digital yang terus bermunculan saat ini, hal itu justru patut dijadikan momentum untuk menguat – kan kembali kewibawaan pers Indonesia. Media massa tidak akan kehilangan daya tariknya selama tetap mampu meng – hadirkan produk yang lebih berkualitas.

Optimisme itu akan mun cul karena dilandasi beberapa hal berikut. Pertama, para pengelola media massa memiliki ke sa dar an bersama atas pen ting nya menyajikan informasi yang benarbenar dibutuhkan kha layak, baik pembaca, pen de ngar atau penonton. Untuk mendap atkan isu yang lekat dan menyen tuh, redaksi tak lagi bak menara gading, tetapi melebur demi me nyerap kebutuhan masyara kat yang terus ber gerak dinamis. Revolusi cara pemberitaan menjadi kunci yang diikuti dengan inovasi-inovasi aktif sisi bisnis atau iklan. Dengan cara ini marwah jurnalisme tetap ter jaga tanpa terlacurkan.

Tepat kiranya rumusan CEO TheDallasMorning News Jim Moroney seperti dikata kan Clayton M C hristensen. Moroney menilai, yang di butuhkan publik dari perusahaan media saat ini ada lah pem beritaan yang berbasis perspective, interpretation, context, and analysis (PICA) . Kedua, era digital yang diiringi banjirnya informasi di medsos tak akan selamanya men jadi kebutuhan hakiki khalayak. Indikasi terjadinya kesenjangan baru informasi mulai kentara. Ini mungkin juga selaras dengan prediksi George Brock dalam bukunya Out of Print (2013) yang mengistilahkan adanya new markets, newgaps.

Di tengah kondisi ini, kurva akses informasi di medsos akan anjlok seiring mulai jenuhnya publik dengan informasi yang palsu dan penuh hasutan kebencian. Perlahan medsos akan menemukan titik keseim bang annya. Publik akan merindukan informasi dari media massa yang lebih terverifikasi dan komprehensif. Ketiga, untuk menciptakan konten media yang lebih ber – kualitas dibutuhkan penguatan kapasitas jajaran redaksi baik reporter, redaktur maupun level tertinggi. Diskusi, pelatihan, dan riset data secara kontinu untuk pendalaman isu adalah hal yang mutlak. Pekerja media perlu terus memegang teguh nilai-nilai profesionalitas serta independensi. Untuk menguatkan peran ini dibutuhkan si – nergi dengan pihak lain seperti lembaga profesi, Dewan Pers, lembaga pendidikan, lembaga pemantau media, dan masya rakat itu sendiri. Wahyu Wibowo (2009) menilai, jurnalis harus memiliki kepribadian yang mantap untuk menuju profesio nalitasnya.

Kepribadian ini perlu ditopang dengan kemandirian moral, keberanian moral, dan kemampuan berpikir kritis tapi membumi. Keempat, dalam bekerja, insan pers Indonesia harus dilandasi dalam bingkai per satuan bangsa. Tidak lantas atas kebebasan pers dan era digital, mereka secara liar mengesam – ping kan prinsip dan kode etik jurnalistik. Tiga pedoman insan pers harus dipegang teguh, yakni profesionalitas, tradisi demokratis, dan kode etik jurnalistik. Di tahun politik ini, Dewan Pers melalui Surat Edaran (SE) Nomor 01/SE-DP/2018 telah mengimbau jurnalis untuk tidak mencampuradukkan profesi nya.

Jurnalis yang menjadi calon ke pala daerah, legislator mau pun tim sukses calon kepala daerah pada pilkada di – minta melepas baju profesinya sebagai upaya untuk menjamin hak masyarakat mendapatkan informasi yang berkualitas dan adil. Ikhtiar ini baik meski tak memiliki daya ikat kuat. Se tidaknya sudah dipatuhi tiga wartawan di Sulawesi Utara pada pekan lalu yang rela me lepas profesi jurnalisnya karena memilih berkiprah di partai.

Tema ”Pers sebagai Alat Pemersatu Bangsa ” pada Hari Pers Nasional (HPN) 2018 yang puncaknya digelar besok di Kota Padang, Sumatera Barat, cukup tepat untuk menjadi garis pe tunjuk pers masa depan. HPN juga diharapkan tak sekadar agenda rutinitas atau seremonial semata, tetapi meng hasilkan rumusanrumus an kuat dan ber manfaat bagi seluruh komponen bangsa Indonesia.

Abdul Hakim
Jurnalis

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com