SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Mengubah Malam yang Sunyi Jadi Penuh Aktivitas Bernilai Ekonomi

  • Reporter:
  • Jumat, 19 Oktober 2018 | 10:29
  • Dibaca : 7925 kali
Mengubah Malam yang Sunyi Jadi Penuh Aktivitas Bernilai Ekonomi

Melihat Gempita Warga Hinterland setelah Terkoneksi Listrik dari bright PLN Batam

Dulu, warga yang tinggal di pulau-pulau kecil dan penyangga (hinterland) di sekitar Batam kesulitan untuk menikmati energi listrik selama seharian penuh. Imbasnya, aktivitas warga juga terbatas, terutama saat malam tiba. Namun sekarang, kondisi itu berbalik 180 derajat. Kini, derap kehidupan penduduk pulau penyangga tak ubahnya warga yang tinggal di tengah kota. Bagaimana bisa?

Fadhil, Batam

Matahari mulai beringsut turun. Petang perlahan menjelang. Langit yang awalnya terang, berubah biru keemasan, hingga kemudian jadi abu-abu kelam. Gelap malam mulai merayapi wilayah Kelurahan Sijantung, Kecamatan Galang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Pendar cahaya lampu temaram dari rumah-rumah warga mulai terlihat. Namun di luar rumah, tak banyak lampu yang terpasang. Sehingga, gelap dan sunyi malam tak sepenuhnya hilang. Aktivitas warga juga sangat terbatas, karena tak kuasa melawan kelam saat malam menghadang.

“Kami mengandalkan listrik dari genset yang hanya menyala dari pukul 17.00 hingga 24.00. Setelah itu, gelap lagi,” kata Barnas atau yang akrab disapa Ujang, salah seorang warga Sijantung mengenang suasana di tempat tinggalnya, beberapa waktu silam.

Kalau sudah begitu, warga pilih tinggal di dalam rumah. Jika tidak ada yang dikerjakan, tidur adalah pilihan ketimbang terjaga tanpa penerangan.

“Mau bagaimana lagi, karena memang kondisinya gelap di luar,” ujarnya.

Namun, kondisi itu berubah drastis saat sambungan listrik dari bright PLN Batam masuk ke wilayah Sijantung dan kelurahan lain di sekitarnya pada medio awal 2018 ini. Wilayah yang berada di gugusan pulau penyangga yakni Pulau Galang, dan terhubung dengan lima jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang) untuk sampai ke pulau utama Batam itu, akhirnya terkoneksi sambungan listrik yang bisa menyala selama 24 jam penuh.

Ujang yang merupakan Ketua Rukun Warga (RW) 01, Kelurahan Sijantung tak bisa menyembunyikan kegembiraannya atas sambungan listrik tersebut. Betapa tidak, setelah 20 tahun lebih menanti, akhirnya tempat tinggalnya teraliri listrik yang bisa digunakan kapanpun sesuai kebutuhan.

“Selain untuk penerangan, masuknya listrik juga membuat gaya hidup warga berubah,” ujarnya.

Ia bertutur, saat ini banyak warga yang mulai berbondong-bondong membeli peralatan elektronik. Mulai dari televisi, kulkas, mesin cuci, dan berbagai jenis barang elektronik lainnya. Ada yang memborong perkakas elektronik hanya untuk digunakan bagi kepentingan diri dan keluarganya. Namun, ada juga yang berbelanja untuk menunjang bekal kehidupan.

Ia mencontohkan, saat ini banyak warga yang membeli kulkas. Rata-rata, kata Ujang, profesi warga setempat merupakan nelayan. Saat mendapat ikan dalam jumlah banyak, mereka butuh es batu atau kulkas agar ikan tangkapan bisa disimpan lebih lama.

Namun, karena sebelumnya listrik hanya menyala dengan waktu dan daya yang terbatas, mereka tak berani membeli kulkas untuk membuat es atau untuk menyimpan hasil tangkapan tersebut. Akhirnya, dulu mereka harus menempuh perjalanan jauh hingga ke Kota Batam yang jaraknya minimal 50 kilometer (km), untuk sekadar membeli es batu.

“Dulu kita terpaksa beli es batu, satu wadah Rp16 ribu. Tapi sekarang alhamdulillah, karena punya kulkas sudah bisa bikin es sendiri, ikan hasil tangkapan juga lebih awet karena ada kulkas,” kata dia.

Tak hanya itu, banyak perubahan lain dalam pola keseharian warga. Dengan listrik yang terus menyala, maka kondisi malam makin terang dengan banyaknya lampu terpasang. Aktivitas warga di malam hari juga berkembang.

Ujang menceritakan bagaimana kalangan ibu rumah tangga di wilayahnya mulai membuka usaha kecil-kecilan, seperti warung kelontong. Bahkan, ada juga aktivitas ekonomi yang berlangsung hingga malam hari.

“Karena malam juga sudah terang, ada juga yang jual gorengan (camilan ringan yang digoreng, red) sampai malam. Berkat listrik yang menyala terus, lama-lama ekonomi warga berkembang,” cerita Ujang sembari mengucapkan rasa syukurnya.

Bahkan, aktivitas warga untuk berkumpul di luar rumah saat malam hari bersama tetangga, kini jadi hal biasa.

“Bisa ngobrol-ngobrol sambil menjaga lingkungan juga biar aman,” katanya sembari tertawa lepas.

Selain terkait kontinuitas listrik yang terus menyala, Ujang juga mengingat bahwa ongkos membayar layanan listrik menggunakan genset lebih mahal ketimbang layanan dari bright PLN Batam.

Dulu, dengan listrik yang hanya menyala selama tujuh jam, warga harus membayar Rp100 ribu tiap bulannya. Namun kini, dengan ketersediaan listrik yang lebih lama, tarif yang harus dibayar malah lebih murah. Meskipun, kata dia, besaran biaya bulanan yang dikeluarkan warga saat ini berbeda, tergantung besaran jumlah pemakaian listrik masing-masing keluarga.

Hanya saja, Ujang melanjutkan, dari 250 Kepala Keluarga (KK) yang ada di RW 01 Sijantung, saat ini masih ada 50 KK yang belum tersambung listrik dari bright PLN Batam. Itu karena, infrastruktur jaringan yang terbatas dan masih dibangun untuk dikembangkan.

Selain itu, Ujang juga mengutarakan keluhan warga terkait masih jauhnya loket pembayaran tagihan listrik. Pasalnya, warga harus menempuh jarak puluhan kilometer jauhnya untuk membayar listrik. Kondisi itu membuat pengeluaran warga bertambah.

“Kami berharap bright PLN Batam juga membuka loket pembayaran di wilayah kami, karena sekarang kami harus ke kota untuk membayar tagihan,” harapnya.

Sementara itu, Lurah Sijantung, Danang mengaku sangat mengapresiasi langkah bright PLN Batam. Ia menyebut, banyak perubahan positif setelah warganya mendapatkan fasilitas listrik hingga 24 jam.

“Dulu warga cuma berharap sambungan genset dari Camp Vietnam, dan itu menyala cuma malam saja. Sekarang alhamdulillah, warga mulai senang setelah listrik di daerah kami menyala 24 jam,” ujarnya.

Gubernur Kepri, Nurdin Basirun mengatakan, pihaknya mengapresiasi langkah bright PLN Batam menyambung listrik ke beberapa wilayah di Pulau Galang.

“Dengan adanya listrik, ekonomi kerakyatan masyarakat akan tumbuh, pendidikan akan jalan, dan program-program yang berkaitan dengan kegiatan sosial juga akan berjalan terus,” kata Nurdin.

Gubernur juga mengakui, masih banyak warga Kepri yang membutuhkan listrik. “Mudah-mudahan kami bersama Direktur bright PLN Batam bisa meningkatkan rasio eelektrifikasi di Pulau Batam pada 2019 nanti,” ujarnya.

Sementara Direktur Utama (Dirut) bright PLN Batam Dadan Kurniadipura mengatakan menerangi pulau hinterland di Batam memang menjadi upaya yang terus dilakukan bright PLN Batam. Saat ini, sebut dia, rasio elektrifikasi di Pulau Batam sudah mencapai kurang lebih 98,4 persen, termasuk sambungan listrik ke pulau-pulau penyangga itu.

“Pada tahun 2018 ini, bright PLN Batam fokus terhadap pengembangan jaringan di Pulau Rempang dan Galang,” tutur Dadan.

Ia mengungkapkan, ada empat kelurahan d Kecamatan Galang yang telah terkoneksi listrik dari bright PLN Batam. Yakni, Kelurahan Sembulang, Sijantung, Rempang Cate, dan Setokok yang telah tersambung listrik bright PLN Batam dengan panjang jaringan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) sepanjang 33 Km, Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) 9 Km, Sambungan Udara Tegangan Rendah (SUTR) 2 Km, dengan total pelanggan tersambung 569. Pada tahun 2019, bright PLN Batam berencana akan membangun jaringan kelistrikan di wilayah hinterland lainnya, yaitu Air Naga, Kampung Kelingking, Kampung Kalat, Kampung Monggak, Kampung Pasir Panjang, Kampung Baru, Kampung Tanjung Cakang dengan total SUTM 17 Km dan SKTM 22 Km.

“bright PLN Batam akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan serta keandalan pasokan listrik dengan beberapa program yang memudahkan masyarakat dalam menikmati lisrtik, salah satunya program sambungan baru dan naik daya gratis,” kata Dadan. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com