SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Menjadi Tamu VIP, Dikawal di Pemeriksaan Imigrasi

  • Reporter:
  • Senin, 2 Oktober 2017 | 12:20
  • Dibaca : 317 kali
Menjadi Tamu VIP, Dikawal di Pemeriksaan Imigrasi
  • 18th Indonesia Journalists Visit Programme

Imigrasi Singapura barang kali salah satu imigrasi terketat di dunia. Tapi kemarin benar-benar berbeda.

DEDEN ROSANDA

Feri Batam Fast berangkat tepat waktu dari Pelabuhan Internasional Batam Centre. Pukul 09.50 kapal cepat itu berlayar. Tak sampai satu jam Pelabuhan Harbourfront Singapura sudah terlihat.

Saya berangkat bersama salah satu wartawan senior dari Kepri. Kami, bagian dari 12 pemimpin media cetak yang diundang Kementerian Komunikasi dan Informasi Singapura dalam 18th Indonesia Journalists Visit Programme (IJVP).

Seperti biasa, setiap mau masuk Singapura, mulai muncul prasangka: ini bakal ribet. Orang Indonesia, khususnya Batam, sudah hafal betul proses mengantre cop paspor di negeri Singa ini agak memakan waktu. Petugasnya juga banyak yang galak.

Tapi, apa yang terlihat kemarin benar-benar berbeda. Siang itu, seorang pejabat imigrasi Harbourfront didampingi anak buahnya berseragam lengkap nampak tersenyum sambil melambaikan tangan.

“Hello. Silakan lewat sini, ” ujarnya tersenyum sembari meminta saya dan seorang teman wartawan senior keluar dari antrean penumpang umum.

Usai bersalaman, kami menyerahkan paspor dan lembar imigrasi seketika itu juga. “Selamat datang di Singapura. Semoga Anda terkesan,” kata pejabat imigrasi itu.

Kami juga disambut pegawai Kementerian Luar Negeri Singapura, Isaac Lim Yong Hock. Dengan pengawalan tiga lelaki Singapura ini, perjalanan melewati pintu imigrasi jadi amat sangat lancar.

Saya sempat melirik orang-orang berpenampilan perlente dan mbak-mbak wangi bersepatu tinggi yang menjinjing tas Louis Vuitton sedang dalam antrean. Saya mau bilang apa kecuali bergumam, “Maaf saya duluan”.

Sempat akan diperiksa di jalur merah-hijau kedatangan. Tapi “pengawal” kami dengan sigap bilang. “No….no…no…VIP”.

Begitu pun saat petugas x-ray mencoba menghentikan saya gara-gara melihat dua bungus rokok dalam tas ransel yang masih utuh dari layar monitornya.

“It’s oke. VIP,” tegas pengawal saya tadi.

Pemerintah Singapura melarang pendatang asing membawa barang, salah satunya rokok dalam jumlah melebihi kewajaran atau batas konsumsi. Kecuali dilaporkan dan siap membayar kompensasinya. Kalau mau diam-diam bisa saja. Tapi tentu ada konsekwensinya jika ketahuan: denda yang tidak sedikit atau diajukan ke pengadilan.

Dari pelabuhan kami menuju ke Royal Plaza on Scotts di kawasan Orchard Road. Di sana sudah disediakan kamar untuk seminggu ke depan.

Selama IJVP 1-7 Oktober, pemerintah setempat akan menginformasikan perkembangan Singapura di berbagai sektor, mulai dari politik, informatika, pariwisata hingga ekonomi. Peserta IVJP dijadwalkan bertemu dengan Deputy Prime Minister Singapore Tharman Shanmugaratnam, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan, pejabat kementerian perekonomian dan industri Singapura, pejabat kementerian komunikasi dan informasi Singapura.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com