SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Menyatukan Perbedaan Suku Batak di Tanjungpinang, Datangkan Tokoh Batak dan Susun Buku Pedoman Pelaksanaan Adat

  • Reporter:
  • Minggu, 13 Oktober 2019 | 20:55
  • Dibaca : 269 kali
Menyatukan Perbedaan Suku Batak di Tanjungpinang, Datangkan Tokoh Batak dan Susun Buku Pedoman Pelaksanaan Adat
Ketua RBB Tanjungpinang Sanggam Simamora saat dilantik beberapa waktu lalu. /RINTO SITUMORANG

ADAT istiadat memegang peranan penting dalam kehidupan suku Batak. Sebagai suku perantau, tidak jarang banyak persepsi yang muncul di acara adat dikarenakan perbedaan aturan yang berlaku di masing-masing daerah. Bagaimana ke depan Rumpun Batak Bersatu (RBB) Tanjungpinang menyikapi perbedaan ini. Berikut penuturan Ketua RBB Tanjungpinang, Sanggam Simamora.

RINTO SITUMORANG, Tanjungpinang

Sebagai salah satu suku yang berdomisili di Tanjungpinang. Suku Batak yang terdiri dari Toba, Karo, Simalungun, Pakpak dan Angkola tidak bisa lepas dari aturan adat untuk pesta suka dan duka. Namun melihat asal warga Batak yang datang dari berbagai daerah terkadang menghasilkan aturan adat berbeda terkhusus untuk Batak Toba.

Sanggam mengatakan, untuk masyarakat dari suku Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, umumnya memiliki persamaan persepsi dalam tata cara pelaksanaan acara adat baik untuk pesta suka maupun duka di Tanjungpinang. Namun tidak demikian dengan Batak Toba, yang memiliki beberapa tafsiran, khususnya untuk acara duka.

Salah satu hal yang dicontohkan Sanggam adalah terkait tafsiran acara Saur Matua atau Sari Matua yang terkadang di lapangan bisa berbeda persepsi. Perbedaan ini terjadi dalam penentuan seseorang yang meninggal hendak dikategorikan ke golongan Saur Matua atau Sari Matua. Begitu juga dengan tata acara adat yang akan dijalankan.

Permasalahan ini dilihat RBB sebagai suatu hal yang harus segera diambil jalan keluarnya. Untuk itu RBB sudah memiliki program di awal tahun 2020 untuk mengumpulka semua ketua adat marga, ketua parsahutaon (lingkungan, red), para penatua dari lima suku Batak di Tanjungpinang.

Kelima suku Batak ini akan disatukan untuk mengikuti rapat sekaligus seminar untuk membahas pedoman-pedoman yang akan dipakai dalam acara masing-masing Suku nantinya.

“Kami akan undang tokoh adat batak, yang paham akan adat Batak. Bukan hanya sebatas paham bicara tapi juga sudah memiliki buku tulisan. Satu dari Jakarta dan satu dari Medan,” ungkap Sanggam.

Salah satu tokoh yang direncanakan di seminar nanti Dr H P Panggabean merupakan salah satu tokoh Batak yang sudah dikenal jajaran luas dan berwawasan tinggi tentang Batak.

Sanggam mengatakan, dalam seminar nanti setelah ada kesepakatan akan dibukukan untuk digunakan sebagai pedoman pelaksanaan adat di Tanjungpinang.

Program penyusunan pedoman adat ini menurut Sanggam tidak terlalu lama membutuhkan waktu karena bisa selesai dalam satu bulan. Jika sudah terealisasi tidak ada lagi melihat acuan lain kecuali pedoman yang sudah disepakati meskipun yang melakukan acara pesta datang dari daerah berbeda.

Sanggam melihat ke depan penyusunan program ini karena melibatkan banyak orang bisa saja terjadi perdebatan. Untuk itu menghadirkan tokoh yang betul-betul paham akan adat Batak diharapkan bisa memberi kepahaman bagi semua pihak.

Pengembangan SDM

Pengembangan SDM dinilai RBB juga sangat penting diterapkan untuk semua anggota RBB. Saling membantu bagi orang yang belum bekerja harus giat ditanamkan dan diterapkan. Anggota RBB diimbau perlu saling membantu dalam hal mencari pekerjaan atau paling tidak ada referensi.

“Misalnya ada kerja di perkapalan dan ada lowongan maka tidak salah memberitahukannya kepada mereka yang belum kerja. Begitu juga dengan yang lain harus saling menginfokan,” kata Sanggam.

Namun Sanggam juga berpesan kepada anggota RBB untuk tidak memilih-milih pekerjaan. Jika lowongan ABK, satpam, atau guru yang tersedia jangan ditolak. Sebaiknya diambil saja menunggu pekerjaan yang lain. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com