SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Merajut Asa Menjadikan Batam Pusat Alih Kapal

  • Reporter:
  • Selasa, 14 November 2017 | 16:02
  • Dibaca : 76 kali
Merajut Asa Menjadikan Batam Pusat Alih Kapal
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Batuampar Batam. Foto Teguh Prihatna.

SINDOBATAM – Bongkar muat alih kapal atau transhipment salah satu cita-cita lama Kota Batam. Namun, sampai saat ini belum bisa terealisasi.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam Daniel Burhanuddin mengatakan, melihat posisi geographis Batam yang terletak di Selat Singapore berhadapan dengan posisi Singapore maka posisi Batam perlu diperhitungkan untuk jangka panjang dan tanpa disadari bahwa Singapore selalu dengan cara yang halus menghalang-halangi terjadinya Batam sebagai Pelabuhan Transhipment.

“Kita mempunyai pengalaman dengan batalnya Evergreen masuk Batam di era Pak Habibie sebagai Ketua Otorita Batam dimana term dan kondisi diberikan lebih murah kepada Evergreen sehingga akhirnya batal masuk Batam,”kata dia, Selasa (14/11/2017).

Kemudian muncul investor Malaysia yang akan membangun pelabuhan kontainer di Tanjung Uncang dan pada waktu itu belum ada shipyard yang bergerak di Tanjung Uncang dan di dalam M.O.U dengan Malaysia tercantum clausal terakhir yang mengatakan jika dalam tempo satu tahun tidak terealisasi maka M.O.U itu batal dan akhirnya Tanjung Pelepas milik Malaysia beroperasi.

“Pada saat Singapore akan lakukan strategi yang sama kepada Evergreen, hal ini tidak tercapai karena maersk line memiliki saham 30% di Tanjung Pelepas,” ujarnya.

Namun, lanjut Daniel, dengan dibangunnya jazirah sempit menjadi Terusan Kra di Thailand Selatan, maka kapal-kapal yang membawa muatan dari Eropa ke Timur tidak perlu melewati Selat Malaka, kecuali muatan untuk ke dan dari Indonesia yang masih melewati Selat Malaka, sehingga secara logika Transhipment atau Gateway Indonesia menjadi rebutan antara Singapore dengan Malaysia.

“Kelihatannya hal ini tidak disadari pembuat kebijakan Batam/ maupun pusat atau pembuat kebijakan,” kata dia.

Dia menjelaskan, jika berbicara transhipment, maka hal itu melekat dengan kunjungan kapal dan bagaimana membuat pelabuhan transhipment dikunjungi kapal, maka teringat akan phylosophy ”Theshios follow the trade” sehingga trade yang harus digiatkan terlebih dahulu, berikan insentif kepada pemilik barang misalnya jika mempergunakan Batam sebagai gateway maka diberikan keringanan bea masuk maupun pajak keluar katakanlah sebesar 50%, maka shipper menginginkan Batam sebagai gateway ke/dari Indonesia.

“Jika hal ini dapat terlaksana maka Feeder Tanjung Priok – Singapore/ Tanjung Pelepas akan beralih menjadi Tanjung Priok-Batam,” kata dia.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com