SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Minim Sentimen Positif, IHSG Berpotensi Melemah

  • Reporter:
  • Selasa, 20 Februari 2018 | 17:03
  • Dibaca : 114 kali
Minim Sentimen Positif, IHSG Berpotensi Melemah

JAKARTA– Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengalami tren penurunan pada pekan ini. Hal ini dikarenakan minimnya sentimen pendorong dari dalam negeri.

Analis OCBC Sekuritas Liga Maradona mengatakan, untuk pekan ini di pre – diksi indeks akan bergerak turun di kisaran 6.550-6.650. Sentimen datang dari membaiknya data ekonomi Ame – rika Serikat (AS) yang membuat The Fed akan meningkatkan suku bunga de – ngan fase lebih cepat. Selain itu, juga ada sen timen negatif dari neraca per da – gangan pada Januari yang mengalami de fisit. “Hal ini menjadi salah satu ka – talis sehingga indeks bergerak turun,” ujar Maradona di Jakarta, kemarin. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Indo nesia pada Januari 2018 defisit USD676,9 juta. Hal ini lantaran nilai eks por Indo – nesia pada Januari 2018 men capai USD14,46 miliar atau me nu run 2,81% di bandingkan dengan eks por Desember 2017.

Namun, jika di ban ding Januari 2017, nilainya meningkat 7,86%. Sementara nilai impor Indonesia pada Januari 2018 mencapai USD15,13 miliar atau naik 0,26% dibandingkan dengan Desember 2017. Sebaliknya jika diban – ding kanJanuari2017meningkat26,44%. Hal senada juga dikatakan Analis In – vesta Saran Mandiri Hans Kwee yang mem proyeksikan IHSG melemah mem bentuk candle dengan body turun dan shadow di atas. IHSG diprediksi akan mengalami konsolidasi melemah dengan support di level 6.583-6.544 dan resistance di level 6.624-6.655. Analis Recapital Asset Management Kiswoyo Adi Joe termasuk optimistis pe – laku pasar masih akan bergairah ber – transaksi dengan sentimen dari laporan keuangantahunanperusahaan. Diayakin IHSG akan bergerak di level 6.500-6.700.

Para pelaku pasar juga harus me was – padai laju bursa saham AS yang mampu kembali positif. Hingga Kamis pekan lalu, saham-saham perbankan dan tek – nologi memberikan dorongan positif pada kenaikan sejumlah indeks saham AS. Pelemahan di awal sesi merupakan reaksi sesaat pelaku pasar terhadap rilis kenaikan inflasi yang diasumsikan akan memicu kenaikan suku bunga The Fed secara agresif. Akan tetapi, pelaku pasar menyadari bahwa kenaikan inflasi juga menunjukkan adanya pemulihan ekonomi karena permintaan di masyarakat mengalami kenaikan sehingga reaksi pasar berbalik positif dan berimbas positif pada ke – naik an sejumlah saham. Pada penutupan perdagangan Ka – mis (15/2) pekan lalu, aksi ambil untung je lang libur panjang Imlek membuat pa – sar sa ham Indonesia kembali melemah.

IHSG turun tipis 9,04 poin atau 0,14% ke 6.585. Sekitar 183 saham menguat, 155 sa ham melemah, dan 134 saham stag nan. Sore ini telah terjadi transaksi per da gangan mencapai Rp7,06 triliun dari 11,32 miliar lembar saham di per – da gangkan. Indeks LQ45 turun 2,24 poin atau 0,2% menjadi 1.108, Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,91 poin atau 0,12% ke 779, indeks IDX30 menurun 2,26 poin atau 0,37% ke 605, dan indeks MNC36 turun 0,89 atau 0,23% ke 379. Sektor industri dasar dan tambang me nahan kejatuhan indeks dengan ke – naikan sebesar 1% lebih.

Sementara sektor konsumsi, perkebunan, aneka in dustri, keuangan dan infrastruktur melemah. Adapun saham-saham yang bergerak dalam jajaran top gainers antara lain, saham PT Bank Agris Tbk (AGRS) naik Rp70 atau 24,65% ke Rp354, saham PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) naik Rp310 atau 17,42% ke Rp2.090, dan saham PT Nusantara Pe – labuhan Handal Tbk (PORT) naik Rp52 atau 13,07% ke Rp450. Sementara saham-saham yang ber – ada dalam jajaran top losers antara lain, saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) turun Rp1.025 atau 11,52% ke Rp7.875, saham PT Medco Energi In ter – na tional Tbk (MEDC) turun Rp125 atau 9,8% ke Rp1.150, dan saham PT Inti – keramik Alamasri Inds Tbk (IKAI) turun Rp15 atau 9,2% ke Rp148.

Rupiah Menguat

Bank Indonesia memaparkan nilai tukar rupiah bergerak menguat pada Januari 2018 setelah sempat meng – alami tekanan pada triwulan IV 2017. Pada triwulan IV 2017 secara rata-rata harian rupiah melemah sebesar 1,51% menjadi Rp13.537 per USD. Namun, rupiah kembali menguat sebesar 1,36% menjadi Rp13.378 per USD pada bulan Januari 2018. Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, penguatan ini didorong oleh aliran modal asing kembali masuk sejalan dengan persepsi positif investor terhadap perekonomian domestik dan penguatan mata uang kawasan.

“Pada awal Februari 2018 meningkatnya ke ti – dak pastian pasar keuangan global, khu – susnya terkait dengan ekspektasi ke – naik an FFR yang lebih tinggi dari per – kiraan memberikan tekanan pada mata uang global, termasuk Rupiah,” kata Agus di Jakarta, Kamis (15/2). Agus menambahkan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai me ning kat – nya risiko ketidakpastian pasar ke uang – an global dan tetap melakukan langkahlangkah stabilisasi nilai tukar agar se – suai dengan nilai fundamentalnya dan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Sebelumnya nilai tukar rupiah ter – ha dap dolar Amerika Serikat (AS) di – buka menguat seiring pelemahan mata uang Paman Sam tersebut. Dolar AS melemah seiring dengan prospek kenaikan suku bunga The Fed karena tingginya data inflasi Amerika. Melansir Bloomberg Dollar Index, rupiah pada perdagangan spot exchange rate di pasar Asia menguat 61 poin atau 0,45% ke Rp13.568 per USD. Adapun pergerakan harian rupiah berada di kisaran Rp13.545 per USD-Rp13.595 per USD.

Sementara itu, Yahoofinance mencatat rupiah menguat 56 poin atau 0,41% menjadi Rp13.568 per USD. Dalam pantauan Yahoofinance, rupiah berada dalam rentang Rp13.553 per USD hingga Rp13.626 per USD.

Hafid fuad

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com