SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Misi Baru Nico Rosberg

  • Reporter:
  • Jumat, 16 Maret 2018 | 16:51
  • Dibaca : 145 kali
Misi Baru Nico Rosberg

JUARA dunia Formula 1 musim 2016, Nico Rosberg, tengah menjalani dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia yang dia jalani selama 11 tahun belakangan ini.

Kini pria berdarah Finlandia dan Jerman tersebut tengah membawa misi baru. Apa itu? Air mata Nico Rosberg menyelinap keluar di selasela ujung mata saat pertama kali memegang putri keduanya, Naila, yang lahir pada September 2017. Nico Rosberg menangis bukan hanya karena bahagia Naila lahir dengan selamat, juga karena pertama kalinya dia menemani sang istri, Vivian, menjalani proses persalinan hingga selesai. “Luar biasa sekali. Pengalaman indah yang tidak pernah saya alami di sirkuit mana pun,” ujar pria kelahiran 27 Juni 1985 itu. Nico memang masih terus mengingat betapa dia pernah merasa sedikit menyesal kehilangan momen kelahiran anak pertamanya, Alaia, pada 30 Agustus 2015.

Nico yang saat itu masih berupaya menjadi juara dunia Formula 1 tahun 2015 masih disibukkan dengan perburuan gelar juara. “Saat itu setiap waktu yang saya pikirkan hanyalah perbaikan waktu saat berada di sirkuit,” ujar Nico. Anak kandung pembalap legendaris Formula 1, Keke Rosberg, itu memang masih sedikit menyimpan rasa sedih kepada Alaia. Dia mengingat betul saat Alia mulai memahami sang ayah tidak punya banyak waktu untuknya. Bahkan ketika berada di rumah, Nico seakan-akan meminta waktu untuk lebih banyak beristirahat. “Saat pulang dari balapan, saya tertegun ketika Alaia melihat saya dan menempelkan jarinya ke bibir agar tidak menimbulkan suara,” tutur Nico.

Hal seperti inilah yang menjadi alasan sebenarnya mengapa Nico Rosberg tiba-tiba saja memutuskan diri penisiun dari balap Formula 1. Keputusan yang mengagetkan karena hal itu diambil lima hari setelah Nico memastikan menjadi juara dunia Formula 1 musim 2016. Saat itu memang banyak orang menduga Nico Rosberg akan terus melanjutkan kedigdayaannya. Apalagi secara matematis, Nico baru berkiprah selama 11 tahun di dunia balap mobil Formula 1. Masih ada waktu panjang yang bisa digunakan Nico untuk mengabadikan namanya di dunia Formula 1.

“Saya mencoba berani mengambil keputusan yang riskan. Keputusan seperti ini saya yakin akan menjadi modal kuat untuk melanjutkan langkah baru dalam hidup saya,” tandas Nico. Selepas dari dunia Formula 1, Nico langsung melanjutkan hidup tanpa satu pun keinginan untuk kembali berkiprah di dunia balap. Sama sekali tidak ada l ost power syndrome yang biasa dialami orang-orang yang terbiasa dengan kesuksesan. “Dulu saya selalu berpikir bagaimana caranya mempertajam waktu agar semakin cepat di lintasan. Ternyata hidup bukan hanya berputar-putar di lintasan, masih ada yang lebih penting dari itu. Sekarang saya mencoba kehidupan yang lebih penting,” ujarnya.

Selain fokus bersama keluarga, Nico mulai meneruskan misi lama yang tertunda. Saat ini dia mencoba kembali ke dunia akademik. Tidak main-main, dia saat ini sudah mencoba kuliah di Universitas Stanford. Dunia akademik sebenarnya tidak asing baginya. Dia pernah mendapatkan beasiswa penuh di Fakultas Teknik Imperial College, Inggris. Hanya, niat tersebut dia urungkan karena ingin fokus terjun ke dunia balap mobil. Kini setelah merasa cukup dengan urusan di Formula 1, Nico ingin kembali melanjutkan dunia akademik tersebut.

“Saya ingin belajar kepemimpinan dan entrepreneurship . Saya memang belum pernah menjadi seorang CEO, tapi saya pernah berada di pucuk sebuah tim balap yang sangat solid. Sekarang saya ingin mempelajarinya lebih dalam,” ungkap Nico. Seperti di Formula 1, Nico tidak main-main dalam mewujudkan keinginan tersebut. Untuk menjadi pengusaha atau entrepreneurship , Nico sangat rajin menyambangi perusahaan-perusahaan besar pada era milenial. Dia mengunjungi Sillicon Valley, Tesla, Waymo, dan Charge Point Meski terus membuat jarak dengan Formula 1 dan balapan, Nico tidak serta-merta meninggalkan dunia yang membesarkan namanya itu.

Hingga kini dia masih menjadi Duta Formula 1 bagi Mercedes-AMG. Jadi, setiap saat dia harus menyempatkan waktu datang ke Formula 1 jika dibutuhkan. Dia juga masih terus diminta memberikan analisis mengenai peta persaingan Formula 1. Lagi pula bagi Nico, dunia Formula 1 sudah menjadi universitas kehidupan buatnya. Di dunia ini dia belajar banyak hal, mulai determinasi, gaya hidup, persaingan, hingga Formula 1. Di sinilah dia merasakan beratnya persaingan yang tidak hanya datang dari tim balap lawan, tetapi juga teman satu timnya, Lewis Hamilton. “Saya tidak pernah suka kalah, apalagi dikalahkan Lewis Hamilton,” katanya tertawa.

Bagi Nico, persaingannya dengan Lewis Hamilton justru yang sangat disyukuri. Dia menjadi lebih memahami akan diri dan rivalnya tersebut. Dia berusaha mengerti kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya dan Lewis Hamilton. Menurut dia, hal tersebut tidak ubahnya seperti filosofi kehidupan. “Suatu saat saya bertemu dia setelah pensiun dari Formula 1. Sekarang saya lebih menghormati dan menghargai apa yang telah dia lakukan. Semuanya menjadi lebih jelas ketika kita berada di luar lingkaran tersebut,” tutur Nico. Hal inilah yang sekarang dijalani Nico, berada di luar Formula 1 agar lebih memahami semuanya menjadi lebih jelas.

Wahyu sibarani

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com