SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Neisya, Dua Tahun Terbaring karena Hidrosefalus

  • Reporter:
  • Jumat, 22 Desember 2017 | 09:32
  • Dibaca : 371 kali
Neisya, Dua Tahun Terbaring karena Hidrosefalus
Neisya terbaring selama dua tahun terakhir karena menderita hidrosefalus. /SOLEH ARIYANTO.

Orang tua Neisya ingin anaknya hidup normal dan bisa bermain seperti anak seumurannya. Terbaring sambil menahan rasa sakit di kepalanya yang terus membesar, Neisya sudah dua tahun hanya bisa terbaring lemah di kasur. Dia menderita kelainan, hidrosefalus.

Sholeh Ariyanto, Natuna

Neisya lahir prematur pada 2015 lalu. Menginjak usia dua bulan, kepalanya mulai membesar dan sering menangis. Daeng M Syarwani (19) dan Mesi Agustina (18), orang tua Nesya baru sadar ada kelainan dengan kepala anaknya waktu itu.

“Saya tidak menyangka Nesya menderita hidrosefalus,” ujar Wawan, sapaan Daeng M Syarwani ketika ditemui Kamis (21/12/2017) siang di kediamannya di Gang Air Lebai 2 RT/RW 07/03, Ranai.

Saat ditemui di rumahnya, Nesya hanya bisa terbaring lemah. Tubuhnya yang kecil tidak kuat menyangga kepalanya yang membesar. Sekadar memiringkan badan saja, dia tidak mampu.
Lingkar kepalanya cukup besar, sekitar 30 centimeter-40 centimeter. Bentuknya pipih dan membuat matanya sipit.

Mesi Agustina, ibunda Nesya, mengungkapkan dokter pernah menyatakan bahwa anaknya memiliki penyakit hidrosefalus. Cuma, badan Nesya ketika lahir terbilang kecil, tidak seperti bayi pada umumnya. Tapi waktu itu orang tua Nesya menganggap anaknya normal.

Baru menginjak usia dua bulan Nesya mulai menunjukkan kelainan sampai akhirnya kepalanya membesar seperti sekarang. Kondisi Nesya semakin parah. Sekarang, Nesya sering kesakitan dan menangis.

“Kami ingin Nesya hidup layaknya anak-anak pada umumnya. Orang tua manapun ingin anaknya hidup normal,” ujar Wawan.

Keluarga Neisya berharap ada bantuan dari pemerintah untuk mengobati balita dua tahun itu. Orang tua Neisya tidak bisa membawa anaknya berobat karena keterbatasan biaya.

Di Natuna, kasus hidrosefalus juga pernah diderita Adilah Pranaja, bayi berusia enam bulan di Desa Harapan Jaya, Kecamatan Bunguran Tengah. Dia dibawa ke RSCM Jakarta untuk mendapat tindakan medis pada 2016 lalu.

Adapun dari kasus hidrosefalus yang terjadi di Indonesia, pasien bisa diobati dengan operasi yang biasanya dibuatkan saluran untuk membuang air di kepala.

Sementara kelainan ini bisa tertangani jika dilakukan tindakan sejak dini. Hidrosefalus bisa terdeteksi sejak dalam kandungan lewat pemeriksaan USG.

Jika sudah ketahuan, sesaat setelah lahir akan dilakukan pemasangan slang agar air di otak tidak banyak.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com