SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Ngopi dengan Suasana Masa Dulu di Barista Cafe Tanjungpinang

  • Reporter:
  • Jumat, 9 Juni 2017 | 13:16
  • Dibaca : 409 kali
Ngopi dengan Suasana Masa Dulu di Barista Cafe Tanjungpinang
Latte Art KORAN SINDO BATAM. Foto Joko Sulistyo

Kursi-kursi dengan meja cukup tinggi, sofa, meja panjang, hingga tempat duduk menyendiri ditata sedemikian rupa di lantai 1 dan halaman Barista Cafe.

Menempati satu unit ruko 3 lantai di Komplek Bintan Centre, Tanjungpinang, kedai kopi ini menyuguhkan suasana sekilas mirip rumah bagi pengunjungnya.

Dinding-dinding tinggi dilabur kelir hitam pekat dengan paduan chalk art yang dikerjakan secara freehand, seperti gambar di papan tulis. Ornamen bergaya vintage berpadu serasi dengan lampu yang cenderung tungsten sehingga menyiramkan ambience cahaya dengan kesan hangat ke sekujur ruangan.

Musik dari pengeras suara diputar dengan volume kecil, untuk memberikan ruang bagi obrolan pengunjung. Di sudut depan, dua atau tiga meja kursi tanpa teman ditata di area baca. Balok-balok kayu berbagai ukuran ditempelkan ke dinding dan berfungsi sebagai rak buku bacaan gratis. Perpustakaan kecil dengan koleksi buku cukup serius ini dapat dinikmati pengunjung sembari ngopi.

Barista Cafe berdiri sejak setahun silam. Kafe ini cukup berbeda dengan lazimnya kedai kopi di Tanjungpinang. Sebagai pemain baru, sensasi mencecap pahit dan getir rasa kopi dari sebagian besar penjuru nusantara menjadi nilai tawarnya. Istimewanya, pelanggan mendapatkan kopi segar yang diproses langsung saat memesan salah satu dari 35 jenis varian kopi yang ditawarkan.

Soal rasa, selera, keinginan dan referensi ngopi para pelanggan betul-betul ditantang menguji kecakapan peracik atau barista yang menguasai beberapa teknik penyajian. 35 jenis kopi berasal dari 35 daerah berbeda mulai Aceh hingga Papua ditawarkan. Jenisnya, lengkap dan dapat dipilih seperti Arabica dengan sensasi kelat asam di lidah, maupun Robusta yang cenderung pahit.

Barista Cafe memiliki tiga orang peracik kopi andalan, termasuk Enno sang pemilik. Kepada KORAN SINDO BATAM, Enno menjelaskan, pelanggan biasanya memesan kopi dengan penyajian standar seperti pour over, frech pressed, vietnam drip, maupun chiffon. Selain itu, pengunjung dapat menikmati sensasi kopi dingin yang disajikan dengan teknik cold brew. Untuk penikmat kopi konvensional, Barista tetap menyajikan kopi dengan teknik paling lazim dan populer di Indonesia, tubruk.

Untuk memastikan kualitas, pelanggan dapat melihat bagaimana biji kopi diproses mulai roasting hingga tersaji di cangkir. Proses roasting di Barista dilakukan sendiri untuk memastikan biji kopi mendapatkan fase-fase pematangan yang tepat dan agar tidak merusak citarasa asli dari varian kopi tertentu.

Perkara harga, Barista Cafe menawarkan keleluasaan memilih beraneka jenis kopi dengan rentang harga Rp7 ribu hingga Rp30 ribu. Sebuah harga terjangkau untuk dapat menikmati citarasa dan cerita yang menyertai perjalanan biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia sampai ke cangkir anda.

Bicara konsep, Barista Cafe terbilang anti arus utama. Saat kedai kopi lain menyuguhkan sajian live music, layar lebar dan konektifitas wifi, Barista Cafe justru sebaliknya. Kedai yang 80 persen pengunjungnya pelanggan tetap ini, tidak menyediakan itu semua demi mengembalikan ngopi pada fitrahnya.

Jangankan layar lebar dengan tata suara menggelegar, pengunjung Barista jarang mendapati televisi LED 32 inci di salah satu sudut tembok kafe ini menyala.
Pun demikian dengan musik hidup. Enno mengkonsep kafenya sebagai tempat menikmati kopi bersama buku, dan diskusi antar personal, layaknya ngopi di masa dahulu.

Sebagai minuman yang memiliki sejarah panjang dan selalu hadir dalam peristiwa penting dunia, kegiatan ngopi tidak pernah terpisahkan dari munculnya ide segar penikmatnya. Barista dikonsep bukan sebagai kafe asosial, justru sebaliknya. Jika anda adalah jenis yang gemar menikmati kopi sambil berselancar di dunia maya, lupakan tempat ini. Karena, anda dapat terasing dalam riuh rendah obrolan ide-ide segar pengunjung yang membahas banyak hal di meja-meja.

Enno tidak hendak membatasi pengunjung, namun sejak pertama dibuka, kedai kopi ini memang memposisikan diri sebagai magnet bagi gagasan dan bentuk kreatifitas antimainstream. Namun, dalam satu kesempatan, penikmat kopi di Barista dapat menikmati berbagai diskusi sastra, fotografi, seni rupa, pembacaan karya sastra, puisi, hingga stand up commedy yang digelar spontan oleh pengunjung.

“Silakan direspon ruangnya secara merdeka. Itu lebih pas sebagai teman ngopi daripada datang beramai-ramai tapi sibuk sendiri-sendiri sama gadget,” ujar Enno.

Suasana ngopi yang boleh dikatakan back to basic tidak berarti racikan kopi juga mengalami kemunduran. Enno menjamin, sajian kopinya memiliki standar alat dan teknik setara hotel berbintang, meski dihadirkan dalam frame klasik.

“Datang saja, rasakan sendiri, kami buka dari jam 16.00 sampai tengah malam,” ujar Enno.

Keindahan Visual dalam Kopi Susu
Selain rasa, menikmati kopi kerap tidak dapat dilepaskan dari suasana sekitar. Selain menyajikan pahit khas dan variannya, banyak tempat ngopi menarik lebih banyak pelanggan dengan manambahkan faktor penyempurna suasana. Lokasi, atraksi pertunjukkan, dekorasi, dan kreasi langsung terkait menu.

Latte art, adalah seni visual dua dimensi yang dikerjakan pada medium kopi dan susu. Latte atau dalam bahasa Indonesia berarti susu jika dituangkan ke dalam secangkir kopi hitam, dengan cara dan kondisi tertentu akan menghasilkan gambar pola menarik di permukaannya. Barista Cafe sadar, kadang seseorang memanfaatkan secangkir kopi untuk mendongkrak mood atau sekadar teman duduk yang kontemplatif.

Latte art, menjadi salah satu cara Barista membantu pelanggan kembali menemukan semangat, atau sekadar merayakan sebuah momen istimewa.

Biasanya Latte art akan menyajikan gambar-gambar bunga, daun, atau figur binatang tertentu. Dengan mesin khusus, Barista dapat menyajikan pesanan koffelatte dengan hiasan gambar atau foto sesuai keinginan pelanggan seperti grafis ucapan, foto wajah dengan detail cukup bagus. Jika menginginkan sebuah wajah di atas kopi pesanan, pelanggan tinggal mentransfer foto yang akan dibuat melalui ponsel.

Untuk kawasan Tanjungpinang saat ini belum banyak tempat ngopi yang dapat menyajikan Latte art dengan mesin dan mengeksekusi obyek berupa foto.
Namun Barista Cafe justru menawarkan dua pilihan latte art untuk saat-saat istimewa. Monokromatik dan berwarna.

Soal harga, Barista mematok Rp30 ribu percangkir latte art atau selisih Rp5 ribu dari harga kaffelatte tanpa karya visual di atasnya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com