SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Ngopi Santai Sambil Baca Buku

  • Reporter:
  • Jumat, 8 Desember 2017 | 19:40
  • Dibaca : 552 kali
Ngopi Santai Sambil Baca Buku

Para pecinta kopi dan buku tak perlu berpisah bila ingin menikmati waktu santai. Ada satu tempat yang bisa dikunjungi bersama. Bukan perpustakaan, bukan pula toko buku. Tapi sebuah kafe, namanya Gesha Memoar of Coffee.

Lokasi Gesha Memoar of Coffee persis di tepi Jalan Duyung, Seijodoh, Batam. Kafe ini menempati salah satu unit ruko di Kompleks Ruko Cipta Asri Permai. Gedungnya didominasi warna cokelat. Cukup nyentrik dibanding gedung-gedung lain di sekitarnya. Saat melawati pintu masuk dari kaca, pengunjung akan disambut hangat dengan alunan musik lembut.

Ada rak-rak buku yang dirancang atraktif menempel pada dinding dari kayu. Tentu berisi buku-buku yang memang diperuntukkan bagi pengunjung yang ingin membaca. Temanya macam-macam. Tentang cinta, horor, motivasi, dan banyak lagi. Bahkan skripsi sang pemilik kafe dipajang di sana. Siapa saja boleh membacanya.

“Kebetulan owner-nya seorang penulis. Dan saya suka ngopi. Kita padukan jadi sebuah kafe. Kita ngopi perlu santai, sambil baca buku, dengan tempat yang tenang,” kata Shania, Manajer Operasional Gesha Memoar of Coffee.

Kafe yang baru beroperasi Agustus lalu ini memang dirancang untuk menjadi sebuah buku kafe. Konsep yang biasanya diangkat kafe-kafe di sekitar kampus. Menurut Shania, Gesha adalah tempat nongkrong, minum kopi, sambil membaca buku. ”Kita lebih ke minum kopi sambil membaca. Jadi mengungkapkan sisi lain dari sebuah kafe,” kata Shania.

Biasanya kafe hanya untuk nongkrong, tapi di Gesha tak cuma itu. Kafe ini memberikan tempat bagi orang yang suka membaca buku. “Bukunya ada novel, buku motivasi. Display 50 buku. Yang inventaris banyak,” katanya.

Shania membuka diri bila ada pengunjung atau siapa saja yang ingin menyumbang buku, “Kami dengan senang hati menerima. Di situ juga ada skripsi. Jadi tempat ini bisa untuk mengerjakan tugas (kuliah atau sekolah),” katanya.

Di bawah rak-rak buku terdapat kursi panjang dengan bantalan busa hitam yang empuk. Cukup nyaman. Dinding sebelah kanan dihiasi mural dan grafiti. “Muralnya kita sesuaikan dengan konsep, mulai dari warna juga kata-katanya,” ujar Shania.

Meski tak terlalu luas, kafe ini tertata rapi. Suasananya tenang dan nyaman. Dinding dan meja kursi dari kayu kayu menciptakan nuansa alami. Di bagian depan ada meja bar dengan toples-toples transparan berisi biji kopi.

Sebagai tempat ngopi, kafe ini memperkenalkan berbagai jenis biji kopi, terutama kopi lokal, kepada pengunjung. Shania berharap pengunjung kafenya tidak sekadar menjadi penikmat kopi, tapi paham segala hal tentang kopi. Asal kopi, jenis biji kopi, hingga menjadi secangkir kopi yang sedap.

Nama Gesha sendiri diambil dari nama biji kopi termahal di dunia yang berasal dari Panama, sebuah negara di Amerika Tengah. Namun menurut sejarahnya, sebelum sampai ke negara itu, biji kopi Gesha ditanam di sebuah desa di Ethiopia, Afrika. Harganya cukup fantastis, Rp2 juta hingga Rp4 juta per kilogram hingga menjadi primadona. “Harapannya, meski baru berdiri, Gesha bisa langsung menjadi primadona di Batam,” paparnya.

Kopi lokal yang dihidangkan di Gesha adalah kopi Sumatera, Jawa, hingga Toraja. Barista kafe melakukan proses manual brewing menggunakan mesin dalam membuat minuman kopi. “Kami mencoba melengkapi dalam proses manual brewing,” kata Shania. Secangkir kopi dapat dinikmati dengan harga Rp18 ribu hingga Rp38 ribu.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com