SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

NJOP Untuk Nagoya Naik Jadi Rp8 Juta

NJOP Untuk Nagoya Naik Jadi Rp8 Juta
ilustrasi

BATAM – Pemko Batam mematok target pendapatan dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Rp131 miliar tahun ini. Untuk mencapai target itu, salah satunya dengan menaikkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) di tiga kawasan.

Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Kota Batam, Raja Azmansyah mengatakan, NJOP di Batam saat ini masih menggunakan NJOP empat tahun silam. Mulai tahun ini, ada tiga kawasan yang akan mengalami kenaikan NJOP, yakni Lubukbaja, Batam Kota, dan Sekupang. Dari tiga wilayah ini, NJOP di kawasan Nagoya, Lubukbaja menempati nilai tertinggi dengan Rp8 juta, naik Rp5 juta dari sebelumnya Rp3 juta.

“Penyesuaiannya masih jauh dari harga pasaran tanah di Batam. Penyesuaian ini juga akan menaikkan nilai aset masyarakat, khususnya tanah. Ini untuk mencapai target Rp131 miliar,” ujarnya.

Untuk kawasan lain, Azmansyah mengaku tak ingat secara detail NJOP hasil penyesuaian. Sebab beberapa di antaranya masih proses penyesuaian untuk mendekati harga pasar.

“Sementara itu dulu, nanti kami infokan ya,” ujarnya.

Penyesuaian NJOP terjadi seiring perkembangan suatu wilayah sesuai Zona Nilai Tanah (ZNT). Kenaikan NJOP memakai ukuran sesuai dengan penilaian dan peningkatan nilai tanah. Pemko Batam mengklaim penyesuaian harga tanah di Batam masih jauh di bawah harga pasaran. Harga saat ini bahkan 50 sampai 70 persen di bawah harga pasaran.

Sesuai Peraturan Daerah Nomor 10 tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan Perkotaan, PBB P2 di Batam untuk NJOP sampai dengan Rp1 miliar maka pajak dikenakan 0,12 persen. Sementara yang lebih dari Rp 1 miliar maka dikenakan 0,215 persen.

Naiknya NJOP di tiga kawasan Batam juga sesuai dengan masukan DPRD Batam yang ingin Pemko Batam menaikkan NJOP mengikuti naiknya properti di tiga kawasan tersebut.

Sebelumnya, Ketua DPD REI Khusus Batam, Djaja Roeslim meminta Pemko Batam berhati-hati dalam menetapkan penyesuaian NJOP. Jika nilai NJOP terlalu melambung, dikhawatirkan akan mengguncang pasar properti di Batam.
“Kalau masih dalam angka yang wajar, tak akan terlalu berpengaruh. Tapi kalau tiba-tiba NJOP melambung, tentu akan terjadi shock di sektor properti,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Djaja menilai, NJOP Batam memang harus disesuaikan segera. Mengingat besaran NJOP saat ini masih jauh dari harga pasar. Namun idealnya, keniakan NJOP harus dilakukan bertahap, sesuai dengan kemampuan masyarakat. Penyesuaian secara bertahap juga dimaksudkan agar tak mengguncang pasar properti. Selain mempengaruhi harga tanah, kenaikan NJOP juga pasti akan mempengaruhi biaya pembuatan sertifikat properti.
“Kita harap sih penyesuaiannya bertahap. Jangan langsung naik sampai berapa kali lipat,” ujarnya.

Pemerintah juga harus bijaksana menetakan besaran NJOP di area yang yang mayoritas berisi rumah murah. Kenaikan NJOP nantinya akan berdampak kepada kewajiban membayarkan PBB setiap tahunnya. Sehingga, kenaikan NJOP yang tinggi, tentu akan membebani masyarakat.

“Kita meminta penetapan NJOP harus wajar,” kata Djaja.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com