SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Novel Baswedan dalam Impitan Teror

  • Reporter:
  • Senin, 2 April 2018 | 16:39
  • Dibaca : 146 kali
Novel Baswedan dalam Impitan Teror

Mata penyidik Novel Baswedan yang rusak, menjadi simbol pemberantasa korupsi yang terbajak. Penyelesaian hukum kasus Novel Baswedan menjadi ujian keras Presiden untuk berlaku transparan.

Jika warga dan negara sekeras baja memberantas korupsi, tak akan mungkin kita biarkan teror ke Novel Baswedan terjadi berkali-kali. (Najwa Shihab) Rasanya hampir semua orang di negeri ini tahu dan mengenal sosok Novel Baswedan, seorang penyidik tangguh yang berlatar belakang seorang prajurit Polri.

Terlebih, saat musibah penyiraman air keras menimpa dirinya, setiap hari wajahnya selalu menghiasi layar kaca. Sosoknya pun menjadi berita hangat yang muncul setiap saat di berbagai media. Sejumlah kalangan menyebut, Novel Baswedan merupakan sosok penyidik KPK yang paling berani.

Dia tak segan-segan membongkar sejumlah kasus raksasa yang pernah terjadi di Republik ini. Bahkan, untuk sebuah kasus yang menimpa institusi Polri yang notabene pernah membesarkan dirinya pun, dia bongkar dengan penuh keberanian. Namun demikian, Novel tentu harus membayar mahal atas keberaniannya tersebut, kriminalisai dan teror atas dirinya adalah “buah pahit” yang harus dia telan, dari serentetan perjuangannya membongkar sejumlah kasus korupsi.

Bentuk kriminalisasi dan teror yang menimpa Novel datang bertubi-tubi, mulai dari teror kecil, hingga pada teror yang mengancam jiwanya. Sebut saja ketika motor Novel ditabrak, tubuhnya terluka. Yang paling dahsyat adalah saat kornea matanya rusak dan nyaris buta akibat siraman air keras yang dilakukan oleh orang tak dikenal, sewaktu dalam perjalanan pulang.

Itu semua tentu bukan kejadian biasa, melainkan kejadian terencana yang sengaja dilakukan oleh sekelompok orang yang merasa tidak nyaman dan tidak tenang karena gebrakan Novel Baswedan.

Buku ini sengaja mengangkat sisi lain perjuangan Novel Baswedan dalam memberantas korupsi di Tanah Air, perjuangan yang memiliki risiko sangat tinggi terhadap keselamatan jiwa dan raganya. Keberanian Novel Baswedan dalam membongkar sejumlah kasus korupsi menjadikannya sosok yang dikagumi, meski di lain pihak dirinya adalah sosok yang diincar untuk dihabisi.

Namun, itu tak membuatnya gentar, gairah perjuangannya semakin meningkat untuk memberangus praktik korupsi di negeri ini. “Saya akan kembali dan tetap bekerja sebagai penyidik KPK. Saya akan tetap memberantas korupsi,” tegas Novel kepada pers (Hal. 19).

Pernyataan tersebut dilontarkan Novel saat dirinya sedang dirawat di rumah sakit akibat musibah penyiraman air keras di wajahnya. Sebuah komitmen keberanian yang terlontar dari Novel tentang semangatnya untuk membersihkan praktik korupsi yang kian ganas, tak peduli teror dan ancaman yang terus membayangi langkahnya.

Sejumlah teror terhadap Novel yang bertujuan untuk melemahkan pergerakannya, sengaja diurai dalam buku ini sebagai gambaran betapa kriminalisasi terhadap Novel datang tiada henti.

Seperti pengungkapan kembali kasus penembakan pencuri Sarang Burung Walet pada 2004, dalam kasus ini Novel diseret sebagai orang yang paling bertanggungjawab sehingga dirinya pun harus dijemput dan ditangkap di rumahnya tengah malam (hal. 125-130).

Perlakuan Polri terhadap Novel justru melahirkan simpati luar biasa terhadap penyidik tangguh tersebut. Gelombang dukungan terhadap Novel terus berdatagan. Di lain pihak, kecaman terhadap Polri juga terus berdatangan sehingga Novel pun dibebaskan dari jeratan krimiminalisasi tersebut.

Teror lainnya yang sengaja diungkap dalam buku terbitan Mizan ini adalah saat motor Novel ditabrak hingga ringsek, termasuk juga insiden penabrakan teradap mobil yang membawa Novel hingga masuk jurang adalah fakta betapa teror terhadap Novel tak pernah berhenti.

Dan, yang paling tragis adalah teror penyiraman air keras ke muka Novel, yang kasusnya hingga kini belum menemukan titik terang. Namun demikian, publik akan paham bahwa mata rantai kriminalisasi terhadap Novel bisa dihentikan jika semua pihak berkomitmen untuk membuka sejelas-jelasnya siapa aktor di balik penyiraman muka penyidik senior tersebut. Buku ini membuka mata sekaligus membuka fakta.

ahmad wiyono

*pegiat literasi, tinggal di Pamekasan, Madura

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com