SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Nyamar Jadi Polisi RRC Takuti Korban

  • Reporter:
  • Sabtu, 21 September 2019 | 10:42
  • Dibaca : 88 kali
Nyamar Jadi Polisi RRC Takuti Korban
Kapolresta Barelang AKBP Prasetyo Rachmat Purboyo dan Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol S Erlangga saat ekspos kasus penipuan online warga China dan Taiwan di Mapolresta Barelang, Jumat (20/9). f dicky sigit rakasiwi

BATAMKOTA – Sindikat pelaku penipuan asal China dan Taiwan beraksi menakuti para korbannya dengan menyamar menjadi polisi Republik Rakyat China (RRC). Mengenakan seragam lengkap polisi RRC, komplotan ini beraksi menggunakan video call seperti skype.

Kasus penipuan online jaringan internasional ini Rabu (18/9) lalu. Sebanyak 47 pelaku ditangkap, terdiri dari warga China dan Taiwan. Mereka diamankan di dua lokasi berbeda. 31 orang diamankan di sebuah ruko di Kompleks Taman Niaga Sukajadi, Baloi. Tiga dari mereka adalah perempuan. 16 lainnya diamankan di ruko berlantai tiga Kompleks Grand Orchid, Batam Center. Satu wanita dan 15 pria.

Sindikat ini sengaja memilih Batam sebagai tempat beraksi. Selain letaknya yang strategis, juga jauh dari deteksi kepolisian RRC. Dalam menjalankan aksinya, para WNA ini mendapatkan nomor para korban dari MK, aktor kasus penipuan online ini. MK sendiri menetap di China dan mengendalikan komplotan pelaku penipuan online di Batam.

“Jadi baju polisi RRC yang kami temukan ini dipakai mereka saat video call untuk menakut-nakuti korbannya,” kata Kapolresta Barelang AKBP Prasetyo Rachmat Purboyo dan Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol S Erlangga saat ekspos di Mapolresta Barelang, Jumat (20/9).

Ia menjelaskan, dua lokasi tempat ditemukannya para pelaku, didapati ruang ruang yang disekat-sekat. Kemudian juga ada peredam suara agar tetangga sekitar tidak tahu apa yang mereka kerjakan.

“Dari dua lokasi yakni di Ruko Taman Niaga dan Ruko Grand Orchid, 31 di Taman Niaga sisanya di Grand Orchid,” ujarnya.

Prasetyo menjelaskan, para pelaku ini datang secara bertahap ke Indonesia. Para pelaku ini menelepon calon korbannya yang merupakan warga China yang menetap di RRC. Mereka mengatakan bahwa keluarga korban ada masalah hukum.

“Jadi mereka ini meminta sejumlah uang dan uang ini dikirim ke RRC juga, hanya tempatnya saja di Batam,” katanya.

Hingga saat ini belum ada korban yang diketahui warga Indonesia. Para korban hanya warga China dan para pelaku ini di Batam agar tidak terdeteksi aparat dari RRC. “Alasan mereka di Batam karena strategis, jadi biar polisi sana susah mendeteksi mereka,” ujarnya.

Menurutnya, para pelaku ini datang dan diatur oleh aktor intelektualnya yang berada di RRC berinisial MK. MK memerintahkan orang suruhannya di Indonesia, yakni AL untuk menerima para WNA ini datang ke Jakarta dan mengawasi di Batam.

“Tugas AL ini mengawasi dan melatih mereka di sini, jadi sebelumnya para pelaku ini dilatih terlebih dahulu untuk melakukan kejahatannya,” kata Prasetyo.

Sedangkan nomor-nomor telepon para korban didapat dari MK. Mereka hanya bertugas menghubungi dan mengancam. “Jadi MK yang menyediakan semuanya dari sana, juga menerima transferan dari korban yang diperdaya,” ujarnya.

Saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan imigrasi dan Konsulat Jenderal dari negara asal ke 47 WNA ini. “Kami sudah komunikasi dengan Imigrasi juga Konjen RRC dan Taiwan,” kata Prasetyo.

Sementara itu, menurut keterangan dari salah satu pelaku yang berkomunikasi melalui translater, mereka datang ke Batam dan hanya menerima uang untuk biaya hidup dan biaya operasional dari MK. Hasilnya akan diberikan saat mereka kembali ke negara asalnya.

“Kami dikirimkan uang untuk makan dan operasional di sini, kalau gajinya tergantung berapa yang didapat dari kami sekian persennya,” ujar salah seorang pelaku. dicky sigit rakasiwi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com