SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Optimalisasi Pertumbuhan Melalui Investasi dan Ekspor

  • Reporter:
  • Sabtu, 12 Mei 2018 | 15:33
  • Dibaca : 78 kali
Optimalisasi Pertumbuhan Melalui Investasi dan Ekspor

JAKARTA –Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan pentingnya penguatan struktur ekonomi dengan mendorong peran investasi ataupun ekspor untuk optimalisasi pertumbuhan ekonomi.

”Kita sekarang harus membuat struktur ekonomi jauh lebih kuat, dengan menciptakan industri yang bisa memproduksi bahan baku dan bahan modal,” kata Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (9/5) malam. Sri Mulyani mengatakan, kinerja investasi yang saat ini sedang tumbuh tinggi atau mencapai 7,95% pada kuartal I/2018 harus ditingkatkan agar makin berkontribusi kepada perekonomian.

Sementara sektor ekspor yang tumbuh 6,17% atau hanya setengah dari impor yang tumbuh 12,75% pada periode sama, harus mulai diperkuat untuk memperkecil defisit neraca transaksi berjalan. ”Ekspor kita baru separuhnya dari impor, dan ini akan jadi salah satu penghambat.

Apabila kita ingin tumbuh tinggi, ekspor kita harus dipacu,” katanya. Untuk itu, lanjut dia, pemerintah akan kembali memperkuat kebijakan untuk mendorong kinerja investasi ataupun ekspor, salah satunya dengan perumusan insentif fiskal agar fundamental ekonomi makin terjaga.

”Karena ini adalah cara untuk menyelesaikan dan meng-address isu yang sifatnya struktural,” ujar Sri Mulyani. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia pada kuartal I/2018 sebesar 5,06% (yoy) tumbuh lebih menjanjikan daripada periode sama 2017 yang hanya tercatat 5,01%.

Meski demikian, pencapaian tersebut belum terlalu optimal atau masih di bawah sejumlah proyeksi yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2018 berada pada kisaran 5,1–5,2%. Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik di Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono menilai, struktur ekonomi Indonesia yang kurang kuat disebabkan oleh minimnya kinerja dan kontribusi ekspor bagi devisa Indonesia.

Hal tersebut membuat struktur ekonomi Indonesia rentan terhadap gejolak ekonomi global. ”Menurut saya, yang lemah cadangan devisa, yang kalau diurai itu kebanyakan dari hot money, bukan devisa ekspor jangka panjang. Jadi, fundamental ekonomi kuat, tapi masih ada kelemahan di situ.

Akibatnya, kudakuda kita gak cukup tangguh ketika ada gejolak volatile,” ungkapnya. Menurut dia, Indonesia harus belajar dari Filipina dan Thailand untuk memperkuat devisa dengan mendorong industri berorientasi ekspor. ”Dengan berorientasi ekspor yang kuat, mereka bisa memperkuat cadangan devisa.

Ini yang harus dilakukan Indonesia,” tuturnya. Sri Mulyani juga menekankan pentingnya untuk terus menjaga sisi pembiayaan dalam APBN 2018 dengan mengelola penerbitan Surat Berharga Negara agar tidak terdampak oleh gejolak global. ”Situasi saat ini memang sesuatu yang harus terus kita monitor secara sangat cermat,” ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan, situasi pembiayaan melalui Surat Berharga Negara saat ini dalam kondisi baik dan sudah banyak penyerapan dana yang dilakukan dari lelang rutin Surat Utang Negara, Sukuk Negara, ataupun obligasi valas sejak awal tahun.

Namun, menurut dia, dalam menghadapi ketidakpastian pelaku pasar terkait membaiknya kondisi perekonomian di AS, pemerintah mencoba untuk memahami minat ataupun tingkah laku investor di pasar saham dan obligasi negara. Hal ini perlu dilakukan agar investor yang berminat menanamkan modal di bursa efek dan Surat Berharga Negara bukan merupakan pelaku musiman yang sewaktu-waktu pergi apabila kondisi ekonomi Indonesia dirasakan kurang baik.

”Tentu kita harus perhatikan secara detail mereka yang menjadi bonds holder kita jangka panjang dan mereka yang akan mencoba menda patkan keuntungan dalam jangka pendek pada situasi sekarang ini,” ujarnya. Selain itu, pemerintah juga terus meyakinkan para investor bahwa fundamental ekonomi dalam keadaan baik yang terlihat dari pencapaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2018 ataupun defisit anggaran yang masih di bawah kisaran 2% terhadap PDB.

Meski demikian, pemerintah juga mempunyai opsi lain untuk mengamankan pembiayaan, yaitu melalui pendanaan program yang sudah disepakati dari lembaga multilateral serta penambahan modal melalui private placement.

”Private placement sebagai salah satu alternatif apabila market dalam situasi yang tidak rasional. Tidak rasional dalam arti mereka meminta rate yang sangat ekstrem tinggi, yang tidak bisa dijustifikasi dari fundamental plus appetite risk yang bisa kita akomodasi,” ujar Sri Mulyani.

Sebelumnya, pemerintah tidak menyerap dana dari lelang rutin lima seri Surat Utang Negara pada Selasa (8/5) dengan penawaran yang masuk hanya mencapai Rp7,18 triliun. Padahal, lelang rutin ini dilakukan untuk menyerap dana dengan target indikatif awal sebesar Rp17 triliun.

Salah satu alasan pemerintah tidak menerima semua penawaran yang disampaikan peserta lelang adalah karena imbal hasil yang disampaikan investor relatif di luar kewajaran yang dapat diterima. Pemerintah meyakinkan kondisi kas dalam keadaan aman apalagi realisasi penerbitan Surat Berharga Negara neto hingga awal Mei 2018 telah mencapai 45% dari target.

KORAN SINDO

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com