SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Pedas Gurih Seblak Bandung

  • Reporter:
  • Rabu, 24 Mei 2017 | 10:14
  • Dibaca : 628 kali
Pedas Gurih Seblak Bandung

Seblak termasuk jenis makanan baru di Batam. Asalnya dari Bandung tapi kini menjamur di berbagai wilayah di Indonesia. Meski sederhana, seblak mengoyang lidah penikmatnya karena rasanya yang pedas-pedas gurih.

Di Bandung, biasanya seblak dijadikan camilan. Karena porsinya besar dan mengenyangkan, seblak bisa jadi makanan berat. Makanan bertekstur kenyal ini terbuat dari kerupuk yang disiram kuah. Rasanya pedas menyegarkan dan gurih. Ada juga beberapa varian rasa dan tambahan kondimen.

Di Batam, makanan ini diperkenalkan beberapa tempat makan, salah satunya Bandung+ Café di areal SPBU Vitka, Tiban. “Kami menyajikan seblak komplet dengan satu macam kerupuk dan isian sosis, ceker, dan telur,” kata Yanis, pemilik Bandung+ Café, Selasa (23/5).

Cara mengolahnya mudah dan simpel. Bumbunya hanya bawang putih, kencur, dan cabai. “Kalau kencur, bawang putih, dan cabai itu tidak bisa dipisahkan dari orang Bandung. Apalagi rasa pedas, itu ciri khasnya orang sana,” kata Yanis dengan logat Sunda yang kental, Selasa (23/5).

Dulu, seblak hanya dinikmati dalam bentuk kering, yaitu kerupuk yang belum mengembang lalu diberi kencur dan cabai rawit. Sekarang seblak basah lebih populer. Citarasa seblak basah sangat unik. Wangi dan rasa kencurnya berpadu dengan gurihnya kerupuk serta asin, manis, dan pedasnya bumbu. “Kalau di Bandung+ Café, kita sediakan seblak kering saja. Aslinya, seblak beraneka jenis,” kata Yanis.

Kini selain kerupuk, apa pun bisa dijadikan seblak. Seperti kwetiau, ceker ayam, makaroni, bakso, daging ayam, daging sapi, hingga sayuran. Cara membuat seblak mudah, hanya takaran dan bumbu yang berbeda-beda. Cita rasanya pun jadi berbeda. “Ada banyak jenis seblak. Variasinya juga banyak, mulai dari seblak bakso, seblak ceker, dan lainnya,” kata Yanis.

Nasi Tutug Opak yang Wangi & Segar
Selain seblak, Bandung+ Cafe juga menyediakan makanan khas Bandung lain, nasi tutug opak. Nasi ini dibuat dari nasi dicampur bumbu dan opak ketan yang hanya bisa didapatkan dari Kota Kembang. “Tutug dari bahasa Sunda artinya diulek dengan bawang putih dan kencur,” kata Yanis, pemilik Bandung+ Cafe.

Nasi tutug disajikan dalam daun pisang dan telah dicampur bumbu dan remahan opak. Kencur dan daun kemangi menambah wangi dan segar nasi ini. Bisa dinikmati dengan berbagai lauk seperti ikan asin, telur asin, tempe, dan tahu.

Menu lainnya yang patut dicoba di kafe ini, ayam pencok, colenak, dan ketan bakar. Kafe ini di kawasan Tiban, Batam buka setiap hari pukul 12.00 sampai 22.00, atau hingga 23 di hari Sabtu. Harga makanan berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp25 ribu.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com