SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Pemilu di Batam Kacau

  • Reporter:
  • Kamis, 18 April 2019 | 10:41
  • Dibaca : 363 kali
Pemilu di Batam Kacau
Warga Kompleks Perbengkelan, Seiharapan protes kepada petugas KPPS karena tak bisa mencoblos, Rabu (17/4). Mereka mempertanyakan tak terdaftar di DPT meski tinggal di kawasan tersebut. f agung dedi lazuardi

SEKUPANG – Pelaksanaan Pemilu 2019 di Batam kacau, Rabu (17/4). Pendistribusian surat suara tak sesuai jadwal yang ditentukan. Meski TPS sudah dibuka pukul 07.00, surat suara tak kunjung datang. Surat suara baru tiba pukul 09.00, sehingga proses pencoblosan telat tiga jam.

Pantauan KORAN SINDO BATAM, dua kecamatan yakni Sekupang dan Sagulung banyak ditemukan TPS yang pendistribusiannya tak sesuai jadwal. Meski warga sudah datang mengantre, namun surat suara belum juga datang.

“Di Kelurahan Seilangkai, logistik belum sampai sekitar pukul 8.10,” kata Lurah Seilangkai, Chandra Hernawan. Di Kelurahan Sei Langkai Kecamatan Sagulung terdapat 140 TPS.

Ia mengatakan puluhan masyarakat sudah berkumpul di TPS-TPS, siap menggunakan hak pilihnya. “Kami masih menunggu kabar dari KPU,” ujarnya.

Tidak hanya di Sei Langkai, Sagulung, keterlambatan distribusi logistik juga terjadi di Kelurahan Tiban Baru, Kecamatan Sekupang. Sam, salah seorang warga mengaku surat suara baru tiba pukul 9.00. Sehingga pencoblosan baru bisa dimulai pukul 10.00. “Molor tiga jam gara-gara surat suara telat datang,” ujarnya.

Ia mengatakan, telah mendaftar di TPS sejak pukul 8.00, dan sudah banyak warga yang mengatre, namun logistik tidak ada. “Padahal kami sudah semangat untuk memilih, tapi surat suara tidak kunjung tiba,” kata dia.

Komisioner Bawaslu Kota Batam, Mangihut Rajagukguk mengatakan kejadian itu merupakan pelanggaran. “Yang jelas KPU sudah melanggar tahapan pemilu,” kata Mangihut.

Komisioner Bawaslu Kepri, Said Abdullah mengaku masih menginventarisir daerah mana saja yang memulai pelaksanaan pemilu terlambat akibat logistik belum sampai.

Logistik pemilu untuk Kecamatan Sekupang dan Sagulung memang lambat didistribusikan dari gudang KPU. Pasalnya hingga Selasa (16/4) hingga pukul 22.30 surat suara untuk dua kecamatan itu masih berada di gudang.

Komisioner KPU Kepri, Parlindungan Sihombing yang ditemui di gudang KPU Batam pada Selasa malam, mengatakan distribusi logistik untuk dua kecamatan yang masuk dalam dapil 5 DPRD Kepri itu sengaja ditunda, karena kekurangan surat suara.

KPU memutuskan untuk menggunakan surat suara cadangan demi memenuhi kekurangan suara. Karenanya, pengirimannya terpaksa ditunda.

Banyak Amplop Surat Sobek

Pemungutan suara di TPS 032 Taman Sari Hijau, Tiban Baru Sekupang terpaksa barus dilaksanakan pukul 10.00 WIB. Pasalnya TPS yang telah menyiapkan segala perlengkapan belum menerima kotak dan surat suara.

Tak hanya keterlambatan, sejumlah surat suara yang tiba sekira pukul 9.00 kondisi amplopnya rusak, bahkan sebagian warga mengira kalau segel amplop rusak.

“Tadi sempat difoto-foto, kondisi segel amplop surat suara presiden rusak, ” kata Sam, salah seorang warga yang mengantre.

Berbeda yang disampaikan oleh Dedi, salah satu saksi dari PDIP mengatakan, kondisi surat suara yang baru tiba tidak dalam kondisi baik, dia mengatakan hampir seluruh amplop surat suara presiden tiba dengan kondisi robek.

“Segel masih utuh, cuma pas dikeluarin dari plastik kondisi amplop banyak yang sobek,” ujarnya.

Pelaksanaan pemungutan suara baru bisa dilakukan pada pukul 10.30. Selain melakukan persiapan, surat suara untuk presiden juga masih kurang. “Harusnya masing-masing kertas suara jumlahnya 274, cuma kertas suara untuk presiden aja yang masih kurang 100 lembar,” katanya.

10 TPS di Sekupang Telat Pencoblosan

Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Sekupang, Kusno membenarkan adanya keterlambatan pendistribusian logistik pemilu di TPS-TPS Sekupang. Ia menjelaskan, dirinya tidak memiliki data detail berapa TPS yang menerima logistik pemilu yang terlambat.

Sepengetahuan Kusno, ada 347 TPS yang tersebar di kecamatan Sekupang, namun ia baru menerima informasi hanya 4 TPS yang terlambat menerima logistik pemilu.

“Sepengetahuan saya 4, tapi di setiap kelurahan kan ada 63 TPS yang tersebar, kemungkinan ada 10 TPS yang mengalami keterlambatan,” katanya.

Menurut dia, keterlambatan logistik pemilu yang datang tak mengganggu proses berjalannya pemungutan suara, hanya saja, bagi Daftar Pemilih Khusus (DPK) yang waktunya dibatasi sampai pukul satu siang tak bisa diundur.

Warga Mengamuk Tak Bisa Memilih

Ratusan warga Kompleks Perbengkelan Seiharapan Kelurahan Tanjungriau mengamuk lantaran tak bisa memilih di TPS 27. Warga yang tak terdaftar di DPT sejak pukul 7.00 sudah mendaftar, namun hingga pukul 13.00 tetap tak bisa menggunakan hak pilihnya.

Buntut dari itu, warga yang tak bisa mencoblos menahan kotak suara yang hendak dihitung KPPS dan saksi. Dalam aksi tersebut sempat terjadi keributan antara warga dan KPPS yang hendak membuka kotak suara, warga menuntut agar KPU bisa hadir dan menjelaskan permasalahan tersebut.

“Jangan dibuka dulu sebelum anggota KPU datang, kalau sudah dibuka artinya kami kehilangan hak kami, tolong berikan hak kami, ” kata Apulia BR Kaban sambil berteriak.

Apulia mengaku sudah tinggal selama puluhan tahun di lokasi itu. Ia merasa ada yang janggal dengan data KPU, pasalnya suami dan anaknya terdaftar sementara dirinya tidak terdaftar, dan yang lebih janggal adalah, dia beserta ibu-ibu lainnya mendapatkan pemilih yang bukan berdomisili di tempat dia tinggal.

“Ada 5 orang tadi yang mencoblos, mereka gak tinggal di sini, KTP-nya pun bukan alamat sini, ini aneh,” ujarnya.

Parulia menjelaskan, bahwa sehari sebelum pencoblosan warga Kompleks Perbengkelan kembali didata oleh RT setempat, namun meskipun sudah didata kembali, 120 warga perbengkelan tetap tak bisa mencoblos.

“Yang terdaftar 118 orang, sementara yang tak terdata ada 120 orang. Dari 118 orang itu hanya 99 orang yang mencoblos, terus kemarin sudah didata tapi tak ada juga solusinya, mau dikemanakan suara kami ini, ” katanya.

Lurah Tanjungriau, Agus yang datang ke TPS langsung mencoba menenangkan masa yang sudah marah. Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang didapat jumlah surat suara sangat terbatas, sehingga tuntutan warga tidak bisa ditunaikan.

“Sabar ibu-ibu, memang kondisi surat suara sudah habis, jadi sudah tidak ada solusi lagi, biarkan KPPS menyelesaikan tugasnya, saya mohon semuanya bersabar, ” Katanya.

Mendengar hal tersebut, warga semakin marah dan berusaha menahan kotak suara agar tak dibuka. Kapolsek Sekupang Kompol Oji Fahroji kembali menenangkan warga, Oji meminta agar warga menjauh dari lokasi agar perhitungan suara bisa dilakukan.

“Kami memohon kepada bapak ibu agar keluar dari lokasi, supaya perhitungan bisa dilaksanakan. Kami mohon jangan melanggar undang-undang,” ujarnya.

Pantauan SINDOBATAM, meskipun masih terdengar keributan, namun anggota KPPS tetap menjalankan perhitungan dengan dipantau saksi-saksi dan pengawalan polisi. agung dedi lazuardi/romi kurniawan/ant

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com