SINDOBatam

Opini+

Jungkir Balik+

Pendiri Situs yang Menjadi Rujukan Jutaan Pencari Kerja di Dunia

  • Reporter:
  • Selasa, 11 April 2017 | 10:59
  • Dibaca : 320 kali
Pendiri Situs yang Menjadi Rujukan Jutaan Pencari Kerja di Dunia
Kathryn Minshew

Banyak jalan yang bisa ditempuh agar dapat memberi manfaat untuk banyak orang. Seperti yang dilakukan Kathryn Minshew. Dengan memanfaatkan teknologi-internet, menuntun Kathryn membangun The Daily Muse, yang merupakan salah satu situs informasi lowongan kerja berbagai perusahaan di dunia.

Lepas bekerja untuk pengembangan akses vaksin di Afrika bersama Clinton Health Initiative, Kathryn memilih berbuat untuk orang banyak dengan mendirikan startup di bidang teknologi yakni The Daily Muse yang beralamatkan di https://www.themuse.com/. Hingga sekarang, jutaan pencari kerja setiap hari mengunjungi situs garapan perempuan jelita lulusan Duke University, Amerika Serikat ini.

Sebelum mendirikan The Muse, Kathryn pernah mendirikan Pretty Professionals. Aplikasi ini merupakan jejaring sosial yang khusus untuk karyawan perempuan. Sayang, situs itu kurang begitu sukses. Kathryn tidak putus asa, bersama beberapa rekan, ia akhirnya mendirikan The Daily Muse. Keberhasilan yang diraih Kathryn membesarkan The Daily Muse tidak semudah membalikkan telapak tangan. Raksasa teknologi Google pun, sempat jengah oleh ulahnya mempromosikan situs lowongan kerjanya itu.

Dengan gaya gilanya, setiap hari ia memborbardir Gmail dengan email promosi The Daily Muse kepada pengguna layanan email ciptaan Google tersebut. Alhasil, ulahnya ini membuat Google menjadikan email promosinya itu sebagai spam. Blacklist dari Google tidak membuat CEO The Daily Muse ini patah arang mengenalkan startup-nya ke khalayak ramai. Aksi lebih nekat ia kembali lakoni. Saat malam peluncuran The Daily Muse, ia mewajibkan tamu yang hadir membayar 10 dollar Amerika. Aksi Kathryn kali ini berujung mulus. Pesta peluncuran itu mampu mengumpulkan dana hingga tiga dus, meski tidak dijelaskan detail jumlah dana yang diperoleh.

Selain dua aksi nekat itu, Kathryn juga rela berkorban menjamin gaji karyawan yang menangani The Muse menggunakan tabungan pribadinya. Dalam berbagai kesempatan, perempuan kelahiran 30 Oktober 1985, ini menceritakan sulitnya mendapatkan pemodal karena dirinya dianggap kurang serius. Kesulitan itu juga terkait dengan jenis kelaminnya sebagai perempuan.

Berkaca dari perjalanan pahitnya, Kathryn akhirnya memegang teguh prinsip tidak mau memikirkan pendapat negatif orang lain. Menurut ia, kunci dari kesuksesan yang telah dicapainya tak lain buah dari kegigihan yang ia lakoni. Bahkan, pengalaman pahitnya ini menuntut dirinya untuk terus belajar, selain karena dirinya memang suka mengelola situs berisikan beragam informasi.

Berbagai strategi pengembangan industri dipelajarinya dengan tekun. Ia pun rajin membaca surat kabar dan berlangganan newsletter dari beberapa situs yang bisa menunjang pengetahuannya. Hasilnya, perkembangan situs yang muncul pada 2011 ini pun luar biasa. Saat ini, situs yang dibuatnya sudah menjadi rekomendasi jutaan orang dalam mencari pekerjaan. Bahkan telah melayani lebih dari 50 juta pengguna dan bisa mendapatkan 5 juta pengguna baru tiap bulannya.

Pada 2016, Kathryn menjadi pemenang New York Future 50 Award oleh majalah SmartCEO dan Majalah Tenaga Kerja. Kathryn juga tampil dalam kampanye “Global Citizen” oleh Tumi, pada 2014. Kathryn pun masuk dua kali di majalah Forbes dan jadi kontributor tetap di Harvard Business Review, di mana ia membagikan ilmu sebagai CEO muda.

Menulis Buku Tentang Dunia Kerja
Dalam berbagai kesempatan, Kathryn mengakui dua tahun awal perjalanannya membangun startup-nya merupakan masa-masa sulit. Dalam sesi wawancara dengan harian Huffington Post, ia membangun TheMuse tanpa berbekal pengetahuan tentang bisnis yang dibangunnya. Selama dua tahun perjalanan awal The Muse, ia dan rekan-rekannya menjadikan relasi sebagai senjata utama mempromosikan bisnisnya.

Berbekal tabungan di rekeningnya sebesar 25 ribu dollar Amerika, Kathryn nekat meninggalkan pekerjaan dan menjalani masa-masa pahit The Muse selama dua tahun. Kegagalan awal yang ia hadapi saat merintis jaringan sosial khusus pekerja perempuan, menjadi bekal utama Kathryn bersama rekannya mempromosikan dan membesarkan The Muse. Kini, banyak teman-temannya menjadikan Kathryn sebagai inspirasi mendirikan bisnis startup, terutama di San Francisco maupun New York.

Selain fokus mengurus The Muse, Kathryn kini menyibukkan diri dengan menulis buku berjudul The New Rules of Work, sebuah buku yang mengulas tentang bagaimana menjelajahi karir di era modern. Selain itu, di dalam buku ini, Kathryn memberikan tips dan latihan cepat serta terstruktur tentang bagaimana mempelajari segala sesuatu yang perlu diketahui, guna menemukan arah pekerjaan yang dicintai dan berhasil dalam karir.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com