SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Pendongeng Singapura Hibur 100 Anak Jalanan

  • Reporter:
  • Rabu, 12 April 2017 | 14:16
  • Dibaca : 575 kali
Pendongeng Singapura Hibur 100 Anak Jalanan
Pendongeng asal Singapura memberi pertanyaan usai mendongeng kepada 100 anak jalanan. Foto Agung Dedi Lazuardi.

BATUAMPAR – Rilla Melati, pendongeng asal Singapura menghibur anak jalanan dalam kegiatan Bakti Sosial (Baksos) yang digelar oleh Cinderella Forum Indonesia Center (CFIC) di Hotel Novotel Batuampar, Selasa (11/4).

Founder Cinderella From Indonesia Center, Lusia Kiroyan mengatakan, kegiatan merupakan agenda rutin yang akan dilakukan setiap tahunnya di beberapa negara seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei dan Myanmar. “Ini juga sekaligus menindaklanjuti setelah Batik Girl Asean launching pada beberapa waktu yang lalu,” ujarnya.

Hal ini bertujuan untuk memberikan pendidikan bagi anak jalanan melalui dongeng dan kegiatan lainnya seperti lomba mewarnai dan pemberian bahan pokok. “Anak-anak ini juga menjadi binaan kami dalam waktu setahun ini,” kata Lusi.

Kegiatan utama CFIC saat ini adalah pemberdayaan Napi wanita, pemberdayaan ibu-ibu anak jalanan, dan motivasi untuk anak-anak jalanan. “Misalnya, setiap bulan ada pengajian bersama, nonton film dan berenang bersama untuk anak-anak jalanan,” katanya.

Yayasan itu juga ingin mempromosikan Batik Girl ke negara ASEAN. Batik Girl adalah boneka Barbie dipakaikan busana batik, berambut hitam dan membawa angklung yang dibuat khusus oleh narapidana. Boneka cantik itu dibuat sebagai bagian dari kampanye program yang dilakukan oleh lembaga non profit, Cinderella From Indonesia Center. Ada misi kemanusiaan yang ditawarkan lewat satu boneka itu. “Ada program One Friends One Doll. Nanti uang hasil penjualan akan digunakan untuk amal dan kegiatan sosial. Kami bina anak muda narkoba dan juga single parents yang mungkin terpaksa melakukan kejahatan,” kata Lusi.

Tiap boneka memiliki keunikannya sendiri. Masing-masing tampil dengan baju berbeda yang seluruh desainnya dibuat oleh para napi wanita. Di tahun 2014 lalu pun, 1.500 Barbie berhasil diproduksi oleh para napi di tahun itu.

Dia menambahkan, pihaknya memberdayakan para napi dengan sistem gaji. Yayasan memberi pelatihan dasar selama tiga hari dan juga bahan dasar. Kemudian para napi berkreasi dengan imajinasinya sendiri. Tiap satu boneka yang mereka hasilkan pun akan mendapat uang Rp10.000. “Agar mereka tidak tergantung kepada founder tapi lebih mandiri jadi kita beri mereka keahlian,” ujarnya.

Barbie yang dihasilkan tak hanya dijual di Indonesia, namun juga Singapura, Malaysia, bahkan menarik ekspatriat dari Amerika dan Australia yang ada di tanah air. Penjualan boneka kualitas premium itu pun nantinya akan digunakan untuk keberlangsungan program pemberdayaan napi wanita, anak jalanan, penderita HIV AIDS dan juga pemberdayaan wanita yang menjadi orangtua tunggal.

Untuk membantu program ini, dapat membeli koleksi Batik Girl seharga Rp100 ribu lewat online atau pun beberapa tempat di Indonesia. “Rencananya, koleksi ini juga akan dijual di penerbangan Garuda Indonesia rute domestik dan internasional,” ujarnya.

Rilla mengapresiasi langkah yang dilakukan Yayasan Cinderella. Menurut dia, dalam menyampaikan sesuatu perlu dilakukan dengan cara yang diterima oleh anak-anak. “Kami lebih menekankan bahasa inggris dengan dongeng yang berbahasa Melayu. Di akhir acara kami buat kuis untuk mengetahui apakah anak-anak itu paham. Dan mereka paham dan senang,” kata Rilla.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com