SINDOBatam

Opini+

Jungkir Balik+

Pengawasan Pilot Masih Lemah

  • Reporter:
  • Rabu, 6 Desember 2017 | 21:11
  • Dibaca : 81 kali
Pengawasan Pilot Masih Lemah
Infografis KORAN SINDO

JAKARTA – Dunia penerbangan Tanah Air kembali tercemar. Seorang kapten pilot maskapai Lion Air berinisial MS, 49, diciduk Direktorat Reserse Polres Kupang bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) saat mengonsumsi narkoba jenis sabusabu di salah satu hotel di Kupang, Nusa Tenggara T imur.

Terseretnya pilot dalam kasus narkoba menunjukkan masih lemahnya peng awasan internal dari pihak maskapai dan regulator. Terlebih, Lion Air yang tercatat pilotnya paling banyak ber masalah dengan penyalah gunaan obat-obatan terlarang. Fakta tersebut harus menjadi perhatian serius karena dalam penerbangan adanya pilot mengon sumsi narkoba merupakan ancaman yang bisa berakibat fatal.

“Saya kira siapa saja rentan memakai narkoba jika kondisi psikis bermasalah. Bisa juga karena pengaruh gaya hidup dan sebagainya. Namun, yang lebih penting adalah pengawasannya. Baik itu dari maskapai maupun dari pihak regulator,” ujar pengamat dunia aviasi, Arista Atmadjati Arista, kepada KORAN SINDO di Jakarta kemarin.

Menurut dia, profesi pilot sangat rentan terseret narkoba, termasuk akibat ketatnya jumlah jam terbang dan pengaruh gaya hidup. Untuk itulah, dia kembali menekankan perlu pengawasan. Dalam pandangannya, penggunaan narkoba dikalangan pilot bisa dicegah dengan terus melakukan pengawasan internal maskapai. “Medical check up yang harus diintensifkan.

Kalau perlu, dilakukan secara menyeluruh sehingga akan ketahuan apakah pengguna merupakan pengguna rutin ataupun pengguna baru. Adapun random sampling harus terus dilakukan secara berkala kepada pilot maupun kru pesawat disetiap wilayah penerbangan dari pihak maskapai,” ujar dia.

Corporate Communication Lion Air Group Ramaditya Handoko menegaskan, maskapainya sangat ketat melakukan pengawasan terhadap awak penerbang, termasuk pilot. Salah satu nya dengan me ngecek kesehatan semua awak pesawat setiap hari pada jadwal penerbangan. “Kami cek setiap pagi berdasarkan penerbangan perdana tiap pilot.

Selain itu, kami juga akan melakukan tes kesehatan setiap enam bulan sekali,” ucap dia. Dia menuturkan, kap ten pilot yang diduga menggunakan narkoba tersebut merupakan pilot senior yang telah bekerja di Lion Air sejak 2014 dan memiliki catatan perilaku baik di lingkungan Lion Air Group.

“Jika yang bersangkutan terbukti sebagai penggunaan narkoba maka akan kami kenakan sanksi sesuai dengan peraturan perusahaan, termasuk pemberhentian sebagai pegawai,” tandasnya. Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan keprihatinannya atas tertangkapnya kapten pilot yang mengonsumsi narkoba.

Dia pun mengancam mem berikan tindakan tegas jika pilot tersebut terbukti. Dia juga tidak segan menjatuhkan sanksi untuk maskapai jika turut terbukti bersalah. Untuk menjatuhkan sanksi, Kemenhub masih menunggu hasil penyelidikan polisi. “Kita akan lihat siapa yang akan kena sanksi, pilotnya atau airline-nya,” ujarnya singkat.

Penangkapan pilot MS bermula dari laporan yang diterima malam oleh Unit Satuan Narkoba Polres Kupang Kota pada Senin (4/12/2017) tentang adanya penyalahgunaan narkoba di salah satu kamar hotel di Kota Kupang. Berdasarkan infor masi tersebut, satuan narkoba bersama penyidik berkoordinasi dengan pihak manajemen hotel tersebut untuk melakukan penangkapan.

Berdasarkan kronologi yang diterima KORAN SINDO dari pihak aparat Polres Kupang, tangkap tangan tersebut terjadi pada Senin (4/12/2017) Desember di Hotel T-More Kupang di kamar 205. Kepala Kepolisian Resor Kupang Kota AKBP Anthon C Nugroho MS mengungkapkan, MS diciduk ketika sedang menggunakan narkoba.

Setelah dilakukan pengetesan, yang bersangkutan diketahui positif menggunakan narkoba jenis sabu. Berdasarkan pengakuan ter sangka, barang haram tersebut dibawa dari tempat asalnya di Tangerang. Selain itu, dalam penggeledahan yang dilakukan, polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa satu paket narkotika jenis sabu, satualatisap, pe man tikgas, sedotan plastik, jarum suntik, satu ponsel, dan satu bo tol miras yang sudah dikonsum si.

“Saat penangkapan dilaku kan, paket sabu yang digunakan tersisa sekitar 0,57 gram dan sisanya sudah dikonsumsi. Berdasarkan pengakuannya, yang bersangkut an baru pertama kali menggunakan narkoba,” katanya.

Polisi, lanjut dia, juga melakukan pemeriksaan terhadap beberapa perempuan di kamar hotel berbeda yang merupakan rekan kerja tersangka atau awak kabin pesawat, tetapi tidak ditemukan melakukan penyalahgunaan narkoba. “Kemudian terkait barang yang lolos dibawa dalam pesawat itu masih kami selidiki dalam pengembangan selanjutnya,” katanya.

Akibat perbuatannya itu, tersangka MS dikenakan Pasal 112 subsider Pasal 127 Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 dengan ancaman hukuman penjara paling singkat empat tahun penjara. MS sendiri diketahui merupakan warga Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Dilingkungan sekitar, MS dikenal sebagai orang terpan dang. Istrinya bahkan jadi ketua RT. “Orangnya royal kepada warga sekitar. Jiwa sosialnya juga sangat tinggi. Kalau punya uang, dia tidak pernah sungkan memberikan bantuan, bahkan tanpa perlu diminta oleh warga,” ungkap Pakde. Pakde merupakan penjual bakso keliling yang sudah puluhan tahun berjualan diperumahan itu.

Dia mengaku sangat kenal pribadi MS. Masa muda MS yang dikenal cukup nakal pun dia tahu. “Orangnya memang nakal. Waktu muda suka mabuk dan minum-minum an keras. Dia juga punya tato di lengan, tetapi baik,” jelasnya. (KORAN SINDO)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com