SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

PENGGUSURAN KIOS TANAMAN HIAS: Taman Kalang Kabut di Jalan Sudirman

  • Reporter:
  • Sabtu, 11 Juli 2020 | 13:48
  • Dibaca : 678 kali
PENGGUSURAN KIOS TANAMAN HIAS: Taman Kalang Kabut di Jalan Sudirman
Rapar Pertahira Batam di salah satu kios tanaman hias di Jalan Sudirman, Kota Batam, pekan ini./ist

BATAM – Penggusuran kios-kios penjual tanaman hias yang ada di Jalan Sudirman Kota Batam menuai polemik. Pelaku usaha cemas usahanya gulung tikar. Surat pemberitahuan dianggap mendadak tanpa solusi mencari-cari tempat baru.

Adalah Surat Peringatan pertama dari Satpol PP Kota Batam yang membuat kalang kabut para pemilik kios tanaman hias yang ada di Jalan Sudirman. Surat diterima pada Rabu (8/7/2020). Informasi surat pemberitahuan itu menyebar cepat ke ratusan pemiliki kios penjual tanaman hias. Termasuk sampai ke pesan Whatsapp Panji S Lingga sehari setelah surat diterima. Panji adalah Ketua Perhimpunan Tanaman Hias dan Holtikultura (Pertahira) Kota Batam, semacam komunitas pengusaha tanaman hias. Komunitas ini menjadi pucuk yang memayungi banyak komunitas di Batam antara lain Agro Hijau, ATM, Perpetanas, Landscape (L&G) dan Holtikultura. Anggota komunitas ini setidaknya mencapai 300 orang, itupun baru yang tercatat di Pertahira.

Sehari setelah surat pemberitahuan diterima, Panji mengundang sejumlah pemilik kios untuk rapat di salah satu kios yang ada di dekat Imperium, Jalan Sudirman, Batam Center. Panji mendengarkan aspirasi pelaku usaha yang resah kiosnya digusur tanpa solusi mencari tempat baru. Setidaknya ada enam kios di lokasi itu yang akan digusur lebih dulu.

Surat pemberitahuan itu meminta pemilik kios di sepanjang Jalan Sudirman segera mengosongkan lokasi. Surat yang ditandatangani Kepala Satpol PP Pemko Batam, Salim, masih sebatas mengimbau lokasi agar dikosongkan dengan batas waktu delapan hari mulai 9 Juli hingga 16 Juli atau sehari setelah surat diterima. Surat itu juga menyebut Pemko Batam akan membangun taman di sepanjang Jalan Sudirman atas tujuan keindahan estetika serta ketertiban kota. Lahan yang ditempati para pemilik kios itu milik pemerintah.

Menurut Panji, pemilik kios keberatan tapi tidak menolak kebijakan Pemko Batam itu. “Hasil rapat, kawan-kawan minta penundaan,” ujar Panji saat ditemui di bilangan Batam Center, Sabtu (11/7/2020).

Resah dikejar imbauan jadwal mengosongi lahan, aspirasi itu dengan cepat disampaikan ke Pemko Batam. Panji membawa enam anggotanya yang terimbas bertemu Kepala Satpol PP, Salim, di kantornya, pada Jumat (10/7/2020). Mereka meminta solusi kepada Satpol PP agar jadwal pengosongan lahan ditambah menjadi setidaknya tiga bulan bukan delapan hari seperti di surat peringatan.

Karena rencana pengggusuran itu, para pemilik kios harus mencari-cari tempat untuk memindahkan banyak tanaman hiasnya beserta pot dan perlengkapan lain. Mereka takut belum sempat memindahkan tanamannya tapi malah digusur. Pedagang diberi waktu delapan hari menurut surat peringatan pertama untuk memindahkan dagangannya namun waktu ini dianggap tidak memadai untuk mengangkut semua. Apalagi mereka kesulitan mendapat lokasi baru. Kalau dipaksa pindah, mereka khawatir akan merusak tanaman hiasnya dan rugi banyak. “Pelaku usaha tanaman hias bukan seperti pedagang kaki lima. Tolong kasih waktu,” harap Panji.

Ketua Pertahira Kota Batam Panji S Lingga./sindobatam.com

Panji menegaskan, mereka tetap mendukung program pemerintah untuk penataan kota asal pelaku usaha ini dicarikan jalan keluar. Mereka juga meminta agar sebaiknya dilibatkan dalam penataan taman kota supaya lestari, tidak seperti yang sudah-sudah. Komunitas ini menyayangkan program taman yang dibangun Pemko Batam sebagai ruang hijau tidak diperhatikan. Malah, kata Panji, belakangan para pelaku usaha tanaman hiaslah yang memprakarasi merawat tanaman-tanaman di pinggir jalan yang ditanam pejabat-pejabat pemerintah itu. Komunitas ini berharap dilibatkan dalam program tata kota lewat taman kota. 

Rencana penggusuran kios tanaman hias di Jalan Sudirman bukan yang pertama. Kios Panji di bilangan Seipanas juga pernah digusur demi membangun jalan. Panji telah menempati taman kios di Seipanas sejak lama ketika era Otorita Batam. Ia akhirnya pindah ke Tembesi tapi mengeluh usahanya tak seramai dulu. Ia mengaku diberikan lahan di Tembesi sebelum kiosnya di Seipanas digusur. 

Panji juga memastikan kios-kios tanaman hias yang menempati row jalan lahan pemerintah itu telah sesuai aturan. Mereka semua mendapat izin dari bagian pertamanan Badan Pengusahaan (BP) Batam meski menurut Panji, ada sebagian kecil yang tidak memperpanjang izin sewa itu kepada empunya lahan. Bahkan, banyak yang memegang izin itu berdasarkan kebijakan ketika era Otorita Batam. “Kami bukannya membuat Batam jadi kumuh, malah jadi lestari. Jadi tolong kami dibina, diajak kerja sama,” ungkap Panji.

Komunitas yang dipimpin Panji sendiri beberapa hari terakhir ini sibuk rapat dengan anggotanya demi mencari jalan keluar. Setelah bertemu Kepala Satpol PP Salim, Panji mengirim pesan kepada Kepala Dinas Bina marga dan Sumber Daya Air Kota Batam, Yumasnur. Mereka minta waktu untuk bertemu Yumasnur untuk membicarakan persoalan rencana pennggusuran karena proyek taman di sana dikerjakan dinas itu. Hingga Sabtu (11/7/2020), komunitas ini masih rapat dengan anggotanya.

 

Risau Buntung setelah Penggusuran

Pot-pot keramik berisi bunga beraneka warna, bonsai, dan banyak tanaman hias tampak berjejer di pinggir Sudirman, kemarin. Ada gerbang yang dihiasi tanaman merambat menyerupai pintu yang terbuat dari tanaman. Ada pula pondok-pondok dan kursi dari kayu di setelah melewati gerbang itu, tempat si pedagang bernaung. Selain tanaman hias, ada juga perlengkapan berkebun, pot-pot unik sampai penghias taman di dalam kios yang seperti taman itu. 

Lokasi ini menjadi salah satu titik yang akan digusur. Mereka menempati row jalan di jalan yang dinamai Jalan Sudirman. Lokasinya tak jauh dari Imperium, semacam bangunan memanjang yang berisi kantor dan kedai-kedai.

Berdasarkan penelusuran Sindobatam.com, lokasi kios yang akan digusur ada di sepanjang pinggir jalan dari Simpang Jam sampai Simpang Kepri Mal. Tapi menurut Pertahira, yang akan digusur sampai ke Simpang Raya. Para pemilik kios ini sesuai izin memang dialokasikan lahan row jalan untuk sementara waktu. Mereka membayar sewa per tahun kepada BP Batam. 

Menurut seorang sumber, pelaku usaha keberatan dengan kebijakan Pemko Batam menggusur kios mereka karena sama sekali tidak diberikan solusi. Apalagi waktu yang diberikan hanya tujuh hari. Mereka juga mendapat kabar Pemko Batam punya proyek taman di lokasi lahan yang akan digusur. Mereka tambah kecewa karena tidak pernah dilibatkan dalam penataan taman. Sementara, selama menempati lokasi itu, pemilik kios tanaman hias justru ikut memperindah, menghijaukan dan melestarikan ruang hijau Kota Batam. .”Kami dianggap ruli (rumah liar). Digusur-gusur tanpa solusi, kerugiannya sangat berat,” sebut sumber itu tanpa mau dituliskan identitasnya.

Sumber itu melanjutkan, sejak Wali Kota Batam-Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, memperlebar jalan-jalan, kelompok tanaman hias menjadi korban penggusuran. Beberapa lokasi yang disebut antara lain di Seipanas dan sepanjang jalan Mitra Raya, Batam Centre. Mereka kesulitan menuruti kebijakan Pemko yang meminta kios dipindah dalam waktu singkat. Sedangkan tanaman hias tidak dengan mudah main pindah saja, apalagi tanaman itu dimiliki banyak kelompok. “Kalau hanya tujuh hari, terus tidak ada lokasi baru, harus pindah bagaimana?,” sambung sumber itu lagi.

Kepala Satpol PP Kota Batam, Salim, menyatakan sudah berdialog dengan Ketua Pertahira Batam, Panji S Lingga dan pemilik kios pada Jumat (10/7/2020) di kantornya. Kepada Pertahira, Salim menjelaskan alasan penggusuran karena Pemko Batam akan membangun taman di sana.

Satpol PP, lanjut dia, diminta oleh Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air untuk memberitahu pemilik kios tanaman hias di sepanjang Jalan Sudirman atau Imperium. Ia lalu melayangkan surat peringatan pertama untuk mengimbau pemilik kios mengosongkan lokasi. Menurut Salim, surat peringatan itu sudah sesuai prosedur dan mekanisme yang berlaku. Mereka memberitahu pemilik kios ihwal proyek taman itu sehingga harus dikosongkan.

Tapi Salim memastikan mereka tidak akan langsung membongkar tanpa pemberitahuan. Apalagi pemilik kios sudah lama menempati lokasi itu dan tidak mengurus perpanjangan izin di sana kepada BP Batam. Salim akan mengirim surat pemberitahuan lagi sebelum digusur sampai surat peringatan ketiga. Terkait lokasi baru untuk kios tanaman hias, Salim menyebut kebijakan itu ada di BP Batam sebagai pemilik lahan.

Kemudian, menurut Salim, pihaknya masih membicarakan permintaan waktu tambahan yang diajukan Perhira. Karena di sisi lain, proyek taman di Jalan Sudirman sudah harus dikerjakan mengingat masuk belanja tahun anggaran 2020. “Enggaklah langsung gusur,” ujar dia. candra gunawan/dicky sigit rakasiwi

 

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com