SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Pengunjung Tak Bisa Parkir Kendaraan, Omzet Mulai Berkurang

  • Reporter:
  • Selasa, 9 Oktober 2018 | 10:37
  • Dibaca : 208 kali
Pengunjung Tak Bisa Parkir Kendaraan, Omzet Mulai Berkurang
Rambu larangan parkir di depan Kompleks Bumi Indah Nagoya, kemarin. Rambu ini dikeluhkan pemilik toko karena pengunjung tak bisa parkir kendaraan mereka. f arrazy aditya

LUBUKBAJA – Pemilik toko di Kompleks Bumi Indah Nagoya mengeluhkan rambu larangan parkir di kawasan tersebut. Rambu larangan ini membuat pengunjung tak bisa memarkirkan kendaraan saat berbelanja. Imbasnya omzet pedagang kini mulai berkurang.

Pantauan SINDO BATAM di Jalan Imam Bonjol, tepatnya dekat lampu merah Simpang Martabak HAR rambu-rambu larangan parkir yang dipasang Dinas Perhubungan (Dishub) berada di sisi kiri dan kanan jalan. Di mana sisi kiri dan kanan jalan berjejer ruko yang menjual barang-barang dagangan.

Keberadaan rambu larang parkir ini menganggu para pemilik toko karena rambu dipasang tepat di depan toko mereka. “Kalau memasang rambu larangan parkir itu boleh, tapi jangan menganggu usaha juga,” kata salah seorang pemilik toko yang tidak mau menyebutkan namanya.

Ia mengatakan, seharusnya pihak Dishub tak hanya memasang rambu larangan saja, namun juga memberikan ruang untuk parkir kendaraan bagi para pembeli dengan memberikan garis putih tanda parkir agar tidak semrawut dan menentukan jumlah kendaraan yang boleh parkir di lokasi tersebut.

“Kami tahu ruko ini dekat dengan lampu merah, tapi kan bisa diakalin dengan memberikan sedikit ruang atau jumlah kendaraan yang bisa parkir di tempat kami ini,” ujarnya.

Salah seorang karyawan toko di kompleks tersebut, Herlina mengaku omzet penjualan menurun saat adanya plang larangan parkir yang dipasang Dishub. Tak adanya tempat parkir membuat para konsumen tidak mau berhenti di kawasan itu.

“Ya berpengaruhlah, karena para pembeli malas berjalan atau pun berhenti karena takut kena derek,” katanya.

Menurut dia, seharusnya pemerintah menyiapkan fasilitas parkir di kawasan tersebut seiring dengan dipasangnya papan larangan parkir tersebut. “Kalau omzet turun, kami pun sering kena marah bos lah bang. Seharusnya pemerintah juga menyiapkan solusi masalah ini. Jangan sesukanya bikin kebijakan sendiri,” ujarnya.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Batam, Edward Purba mengatakan, pemasangan rambu larangan parkir di Kompleks Bumi Indah Nagoya, tepatnya di simpang empat Martabak HAR karena merupakan jalan umum.

“Masalah rambu-rambu larang parkir di simpang empat itu memang rawan macet, karena banyak kendaraan roda empat memarkirkan kendaraan di badan jalan,” ujarnya.

Pemasangan rambu larangan, sambungnya, hanya di Simpang Martabak HAR dan tidak sampai ke depan Hotel Sari Jaya. “Kami hanya memasang rambu-rambu larangan parkir 10 meter dari simpang empat lampu merah, jadi kami tidak menganggu ruko yang berjualan di sana,” ujarnya.

Edward menjelaskan, untuk masalah lahan parkir adalah masalah lain, dan itu bukan masalah pihak Dishub untuk mencari tempat parkir bagi pemilik ruko di area tersebut. “Masalah parkir itu bukan masalah kami, kami hanya menjalankan perintah yang sesuai dengan Perda,” kata Edward.

Ia menambahkan, di lampu merah Simpang empat Nagoya merupakan jalan lalulintas, dan di lokasi tersebut sering terjadi kemacetan karena banyak mobil yang memakan badan jalan, sehingga menganggu penguna jalan. “Tidak ada namanya mobil parkir di badan jalan tepat di lampu merah,” katanya.

Seperti diketahui, Dishub Kota Batam akan melakukan penertiban kendaraan roda empat yang parkir kendaraan sembarangan sejak 1 Oktober lalu sesuai Perda Parkir Nomor 3 tahun 2018. Kendaraan yang melanggar akan diderek dan dibawa ke Kantor Dishub Batam.

Dishub memberikan sanksi tegas kepada pemilik kendaraan yang parkir sembarangan dengan memberikan denda sebesar Rp500 ribu. Denda Rp500 ribu tersebut nantinya untuk upah derek sebesar Rp300 ribu dan denda Rp200 ribu. romi kurniawan

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com