SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Perkuat Jaringan, Tingkatkan Ekonomi Warga Perbatasan

  • Reporter:
  • Rabu, 30 Agustus 2017 | 18:28
  • Dibaca : 226 kali
Perkuat Jaringan, Tingkatkan Ekonomi Warga Perbatasan
Warga Batam menghubungi tekong kapal yangtengah melaut di pelantar kampung nelayan, Kecamatan Galang, Kota Batam, Sabtu (26/8). Kuatnya sinyal Telkomsel membantu warga setempat dalam berkomunikasi meski berada di daerah pelosok. / YURI B TRISNA

Sinyal Telkomsel Hadir hingga Pelosok Indonesia

Kalau tak ada sinyal Telkomsel di pulau-pulau, sungguh kasihan kami ini. Sudah terpencil, terkurung pula. Tak tahu apa-apa terjadi di luar sana.

YURI B TRISNA, Batam

Ghafur (43) tersenyum sumringah. Matanya memandang jauh ke depan, menembus bentangan perairan di gugusan pulau-pulau kecil di seputaran Pulang Abang dan Pulau Nguan, Kecamatan Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Sabtu (19/8) sekira pukul 15.45. Di sampingnya, dua lelaki usia 30-an tampak serius menyiapkan piranti pancing.

Sore itu, matahari bersinar cukup garang. Meski langit terlihat cerah, namun tiupan angin Tenggara berhembus cukup kencang, menghantarkan riak-riak ombak ke dalam kapal pompong bermesin tempel tersebut.

Sudah hampir 20 menit pompong yang dikemudikannya bertolak dari Pelabuhan Pari, titik berangkat kapal. Menurutnya, untuk sampai ke spot pertama, masih membutuhkan sekitar 25 menit lagi. Itu pun jika ombak dan arus air memungkinkan untuk memancing. Jika tidak, maka harus menuju spot kedua yang jaraknya beberapa ratus meter dari spot pertama.

“Arusnya lumayan, mudah-mudahan kita masih bisa turun bandul (timah pemberat),” katanya kepada dua pemuda tersebut.

Suara mesin pompong yang berisik sedikit mereda. Ghafur merogoh kantong celana trainingnya, mengambil telepon seluler dan memandang sekilas sebelum menempelkan ke telinga kirinya dengan tangan kiri. Tangan tangan, tetap menggenggam sebilah kayu sepanjang satu meter yang disambung ke bagian mesin kapal. Kayu itulah yang difungsikan untuk mengarahkan laju pompong.

“Hari ini tak bisa, ini lagi bawa orang. Minggu depan pun sudah di-booking. Awal September, boleh? Ya, ya, oke bos,” ujar pria berpostur tegap itu kepada orang di seberang telepon.

Ghafur memasukkan kembali android warna hitam itu ke saku kiri celananya. Bibirnya masih menggoreskan senyum.

“Ada yang nak mancing, dari Batam,” katanya.

Di kalangan para penghobi mancing di Kota Batam, nama bapak dari tiga anak ini memang sudah cukup dikenal sebagai tekong, orang yang membawa dan memandu pemancing. Seperti kebanyakan masyarakat pulau, sehari-hari ia juga melaut, mencari ikan, sotong dan cumi dengan cara tradisional untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Di wilayah Galang, bukan hanya Ghafur yang menyambi dari nelayan ke tekong kapal pancing. Ada belasan warga Pulau Nguan dan Pulau Abang yang juga kerap dipakai jasanya oleh klub atau para penghobi mancing, seperti Pak Maiti, Ally, Kahar, Kombet dan lainnya. Dan tak payah harus datang ke pulau untuk menghubungi mereka, cukup pencet nomor telepon saja sudah dapat saling bertukar informasi, termasuk negoisasi tarif sewa kapal.

Mudahnya berkomunikasi di kawasan hinterland tersebut, tak lepas dari komitmen PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) menyediakan jaringan telekomunikasi lewat pembangunan Base Transceiver Station (BTS) hingga ke daerah-daerah terpencil, termasuk di Galang dan sekitarnya. Kesungguhan Telkomsel semakin nyata saat perusahaan yang didominasi warna merah ini meluncurkan layanan 4G LTE di Batam, pada 2015 lalu. Layanan tersebut sangat memanjakan pelanggan domestik dan mancanegara di Batam dalam menikmati layanan mobile broadband yang cepat dan stabil.

Kehadiran Telkomsel berbanding lurus dengan keinginan pemerintah, mengangkat perekonomian masyarakat di wilayah perbatasan.

“Kami senanglah, hampir setiap pekan dapat uang dari orang mancing. Sekali turun, bayarnya Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Itu dari sore sampai pagi. Kalau dari pagi ke sore, ongkos lebih murah,” ujarnya.

Dengan tarif sebesar itu, Ghafur dan warga lain yang menjadi tekong dalam sebulan bisa mendapat penghasilan tambahan antara Rp4 juta sampai Rp6 juta, sebelum dipotong biaya bahan bakar dan gaji anak buah kapal. Pendapatan mereka bertambah jika pemancing membeli sotong dan udang untuk umpan. Biasanya, udang hidup dijual Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram. Sedangkan sotong yang sering dipakai untuk umpan mancing di malam hari harganya sekitar Rp70 ribu per kilogram

Terkadang, kata Ghafur, para pemancing juga suka memesan makan malam kepada tekong. Untuk porsi 5-6 orang, rata-rata membayar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu, tergantung menu yang dipesan. Hal ini menjadi pemasukan tambahan pula bagi para istri tekong dan kaum perempuan lainnya di pulau-pulau sekitar Kecamatan Galang.

Ghafur bercerita, ia menjadi tekong kapal pancing bermula sekitar lima tahun silam. Suatu hari, ia ditawari membawa orang mancing di laut Pulau Abang. Kapal kayu berlapis fiber sepanjang 35 kaki yang ia punya, ideal untuk 6 orang pemancing. Ia pun menerima tawaran itu.

Sejak saat itu, tawaran terus berdatangan. Banyak pemancing memintanya membawa mereka turun ke laut Abang dan Petong pada Sabtu sore dan kembali Minggu pagi. Tempat tinggalnya di Pulau Nguan, yang termasuk pulau terpencil dengan jarak tempuh dari pusat Kota Batam sekitar 70 menit perjalanan darat dan 30 menit menggunakan pompong, tak menghalangi Ghafur mendapat job membawa para pencari strike ikan-ikan karang seperti kerapu, kaci-kaci, katarap dan lainnya.

“Nomor handphone saya sudah tersebar di Batam, entah siapa yang kasih ke orang-orang itu. Alhamdulillah, selama bawa orang mancing, tak pernah mereka kecewa,” kata pengguna kartu As ini seraya tertawa.

Apalagi, kini ia leluasa mengunggah foto-foto ikan hasil pancingan pemancing yang dibawanya ke akun media sosial Facebook miliknya. Kapanpun dan dimanapun. Karena itu, tak heran jika namanya banyak dikenal orang.

Tak hanya dari Batam, pengguna jasa Ghafur dan tekong lain di Pulau Abang dan Nguan juga ada yang berasal dari Singapura dan Malaysia. Wajar memang, mengingat posisi Batam yang berada di daerah perbatasan. Jarak Batam ke Singapura hanya sekitar 25 kilometer. Sedangkan dengan Malaysia, sekitar 63 kilometer atau kira-kira 90 menit berlayar dengan feri dari Pelabuhan Internasional Batam ke Pelabuhan Stulang Laut, Johor, Malaysia.

Ghafur mengaku komunikasinya melalui telepon seluler selama ini tak pernah terputus, walau sedang melaut. Setiap saat, ia dapat menghubungi atau dihubungi oleh sanak saudara, sesama nelayan, maupun orang-orang yang baru dikenalnya dari luar daerah.

“Sinyal Telkomsel boleh tahanlah, selama ini lancar. Rezeki pun jadi lancar he-he-he. Kalau tak ada sinyal Telkomsel di pulau-pulau, sungguh kasihan kami ini. Sudah terpencil, terkurung pula. Tak tahu apa-apa terjadi di luar sana,” katanya.

Kuatnya jaringan Telkomsel juga dirasakan manfaatnya oleh Boyke Dali (39). Warga Kota Tanjungpinang ini, tak menemui kendala saat berkomunikasi dengan keluarganya, meski ia terpisah oleh lautan.

Boyke kerap meninggalkan istri dan tiga putrinya karena pekerjannya lebih banyak berada di luar di Ibu Kota Provinsi Kepri itu. Saat ini, ia sedang fokus mengerjakan proyek limpahan dari perusahaan konstruksi, membangun unit sekolah baru dari Dinas Pendidikan Provinsi Kepri di Daik, Kabupaten Lingga.

Jarak antara Tanjungpinang yang berada di Pulau Bintan dengan Pulau Lingga sekitar 155 kilometer. Jika menggunakan feri cepat, waktu tempuh yang harus dijalani antara 5,5 hingga 6 jam. Bukan hanya untuk melepas rindu dengan keluarga, tekhnologi digital yang disediakan Telkomsel juga memudahkan Boyke dalam berkomunikasi dengan para relasi dan pimpinan tempatnya bekerja.
Setiap minggu, ia harus mengirimkan laporan. Dan itu dilakukannya dengan mengunggah foto-foto maupun video hasil kerja melalui aplikasi WhatssApp di telepon pintarnya.

“Untunglah di sini jaringan internet Telkomsel cukup bagus, jadi saya lancar-lancar saja mengirim laporan. Urusan gaji juga ikut lancar,” ujar pria kelahiran Pematang Siantar yang menggunakan sim card SimPATI ini.

Selain di Lingga, Boy juga punya proyek pembangunan gedung di Kabupaten Kepulauan Anambas, provinsi termuda di Kepri yang berada di ujung utara, di tengah-tengah Laut China Selatan. Namun, jauhnya jarak tersebut, tak pernah dipermasalahkannya.

“Alhamdulillah, semua lancar. Kalau proyek yang di Anambas, saya lebih sering mengontrol lewat telepon saja. Kan sekarang sudah canggih, bisa video call. Ada anggota di sana yang mengawasi,” katanya.

Jaringan Telekomunikasi

Sebagai provinsi kepulauan, wilayah Kepri hampir 96 persen terdiri dari lautan. Provinsi ini memiliki sekitar 2.200 pulau besar dan kecil, berpenghuni maupun kosong. Ada sekitar 19 pulau di Kepri yang langsung berbatasan dengan negara Singapura, Malaysia dan Vietnam.

Pemerintah Provinsi Kepri membutuhkan tenaga dan biaya besar untuk membangun daerah ini, karena karakteristiknya yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Untuk merangkai laut dan pulau-pulau tersebut, pemerintah mengimbanginya dengan membuka akses transportasi laut dan udara.

Gubernur Kepri Nurdin Basirun selalu menekankan, bukan hanya akses transportasi, pemerintah harus giat menyediakan jaringan telekomunikasi. Caranya, dengan mengajak provider, membangun BTS di daerah-daerah terpencil, bukan hanya di Batam yang memang sudah jauh lebih maju dibanding daerah lain di Kepri.

Selain untuk peningkatan ekonomi masyarakat, perluasan jaringan telekomunikasi juga bernilai penting guna mendukung dan memperkuat sistem pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Khususnya dalam penindakan terhadap praktik-praktik penyelundupan orang dan barang, serta pencurian ikan oleh nelayan asing.

“Zaman sudah semakin canggih. Saat ini pemerintah dituntut dalam pelayanan berbasis teknologi informatika sistem online. Dan itu membutuhkan internet. Karena itu, jaringan telekomunikasi wajib disediakan,” katanya.

Sampai tahun 2017, Telkomsel sudah membangun 2.200 BTS yang tersebar di seluruh wilayah Kepri. Dari jumlah itu, 340 di antaranya adalah BTS layanan 4G dan sisanya untuk 3G dan 2G.
Secara keseluruhan pelanggan Telkomsel di area Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng) yang meliputi Kepri, Riau, dan Sumatera Barat sebanyak 14 juta pelanggan, dan 2,8 juta pelanggan berada di Kepri.

Kepri terutama Batam merupakan tempat yang bersejarah bagi Telkomsel. Batam memang sangat strategis. Kota ini merupakan gerbang Indonesia di Sumatera, tempat berputarnya berbagai aktivitas industri maupun pariwisata.

Arus keluar masuk pelanggan seluler ke dan dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia cukup tinggi. Dalam setahun ada 70-80 ribu roamers mancanegara yang masuk ke Kepri.

“Telkomsel pertama kali berdiri dan melayani masyarakat Indonesia di tahun 1995 di Kota Batam. Sampai sekarang, dapat menjangkau 99 persen populasi Indonesia,” kata Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah.***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com